Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Emosi


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah membersihkan diri aku dan mbok Sri lekas sarapan bersama. Selama sarapan tidak ada yang berbicara, karena memang itu yang diajarkan oleh bapak dulu.


Setelah selesai sarapan aku lekas membantu mbok Sri membersihkan peralatan makan kami, setelah itu kami duduk di ruang tamu.


"Kamu semalam habis dari mana saja nduk?" tanya mbok Sri


Memang setelah pulang semalam aku tidak mengatakan apapun pada mbok Sri, karena semalam setelah sampai rumah aku tidak menemukan mbok mungkin ia sudah tidur.


"Desa Sukar mbok." sahutku singkat


Seketika mbok Sri sedikit terkejut, setelah nya ia hanya mengangguk. Ia memang tau apa yang kulakukan di desa itu, pastinya hanya membalaskan dendam.


"Tapi mbok, aku punya kabar yang mungkin membuat mbok terkejut." ucapku lagi


"Apa nduk?" tanya mbok Sri seraya mengerutkan kening nya


"Ternyata selama ini juragan Karno membohongi kita."


"Bohong seperti apa?"


"Mas Purwo ternyata masih hidup mbok, aku melihat nya semalam."


Seketika mbok Sri sangat terkejut, saking terkejutnya ia sampai sampai tersedak oleh ludah sendiri.


"Kamu serius nduk?" tanya nya memastikan dengan mata melotot kearahku


Aku hanya mengangguk membenarkan.


"Terus pie toh?" ucap mbok Sri khawatir


"Tidak usah cemas mbok, sepertinya aku punya ide." sahutku seraya tersenyum penuh arti


"Maksud kamu opo toh?"


"Aku akan memasuki keluarga itu lagi mbok, tapi setelah aku menyingkirkan juragan Karno dulu. Setelah itu, aku akan membuat mas Purwo menderita sebelum kematiannya." sahutku tersenyum miring


"Kamu wes jangan macam macam nduk, nanti kalau kamu memasuki rumah nya terus kamu kenapa kenapa pie? Mbok teh cemas." ucap mbok Sri sangat kelihatan khawatir


"Mbok tenang saja, aku tidak akan kenapa kenapa mbok doakan saja." sahutku seraya menggenggam tangan mbok Sri


Meski berat tapi mbok Sri setuju juga.


"Baiklah, kamu hati hati mbok akan selalu doakan kamu." ucapnya mengangguk


"Yaampun mbok, lagian ini masih lama. Aku harus menyingkirkan juragan Karno dulu, sementara pengawal nya saja belum beres semua." sahutku seraya terkekeh pelan


"Yo buat jaga jaga toh." ucap mbok Sri ketus


Aku hanya menggelengkan kepala pelan seraya tersenyum melihat tingkah mbok Sri.


...****************...


Setelah hari mulai siang aku berniat untuk mencari udara segar, aku lekas mengambil caping dan selendang ku. Setelah memakai nya, aku lekas keluar namun di ruang tamu aku melihat mbok Sri.


"Kamu mau kemana nduk?" tanya mbok Sri yang juga melihatku


"Jalan jalan saja mbok, aku bosan disini terus." sahutku


"Yo wes, kamu hati hati."


"Nggeh mbok."

__ADS_1


Lekas aku bejalan dan membuka pintu.


Krieettt


Bunyi derit pintu yang terkesan dengan suara horor


Brakk


Aku kembali menutup pintu, kemudian aku pergi ke Desa Ketang. Entah mengapa tiba tiba aku sangat ingin ke danau biasa yang kami kunjungi bersama mas Damar, danau yang sudah menjadi tempat favorit kami.


Aku menggunakan kekuatan ku dengan melesat cepat, hingga tidak membutuhkan waktu lama aku sudah sampai. Aku berjalan kearah danau, tempat ini tidak berubah malahan semakin indah saja.


Disaat aku sudah hampir sampai betapa terkejut nya aku melihat pemandangan didepan ku, aku melihat mas Damar dengan wanita lain.


Wanita cantik yang aku tau ia adalah putri dari mang Kurdi pekerja di kebun bapak yang bernama Sekar, aku pernah bertemu dengan nya sekali dia semakin cantik.


Mereka terlihat akrab bahkan mesra, seakan akan mereka adalah sepasang kekasih. Aku tidak mempermasalahkan itu, masalahnya kenapa Damar membawa nya ketempat ini.


Padahal dulu aku sudah mengatakan pada Damar kalau aku tidak suka jika ada orang lain yang mendatangi tempat favorit kami, apalagi kekasih nya yang baru dan ia menyanggupi.


Namun sekarang? Lihat lah.


Aku tidak kuat melihat kemesraan mereka, aku merasakan sakit dihati. Tiba tiba aku merasakan sesak, hawa panas tiba tiba menyergap hingga membuatku kesulitan bernafas.


Aku menekan kuat dada untuk menghilangkan nyeri, sungguh ini sakit sekali. Aku tidak mengerti, aku menginginkan ia menjauh tapi setelah ia menjauh aku merasakan kesakitan luar biasa.


Aku mencintai nya sungguh, namun aku tidak mungkin egois menahannya karena kami tidak akan bisa menyatu. Namun, ah ini benar benar sakit.


Aku lekas melesat dengan cepat, seraya menekan dadaku. Aku tiba tiba merasakan amarah dan emosi yang memuncak, arghhh aku benar benar tidak bisa mengendalikan emosi ku.


Beberapa pohon sudah berjatuhan karena ulahku, namun emosi ku bukan berkurang malah semakin menjadi jadi. Mataku sudah menggelap, aku lekas melesat tanpa arah hingga aku sampai ke desa Sukar.


Setelah sampai aku semakin emosi, saking marah nya wajahku sudah memerah, mataku sudah menghitam pekat, aku menggertakkan rahangku.


Wah bagaikan tau apa yang merasuki ku, nestapa mengirimkan ketiga kurcaci untuk pelampiasan ku. Aku memperhatikan sekitar sepi, karna ini masih dijalan bukan di perumahan.


Karna amarahku sudah menjadi, melihat mas Damar dan melihat antek musuhku didepan mata. Lekas aku menghajar mereka, aku menendang punggung mereka bertiga sekaligus. Posisi mereka yang membelakangi ku, memudahkan ku.


Bughhh


Bugh


Bughhh


Sekali tendangan yang bersarang di punggung mereka masing masing, membuat mereka bertiga terjungkal kedepan.


"Arghhh." teriak mereka


Lekas mereka bertiga berdiri dan melihat ku.


"Ka...kau siapa hah." sentak Basuki


Karna emosiku semakin menjadi saja, tanpa memedulikan mereka lekas aku kembali melompat tinggi. Disaat mereka masih terpaku, lekas aku menukik cepat dan menghantam dada mereka bertiga.


Bughh


Bughhh


Bughhhh


Sekali tendangan mampu membuat mereka terjungkal kebelakang, dan membuat mulut mereka mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Arghhhh." teriak mereka bersamaan


"Sialan." ucap Basuki


Mereka lekas berdiri sempoyongan, seraya menunjuk kearahhku.


"Siapa kau hah." ucap Basuki lagi


"Berani berani nya kau." ucap Udin menggelegar


Sementara Bahar, hanya menatapku penuh kemarahan. Melihat mereka yang seperti itu semakin menyulut emosi ku, lekas mereka bertiga berjalan menghampiri ku.


Mereka bertiga mengelilingi ku, setelah itu mereka serempak mengeluarkan golok dari balik baju masing masing. Aku juga lekas mengambil kerisku, karena aku sudah tidak ingin main main.


Mereka secara bersamaan hendak mengeroyok ku, lekas aku melompat tinggi dan keluar dari lingkaran yang mereka buat.


Karna posisiku dibelakang Basuki, lekas aku menendang punggung kuat.


Bughhh


"Arghh."


Basuki terpental membentur Udin, karna posisi Udin ada didepan Basuki. Mereka pun terjungkal berdua, aku berjalan mendekati mereka.


Bahar yang masih berdiri sudah mengambil sikap kuda kuda hendak menyerang ku, aku hanya menatap nya dingin tanpa ekspresi.


Aku masih memperhatikan Basuki dan Udin yang kepayahan berdiri, kemudian aku kembali menoleh kearah Bahar yang sudah siap hendak menerjang ku.


Lekas ia berlari dan melompat seraya mengacungkan golok miliknya, dengan cepat aku mengelak dengan minggir kesamping. Seketika hantaman nya pun melesat, disaat ia masih mengatur nafas.


Lekas aku berlari dan menghunuskan kerisku kearah perut nya dan.


Wwushhhh


"Arghhhh." Bahar berteriak kencang


Sontak teriakan nya membuat kedua temannya itu terkejut bukan main, untung saja disini sepi. Karna jalan disini masih dikelilingi oleh semak belukar, jadi tidak akan ada yang mendengar.


Karna keris milikku memang beracun membuat Bahar seketika meregang nyawa, kemudian aku mencabut kerisku lagi. Seketika melihat temannya sudah terbujur kaku, Basuki dan Udin pun emosi.


Melihat mereka yang sudah lemas, memudahkan ku untuk menyerang nya. Mereka kemudian mendekati ku, seraya mengacungkan golok.


"Berani sekali kau anak muda." ucap Basuki dengan mata melotot tajam


Namun seperti biasa, aku hanya diam tak bergeming. Bahkan, sorot wajahku terlihat dingin, dan datar tanpa ekspresi sama sekali.


Muak bermain main, lekas aku menerjang mereka berdua. Disaat mereka masih berjalan, dengan cepat aku melompat tinggi dan menendang dada mereka.


Bughhh


Bughhh


Seketika mereka terpental, dengan gerak cepat lekas aku menarik kerah baju Basuki hingga ia berdiri. Kemudian aku mencekik leher nya tinggi, sehingga ia terangkat bahkan tidak memijak tanah.


Kemudian dengan menggunakan kekuatan ku, lekas aku melempar Bauski keatas pohon. Kebetulan disini banyak pohon yang banyak cabang dengan tajam, sehingga tubuh Basuki tertusuk cabang ranting.


Dengan posisi membelakangi pohon, sehingga ranting tersebut menusuk punggung Basuki hingga tembus keperut membuat tubuhnya tersangkut.


Melihat kedua temannya meninggal, seketika membuat Udin gemetar karna ketakutan. Lekas ia berdiri hendak berlari, namun belum sempat ia berlari aku lekas melesatkan kerisku sehingga menusuk punggung Udin.


Dan tidak membutuhkan waktu lama, ia pun menyusul temannya.

__ADS_1


Setelah itu, aku kembali pulang.


__ADS_2