
Mbah Sastro pun mulai membagikan emas emas miliknya dibantu oleh petinggi desa, beberapa warga pun tampak senang mendapatkan emas itu. Mbah Sastro memberikan masing masing warga sebanyak dua batang, tampak suasana riuh dikarenakan suara warga yang merasa bahagia.
"Wah, iki emas nyata."
"Iyo kang, ora nyana yo."
(Iya kang, tidak menyangka ya.)
"Aku baru pertama melihat emas secara langsung, apakah aku tidak bermimpi?*
"Aku senang tenan."
Berbagai suara riuh tampak terdengar, karena beberapa warga berceloteh sendiri. Sebagian mereka bicara pada yang lain, namun ada dua orang yang tidak menyukai. Tepatnya satu orang berwajah masam sementara yang satu lagi hanya diam, mereka adalah Udin dan Juki.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Pak Lurah
Sontak semua pasang mata menatap kearah mereka berdua, tidak hanya pak lurah atau petinggi desa saja namun semua warga juga merasa bingung. Pasalnya kedua manusia itu tidak mengalami musibah karena mereka tidak memiliki hewan ternak sebab selama ini juga mereka tinggal dikota, namun raut wajah mereka menunjukkan kurang puas. Padahal, mbah Sastro sudah cukup baik membagikan ke semua warga.
"Iki isih kurang." ucap Udin dengan beraninya dan membuat warga terbelalak
(Ini masih kurang.)
__ADS_1
Seketika para warga menatap Udin dan Juki dengan pandangan meremehkan, tidak sedikit juga warga yang mengolok olok mereka. Padahal jika emas itu dijual mereka bisa mendapatkan uang banyak, yang tadinya mempunyai lima ekor kerbau tapi dengan menggunakan emas itu mereka bisa membeli dua puluh ekor kerbau.
"Dasar tidak tahu terimakasih."
"Cih sudah miskin belagu, masih untung mbah Sastro memberi emasnya padahal sampean tidak mengalami musibah."
"Iyo benar itu."
"Sudah mbah Sastro ambil lagi saja emas mereka."
Seketika suasana balai desa diisi dengan suara ricuh warga, tampak jelas warga sangat geram melihat kedua manusia yang serakah itu.
(Ya ini masih kurang, dalam sebulan uangnya juga hilang.)
"Yo jelas hilang wong kamu pake judi atau menghamburkan uang." sahut yang lain
Sementara petinggi desa hanya menggeleng kepala pelan tidak habis pikir dengan dua manusia itu.
"Halah untuk membeli kebutuhan rumah saja ini masih kurang." ucap Udin lagi
"Bahkan uang ini bisa membeli harga dirimu Din." sahut salah satu warga pria
__ADS_1
Dibalai desa memang tidak ada warga wanita, karena mereka diwajibkan untuk menjaga anak. Sementara yang anaknya sudah dewasa atau belum memiliki anak juga diharuskan dirumah, karena hari memang sudah malam dan dinginnya sangat menusuk tulang.
Udin seketika diam tidak bergeming, walaupun ia sudah memberanikan diri tetap saja nyali nya akan ciut sebab ditatap para warga dengan begitu rupa seolah ingin memakan Udin hidup hidup.
"Sudah sudah, ini saya tambahin kebetulan masih ada sisa." ucap mbah Sastro yang sedari tadi diam
Mbah Sastro pun kembali memberikan satu batang emas lagi kepada Udin dan Juki.
"Apa masih ada yang mau menambah?" tanya mbah Sastro
Para warga pun kompak menggeleng tanda tidak.
"Sudah cukup mbah, ini saja sudah banyak uangnya. Bahkan, jika hanya menjual satu batang saja pun pasti sudah lebih dari cukup." sahut salah satu warga yang mewakilkan
Sontak semua warga kembali kompak mengangguk.
"Yasudah, semoga dapat membantu kesusahan kalian." ucap mbah Sastro tersenyum
Tidak terasa malam kian larut, sekitar pukul 22:30 acara pembagian emas pun sudah selesai. Para petinggi pun sudah menjanjikan akan membantu warga dengan membagikan sembako sederhana saja besok pagi, karena desa masih krisis dan untuk berjaga jaga barang kali ada warga yang tidak punya waktu untuk menjual emasnya keesokan harinya.
...****************...
__ADS_1