Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Siapa Yang Melakukan Ini


__ADS_3

POV Purwo


Sudah berhari hari berlalu paska tragedi mencekam waktu itu, syukurlah bahwa aku masih selamat. Namun setelah aku keluar dari rumah sakit kota aku tidak pernah bertemu dengan Riana, aku menanyakan ini pada bapak namun bapak mengatakan bahwa Riana sudah menceraikan ku.


Sementara ibu, semenjak kejadian tragedi berdarah itu memutuskan untuk pergi dari desa ini menenangkan diri ke kota. Memang kami mempunyai satu rumah di kota, hanya untuk berjaga jaga jika sewaktu waktu kami ke kota.


Aku pernah mendatangi desa Ketang untuk menemui Riana, namun yang aku temukan hanyalah puing puing sisa rumah yang terbakar. Aku menanyakan ini pada beberapa warga, dan menurut pengakuan warga memang waktu itu terjadi keributan sehingga menyebabkan rumah terbakar.


Aku kembali menanyakan keluarga lurah Pramono, namun jawaban warga membuat ku tercengang. Menurut mereka, keluarga lurah Pramono sudah tiada akibat ada seseorang yang mengirim teluh kepada mereka.


"Harjo." teriakku menggelegar


Seketika pria bertubuh kekar dan bertampang sangar lari menghampiri ku.


"I...Iyaa tuan." sahutnya menunduk


"Bagaimana, apa kau dan anak buahmu sudah mencari keberadaan bapak?" tanya ku dengan sorot mata tajam


"Su...Sudah tuan, namun tidak ketemu." sahutnya


"Arghhhh." teriak ku


Aku pun mengibaskan tanganku, pertanda menyuruh ia pergi. Setelah Harjo pergi, aku lekas masuk kedalam kamarku.


Krieettt


Brakkkk


Aku membuka dan menutup pintu dengan kencang, memang semalam bapak pamit pergi ke sebuah bukit sana untuk mencari tau sesuatu.


Bapak mengatakan bahwa ada yang janggal dengan kematian semua anak buahnya, bapak tidak percaya itu adalah sebuah kecelakaan karna setiap hari anak buah bapak berjatuhan.


Bahkan para warga disini sudah mulai menuduh yang bukan bukan, mereka mengatakan bahwa kami melakukan pesugihan dan menumbalkan semua pengawal kami.


Kami sudah menjelaskan bahwa kami tidak melakukan itu, namun para warga tidak mempercayai ucapan kami.


Tidak ingin berlama lama menunggu yang tidak jelas disini, aku berniat untuk mencari bapak saja. Lekas aku bersiap siap dan membuka pintu kamar.

__ADS_1


Cklekk


Kriettt


Pintu terbuka lebar dan segera aku keluar, belum sempat menutup pintu aku melihat mbok Asih abdi rumah ini lewat lekas aku memanggil nya.


(Abdi/Pembantu/ART)


"Mbokk." ucapku berteriak


Seketika mbok Asih menoleh, dan berjalan dengan tergesa gesa menghampiri ku.


"Iyaa a..ada apa tuan." sahutnya gugup


"Suruh Harjo dan anak buah nya bersiap siap, kami akan segera mencari bapak." ucapku


"Ngeh, baik tuan." sahutnya seraya setengah membungkuk


Kemudian mbok Asih pun lekas pergi keluar untuk memerintahkan Harjo dan anak buah nya, aku pun segera menutup pintu yang masih terbuka.


Brakkk


"Sudah siap semua tuan, apa kita mencari sekarang?" tanya Harjo


Aku hanya mengangguk pelan, dan naik keatas kuda delman. Disini belum ada kendaraan apapun, hanya ada sepeda dan kuda. Itu juga hanya orang orang kaya yang mempunyai kuda, jika warga biasa hanya menggunakan sepeda.


Kuda pun melaju kencang untuk keluar dari desa ini, sepanjang jalan aku terus memperhatikan sekitar siapa tau saja bapak ada disana.


Beberapa warga yang lalu lalang sudah kami tanyai, namun tidak ada yang tau tidak jarang juga kami berhenti di rumah warga hanya untuk menanyakan bapak.


Sudah lama aku berada diatas kuda, rasanya punggung ku sudah sangat lelah sekali. Namun tiba tiba kuda diberhentikan, dan aku melihat Harjo berlari menghampiri ku.


"Ada apa?" tanya ku sinis


"Kami melihat ada tali kekang kuda didepan sana tuan. Namun, kuda nya tidak ada." ucap Harjo


Aku yang penasaran ikut turun dari kuda delman, dan berjalan mengikuti Harjo dari belakang. Sesampainya ditempat yang ditujukan, benar saja aku melihat ada tali kekang kuda disana.

__ADS_1


Bahkan warnanya sama persis seperti milik bapak, namun aku tidak mau menduga duga dulu. Disekitar sana aku melihat ada jurang, entah mengapa aku tergerak menuju kesana.


Lekas aku berdiri dan berjalan kearah jurang, Harjo yang melihatku seketika bertanya.


"Tuan mau kemana, disana sudah tidak ada jalan lagi tuan hanya ada jurang." ucapnya


Namun aku tidak mengindahkan ucapan nya, aku terus saja berjalan kearah jurang itu. Sesampainya di pinggiran jurang seketika mataku terbelalak, aku sangat terkejut kala melihat kebawah sana.


Tanpa sadar aku memegang dadaku, seketika aku merasakan hawa panas menjalari tubuhku. Harjo beserta anak buahnya yang melihat gelagatku yang aneh lekas menghampiri, sesampainya mereka di dekat ku mereka langsung melihat kearah jurang mengikuti arah pandangan ku.


Seketika mereka semua ikut terkejut, memang jurang ini lumayan tinggi. Namun jika ada seseorang dibawah sana masih terlihat, kami semua melihat bahwa bapak ada dibawah sana tergeletak.


Aku langsung menyuruh beberapa anak buahku untuk turun langsung guna mengecek kondisi bapak.


"Kalian sekarang turun lah." ucapku kasar


Seketika wajah mereka pucat pasi, namun mereka tidak berani membantah ku dan langsung turun kebawah jurang sana.


"Ba...Baik tuan." sahut mereka


Seketika mereka langsung turun kebawah, butuh waktu lama sehingga mereka kembali naik keatas seraya menggotong tubuh bapak.


Sesampainya diatas, aku langsung mengecek kondisi bapak yang sudah terbujur kaku. Mulai dari mendekatkan jari telunjuk ku dibawah hidung bapak, mengecek denyut nadi bapak, sampai mendengarkan detak jantung nya.


Namun tidak ada tanda tanda kehidupan disana, seketika aku berteriak histeris.


"Hiks hikkss hikss bapak, mengapa bapak pergi secepat ini." ucapku frustasi disela isakan tangis ku.


Aku memeluk tubuh bapak yang sudah terbujur kaku.


"Katakan padaku pak, siapa yang melakukan ini aku akan membalasnya jauh lebih sakit." ucapku


"Aku pastikan akan menemukan pelaku nya pak, dan membalasnya." ucapku lagi


Setelah puas, aku menyuruh anak buah ku untuk menggotong bapak kerumah dan menyiapkan semuanya. Tidak lupa juga aku menyuruh Harjo untuk mengabari ibuku, dan memanggil mantri dan pamong desa.


Setelah itu, kami segera pergi dari tempat ini.

__ADS_1


Tanpa ada yang menyadari, bahwa sedari tadi ada yang terus memantau mereka dengan sorotan mata tajam wajah yang dingin tanpa ekspresi dibalik semak semak yang rimbun.


__ADS_2