Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Saling Membantu


__ADS_3

Bughh


Seketika Pangeran Segoro tersentak kaget, ia segera menoleh kebelakang dan melihat seseorang yang menepuk pundaknya dengan kencang sedang cengengesan.


"Ada apa toh Mal, ngagetin saja."


"Lah sampeyan yang kenapa, mosok aku lewat tidak terlihat sama sekali. Memang, lagi lihatin opo toh?" tanya Kemal seraya menoleh kedepan tepat dimana arah pandangan Pangeran Segoro tertuju tadi


Namun nihil, tidak ada apapun yang menarik kecuali warga yang berlalu lalang.


"Tidak ada apa apa, memangnya sampeyan lewat darimana kok tidak kelihatan."


Kemal berdecak pelan seraya memutar bola mata malas.


"Ck ck, sampeyan terlalu asik melamun." sahut Kemal ketus


Pangeran Segoro hanya meringis pelan, bisa bisanya ia mengkhayal kan sesuatu yang mustahil.


"Wes lah, sebaiknya kita susul mbah Sastro saja." ucap Pangeran Segoro


Tanpa menunggu jawaban Kemal, Pangeran Segoro segera pergi meninggalkan Kemal yang masih terpaku.


"Ck ck ck cinta memang merepotkan." ucap Kemal pelan


Kemudian Kemal segera menyusul Pangeran Segoro setelah tidak lupa menutup pintu.


"Lihat saja, setelah wanita itu kembali aku akan menjodohkan nya dengan Mahendra." ucap Kemal setelah berhasil menyusul Pangeran Segoro dan mensejajarkan langkah nya

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Pangeran Segoro semakin kesal, ia segera mempercepat langkah kakinya meninggalkan Kemal yang tertawa cekikikan.


Sesampainya di balai desa ternyata lumayan ramai para warga bergotong royong, hal seperti inilah yang akan dirindukan. Suasana seperti itu tidak akan ditemui ditengah hiruk pikuk kota, suasana di desa sangat asri.


"Nyari mbah Sastro yo le?" tanya salah satu warga wanita paruh baya


"Njih bude." sahut Pangeran Segoro dengan sopan


"Mbah Sastro ada disana." ucap wanita paruh baya itu seraya menunjuk kearah rombongan pria yang sedang menjemur tikar pandan agar bisa digunakan malam nanti


"Njih bude, matur nuwun njih." sahut Pangeran Segoro setelah melihat keberadaan mbah Sastro


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan mengangguk santun, Pangeran Segoro dan Kemal segera menghampiri mbah Sastro. Mbah Sastro sendiri tampak tidak terkejut seolah sudah memprediksi kedatangan mereka, justru mbah Sastro segera mengalihkan pekerjaan nya kepada dua pemuda tampan itu.


Dengan senang hati Pangeran Segoro dan Kemal menerima nya dan melanjutkan pekerjaan mbah Sastro yang tertunda, mereka berdua segera menepuk nepuk tikar itu menggunakan ijuk agar debunya hilang.


"Panas tenan huh." ucap Kemal yang langsung berkeringat


(Panas banget ya)


"Mung iki Mal." sahut Pangeran Segoro


(Baru segini Mal)


Mereka segera melanjutkan pekerjaan nya dengan cepat, setelah selesai tikar pandan itu kembali mereka gulung dan menaruhnya didalam balai desa. Kemudian segera mereka duduk bersama mbah Sastro dan rombongan mang Kurdi, mereka kemudian bersantai menghilangkan penat sejenak.


"Sudah selesai?" tanya mbah Sastro

__ADS_1


"Sampun mbah." Kemal yang menjawab


(Sudah mbah)


Mbah Sastro mengangguk pelan, tidak lama datang salah satu warga wanita paruh baya yang membawa nampan berisi kopi hitam. Kopi hitam itu segera dibagikan kepada lelaki yang berada didalam balai desa, ataupun diluar.


"Silahkan diminum." ucap wanita paruh baya itu dengan santun


"Matur nuwun nduk." sahut mbah Sastro


"Njih, sami sami mbah."


Kemal segera meraih gelas yang terbuat dari seng itu, kemudian meniup pelan karena kopi hitam itu masih mengepulkan asap pertanda masih panas.


Fiuh fiuh fiuh


Sruppp srupp


Kemal segera menyeruput pelan pelan kopi miliknya, setelah dirasa dahaga nya telah terobati kembali Kemal menaruh gelas itu dibawah dekat kakinya.


"Kopinya tidak seenak kopi buatan mbah Sastro." celutuk Kemal yang membuat Pangeran Segoro geli


"Hus tidak baik bicara seperti itu le, nikmati saja dan syukuri." ucap mbah Sastro


Tidak berbohong, apa yang dikatakan Kemal memang benar. Dari sekian banyak kopi hitam yang ia nikmati hanya kopi buatan mbah Sastro yang paling enak, bagaimana tidak? Kopi buatan mbah Sastro dicampur dengan melati sehingga membuat kopi itu wangi dan enak diminum, belum lagi bubuk kopi itu diolah sendiri dengan sedemikian rupa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2