
Sementara dikota masih di waktu yang sama, terlihat seisi rumah terkejut melihat kondisi Purwo.
"Ini be..beneran mbok? Bagaimana bisa?" tanya Nining ibunya Purwo
"Benar nyonya, saya juga tidak tahu bagaimana bisa seperti ini." sahut mbok Asih
Mbok Asih berniat untuk membersihkan tubuh Purwo dan Nining yang ingin melihat kondisi Purwo pun mengikuti, namun mereka dikejutkan dengan kondisi Purwo yang berubah dalam satu malam.
Seketika mereka berdua berteriak histeris saking terkejutnya dan membuat semua para abdi dan pengawal datang berhamburan, Purwo yang sedang tertidur pulas pun terganggu. Perlahan Purwo menggeliat, kemudian ia pun terbangun.
Melihat kamarnya yang sudah dipenuhi oleh banyak orang membuat ia juga terkejut dan terduduk seketika, ia meregangkan kedua tangannya.
"Mengapa kalian semua ada disini?" tanya Purwo
Hening tidak ada yang menjawab, semua masih sibuk dengan pikiran masing masing.
"Kamu sudah sembuh nak?" tanya Nining balik
"Sembuh." desis Purwo bingung dengan maksud ibunya
"Luka di wajah kamu sudah mengering." ucap Nining matanya bahkan sudah berkaca kaca
Sontak Purwo terkesiap, kemudian ia meraba wajahnya dengan kedua tangannya. Ia pun merasakan bahwa lukanya sudah mengering, ia juga tidak merasakan sakit.
"A...Aku sembuh." ucap Purwo bahagia
Nining ibunya hanya mengangguk dan memeluk Purwo, tidak terasa air mata mereka pun tumpah.
"Aku sembuh bu." ucap Purwo lagi
"Syukurlah den, ini semua karena non Riana." ucap mbok Asih menimpali
"Riana." gumam Purwo
Seketika wajah Purwo berubah datar, tatapan matanya yang sangat dalam. Entah apa yang dipikirkan olehnya, hanya ia yang tahu.
...****************...
__ADS_1
Diatas bukit, mbok Sri segera berpamitan dengan Riana. Ia takut membuat ibunya Damar menunggu lama dan curiga, lagi pun kusir mereka juga pasti sudah menunggu lama dibawah.
"Wes kalau begitu mbok pergi dulu." ucap mbok Sri setelah membereskan semua kebutuhan Riana
"Mbok sama siapa?" tanya Riana
"Sama Manto."
"Ohh, yowes hati hati yo mbok."
"Iyo."
Setelah berpamitan, mbok Sri segera pergi menuruni bukit.
Butuh waktu lama hingga akhirnya mbok Sri sampai, disana terlihat Manto supir yang sekarang merangkak menjadi kusir pribadi Riaba tengah tidur diatas delman.
"To bangun." ucap mbok Sri seraya mengguncang tubuh Manto
Manto yang merasakan tubuhnya diguncang seketika langsung terbangun, kemudian ia menoleh kesana sini.
"Nyari opo?" tanya mbok Sri
"Tidak ada, wes ayo jalan." sahut mbok Sri yang segera menaiki delman
Kuda pun segera melaju dengan kecepatan sedang, hingga sampai diarea pemukiman warga mbok Sri kembali menutup wajahnya dengan selendang.
Hingga kuda delman melewati rumah majikan nya dulu, sekilas mbok Sri melihat Mahendra yang pergi entah kemana. Namun bukan itu yang menarik perhatian nya, melainkan mbok Sri melihat Damar yang mengikuti Mahendra dari belakang dengan mengendap endap.
"Itu si Damar ngapain yo." gumam mbok Sri pelan hingga Manto yang berada didepan tidak mendengar
"Wes lah, aku harus segera pulang." gumam mbok Sri lagi
Kuda delman pun melaju meninggalkan gapura desa, sementara Damar kini sedang mengikuti Mahendra yang menurutnya mencurigakan.
'Dia mau kemana ya?' batin Damar terus bertanya tanya
Mahendra yang tidak menyadari Damar mengikuti nya langsung saja menemui abangnya dengan santai, hingga Mahendra masuk kedalam sebuah rumah.
__ADS_1
"Ini rumah sopo." gumam Damar
"Aku harus melihat apa yang dilakukan anak itu, bukannya Riana pernah bilang kalau rumah Mahendra didesa Sumbul." ucapnya pelan
Damar segera mengendap endap kearah jendela, kemudian ia segera mengintip dari lubang ventilasi. Betapa terkejutnya ia melihat sosok yang berada didepan Mahendra, sosok pria yang memakai jubah hitam yang pernah mengejar Riana.
"Apa kau sudah menemukan Riana?" tanya Mahendra yang jelas sekali didengar oleh Damar
Karena dinding rumah ini hanya papan membuat siapa saja mendengar pembicaraan mereka, seketika Damar semakin terkejut.
"Riana." gumam Damar
"Apa apaan ini, apa hubungan mereka dengan Riana." Kening Damar sampai bertaut memikirkan masalah ini
"Tidak." sahut pria misterius itu
"Ginanjar Abimana tidak usah berbohong." sentak Mahendra kesal
"Aku tidak berbohong, bahkan Ki Ageng tidak bisa menembus keberadaan wanita itu." sahut pria misterius yang ternyata bernama Ginanjar
Mahendra hanya menatap abangnya dengan tatapan sengit, sementara Ginanjar juga membalas tatapan adiknya.
"Arghhh." teriak Mahendra frustasi
"Ada apa ini, apa kau sudah pernah bertemu dengan wanita itu dan kau jatuh cinta padanya hah. Sampai sampai membuat mu gila seperti ini." ucap Ginanjar menaruh curiga
"Jangan menuduh ku brengsek." sahut Mahendra kesal
"Aku hanya curiga padamu, dengar baik baik aku sama sekali tidak tahu dimana wanita itu." ucap Ginanjar dengan sengit
"Tapi kau sudah menyuruh Ki Ageng untuk mengirimi Riana guna guna." sahut Mahendra tak kalah sengit
"Ki Ageng hanya mampu mengirim saja, namun tidak bisa menembus tempat tinggal wanita itu. Bahkan Ki Ageng tidak mampu menyakiti Riana, kemarin saja Ki Ageng kalah." ucap Ginanjar
Mahendra tidak menjawab, ia hanya pergi dari rumah itu. Sementara Damar masih terpaku ditempatnya, ia tidak habis pikir.
"Apa ini alasan Riana untuk pergi? Tapi, apa hubungan nya dengan mereka? Bukannya Riana dan Mahen dekat." Damar terus bertanya tanya
__ADS_1
Setelah sadar, ia segera pergi meninggalkan rumah itu.