Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Kuntilanak


__ADS_3

Berbeda dengan kediaman mbah Sastro yang dipenuhi segerombolan warga, lain halnya dengan Ginanjar. Kurang lebih tiga minggu lalu paska ia diteror habis habisan oleh demit Ki Ageng dan Barun, keesokan harinya ia harus menerima kenyataan pahit bahwa Mahendra sudah pergi terlebih dahulu.


Awalnya ia merasa kecewa dan marah karena adik satu satunya itu pergi tanpa memberi tahu nya, ia berfikir jika Mahendra sengaja tidak mengajak dirinya ikut serta. Namun ia segera tersadar bahwa Mahendra memang sudah memberi tahu, tapi tetap saja Mahendra tidak mengatakan apa apa saat ia pergi begitu pikir Ginanjar.


Dan paska kejadian itu, teror demi teror terus menghantui Ginanjar. Pernah beberapa kali ia mencoba untuk pergi dari desa menuju kota tempat dimana mereka tinggal dulu, namun selalu saja gagal.


Dia yang ingin pergi namun keesokan harinya tiba tiba demam tinggi, terkadang kakinya pegal sampai tidak bisa digerakkan. Bahkan pernah ia sudah keluar dari gapura desa, namun tersesat alias berjalan disitu situ saja pas sudah sampai ditempat dimana pepohonan menjulang tinggi. Padahal, jalan itu sering dilalui karena hanya jalan itu satu satunya akses menuju luar desa.


Pernah juga Ginanjar mendatangi beberapa dukun yang katanya sakti namun hasilnya nihil, dan sekarang ia harus siap menghadapi teror hantu yang kian menjadi.


"Sial." umpat Ginanjar seraya meringkuk dibalik lemari yang berada didalam kamar


Lagi lagi ia harus melihat penampakan yang mengerikan, namun sepertinya penampakan itu tidak mengijinkan Ginanjar mati terlebih dahulu.


Karena pernah beberapa kali Ginanjar berniat untuk mengakhiri hidupnya namun selalu gagal, dan penampakan itupun tidak pernah melukai Ginanjar sampai berlebihan.


"Pergi." teriak Ginanjar ketakutan


Hihihihihi


Kali ini bukan sosok demit Ki Ageng atau Barun yang menghantui, melainkan sosok wanita berparas manis khas wanita desa yang memiliki rambut sebahu.


Kulit, bibir, bahkan wajahnya sangat pucat bagaikan mayat. Sosok itu menunduk hingga rambutnya yang pendek meluncur kedepan menutupi separuh wajahnya, ia juga memakai pakaian yang terakhir kali ia pakai sebelum seseorang membunuh nya bagaikan binatang.


"Mas, melu aku." ucap sosok itu masih menunduk


(Mas, ikut aku)

__ADS_1


"Pe...pergi setan sialan." ucap Ginanjar berteriak seraya menutup wajah ketakutan


"Melu aku." sosok itu terus mengulangi kalimat yang sama dengan suara yang lembut mendayu


Pertahanan Ginanjar runtuh juga, perlahan ia memberanikan diri menoleh kearah sosok itu. Dapat Ginanjar lihat wanita berambut pendek sebahu tengah menunduk, namun Ginanjar tidak ingin terkecoh.


"Si..siapa kamu?" tanya Ginanjar


"Hayati."


Deg


Jawaban yang singkat, padat, dan jelas itu mampu membuat jantung Ginanjar bertalu talu dengan kuat. Bukan tidak tahu, bahkan Ginanjar sangat tahu siapa itu Hayati.


Sosok gadis desa yang periang yang tidak tahu apa apa harus pasrah kala seseorang yang tidak memiliki hati membunuh nya dengan keji, sontak Ginanjar menggeleng hebat.


"Melu aku." ucap Hayati dengan bibir pucat dan membiru


(Ikut aku)


"Hikh hiks sakit, tolong hiks." ucap sosok itu lagi dengan lirih seraya menangis pilu


"Sakit hiks hiks."


Namun Ginanjar baru menyadari bahwa air mata yang dikeluarkan sosok Hayati adalah air mata darah, bukan darah segar melainkan darah yang sudah kehitaman dan berbau busuk.


Tangisan sosok Hayati semakin kencang dan pilu, sungguh siapapun yang mendengar suara tangisan itu pasti merasa tergugah atau bahkan mungkin juga ikutan menangis.

__ADS_1


Seiring dengan tangisan nya yang semakin kencang, perlahan sosok Hayati pun berubah menjadi menyeramkan. Gadis desa yang tadinya berparas manis kini berubah mengerikan, raut wajahnya hancur dan mengelupas hingga darah kehitaman dan lendir keluar dari wajahnya yang bercampur tanah.


Pakaiannya pun kini berubah menjadi pakaian terusan panjang yang berwarna putih, ah tidak. Baju panjang berwarna putih itu kini berganti menjadi warna kecokelatan, karena sudah tercampur dengan tanah dan darah.


Tampak diperut sosok itu berlubang hingga Ginanjar dapat melihat pintu kamar melalui perut sosok Hayati yang bolong, seketika darah merembes dari perutnya yang berlubang hingga menggenangi lantai papan kamar Ginanjar.


Aroma anyir bercampur bangkai busuk pun menguar memenuhi indra penciuman Ginanjar, hingga tersadar ia segera melompat keatas kasur dan meringkuk.


"Hihihihi." sosok Hayati tertawa menggelegar seolah merasa puas melihat ketakutan Ginanjar


"Ayo ikut aku, aku kesepian hihihihi." ucap sosok yang mengerikan itu seraya tertawa melengking


"Pergi pergi." teriak Ginanjar sampai urat leher menyembul keluar


"Aku kesepian."


"Pergi." ucap Ginanjar seraya melempar barang apa saja yang dapat dijangkau kearah sosok kuntilanak Hayati


"Ayo ikut aku." ucap sosok Hayati seraya mengeram marah


Perlahan kuntilanak itu melayang cepat kearah Ginanjar, sebelum semuanya terasa kabur dan gelap. Yah, Ginanjar pingsan.


"Hihihihi."


Setelah melihat mangsa nya tidak sadarkan diri, sosok kuntilanak itupun segera pergi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2