
Pagi hari kembali menyapa, suara burung burung yang berterbangan dari satu dahan pohon ke pohon yang lain menambah suasana damai di desa Ketang. Ditambah beberapa warga pria paruh baya sedang berdiri dihalaman rumah memberi ternak ayam mereka dengan jagung, namun siapa sangka jika desa Ketang adalah desa yang menyeramkan.
Pagi pagi sekali sebuah rumah yang ditinggali mbah Sastro sudah dipenuhi dengan suara teriakan kepanikan dari penghuni nya, tampak tangis wanita paruh baya terdengar pilu meratapi tubuh suaminya yang kembali kejang kejang.
"Mbah." ucap Kemal memanggil mbah Sastro yang masih berada didalam kamar
Tidak sabar, Kemal segera berdiri dan mengedor pintu kamar mbah Sastro karena panik. Sampai mbah Bayan yang berada dikamar sebelah atau kamar milik Pangeran Segoro segera membuka pintu karena merasa terganggu, dapat mbah Bayan lihat raut wajah Kemal menunjukkan ketakutan.
"Ada apa?" tanya mbah Bayan dengan suara serak khas pria sepuh bangun tidur
"Udin dan Juki mbah." sahut Kemal panik
Tanpa menunggu lama, mbah Bayan segera ke ruang tengah tempat dimana Udin dan Juki dibaringkan. Sementara Kemal kembali mengedor pintu kamar mbah Sastro, karena pemiliknya belum kunjung keluar.
__ADS_1
Brak brak brak
"Mbah!" seru Kemal
Tidak berselang lama, tampak terdengar suara pergerakan dari dalam kamar mbah Sastro. Hingga tidak lama, pintu pun dibuka lebar.
Tampak mbah Sastro muncul dengan mata merah seperti menahan kantuk membuat Kemal meringis merasa bersalah, namun ia merasa tidak memiliki pilihan lain.
Mulut Kemal terbuka hendak mengatakan tujuannya, namun belum sempat bicara mbah Sastro segera melengos pergi. Namun baru tiga langkah berjalan mbah Sastro kembali berhenti, kemudian ia menoleh kearah Kemal.
Tidak ada ruangan khusus dirumah Pangeran Segoro, ruang keluarga, ruang tamu, ruang tengah, dan ruangan lainnya adalah satu kecuali dapur karena rumah milik Pangeran Segoro sangat sederhana seperti rumah di desa pada umumnya.
Mbah Sastro segera duduk disamping tubuh Juki, kemudian mbah Sastro membacakan ayat suci dengan khusyuk diikuti oleh penghuni rumah itu.
__ADS_1
Namun tubuh mereka kian mengejang hebat, mata mereka melotot menatap langit langit rumah. Tampak dada sampai perut mereka membusung keatas, hingga tiba tiba Kemal sudah berdiri disamping mbah Sastro seraya menyodorkan gelas bambu yang berisi air.
Mbah Sastro segera meraih gelas itu kemudian ia membaca sesuatu tanpa suara, hingga mbah Sastro meniup air itu sebanyak tiga kali.
Lekas mbah Sastro meminum kan air itu dibantu oleh mang Kurdi yang menyangga kepala Juki agar air yang diminumkan masuk kedalam mulut, begitu juga dengan Udin. Perlahan mereka kembali tenang, tampak tubuh Udin dan Juki sudah kembali tenang.
Namun tidak lama, karena darah segar terlihat mengalir deras dari hidung dan mulut. Bukan muntah darah, hanya darah mengalir saja yang membuat mbah Sastro panik. Karena jika hanya muntah darah itu artinya pertanda baik, karena mereka sudah memuntahkan bala.
"Bagaimana ini mbah?" tanya mbah Bayan yang sedikit banyak tahu
Sementara istri Udin semakin terisak, sedangkan anaknya yang merasa ketakutan melihat ibunya menangis pun ikutan menangis.
Hingga hanya beberapa menit saja, rumah mbah Sastro sudah dipadati oleh warga yang berdesak desakan ingin tahu apa yang terjadi sebab mendengar suara tangisan.
__ADS_1
Namun tampaknya Nyi Danuwati masih ingin bermain main sebelum mendapatkan mangsa baru, terbukti Udin dan Juki kembali tenang seperti orang tertidur. Jika bukan karena nafas mereka yang naik turun secara teratur, penghuni rumah itu mungkin saja tidak percaya.
...****************...