
Keesokan harinya, setelah sarapan aku pergi ke kebun untuk melihat sekitar karna aku bosan sendirian di rumah mas Damar. Bapak sama mas Damar pergi ke kebun, sementara bude Ratna dan mbok Sri ke pasar, sedangkan ibu dan eyang pergi bersama Hayati ntah kemana.
Sesampainya di kebun, aku melihat mas Damar dan lekas aku menemui nya.
"Mas Damar." teriak ku
Seketika mas Damar menoleh, pria tegap dan kekar itu tersenyum menatapku.
"Dek Riana, kamu ngapain kesini?" tanya nya
"Aku bosan di rumah sendiri mas, jadi aku kesini bolehkan." sahutku
"Loh ya boleh toh, ini kan kebun milik keluarga kamu." ucapnya seraya terkekeh
Aku hanya membalas kekehan mas Damar, seraya menggaruk kepala yang tidak gatal. Tidak lama, bapak pun datang.
"Loh kamu kenapa disini nduk?" tanya bapak
"Eh.. Riana hanya bosan saja pak." ucapku
"Kamu sendiri datang kesini?" tanya bapak lagi
"Eummm... Iya pak." sahutku
Bapak kembali menoleh ke mas Damar.
"Damar, kamu cek perkebunan di desa Sumbul ya." ucap bapak
"Baik pak lurah." sahut mas Damar
"Aku ikut." timpalku langsung
Bapak hanya tersenyum melihat tingkahku, dan mengangguk.
"Baiklah, Damar ajak Riana bersamamu." ucap bapak
"Nggeh pak lurah." sahut mas Damar
Kami pun berjalan menuju sepeda mas Damar yang di parkirkan di samping gubuk, mas Damar segera mengambil sepeda nya. Aku pun naik di boncengan mas Damar, mas Damar lekas mengayuh sepedanya.
"Mas." ucapku membuka suara
"Hmmm." gumam nya
__ADS_1
"Tidak ada kok mas, tidak jadi." ucapku sebenarnya aku bingung ingin mengatakan apa
Seketika mas Damar menghentikan sepeda nya dan menatapku gemas, mas Damar pun mengusap dan mengacak acak rambutku pelan. Kemudian, melajukan kembali sepedanya.
...****************...
Setelah menyelesaikan urusan kebun, dan hari sudah sore kami pun pulang. Sebelum pulang, aku ingin mengajak mas Damar ke tempat yang biasa kami kunjungi. Yaitu sungai yang lumayan besar, yang dipenuhi oleh bunga bunga dan pemandangan indah aku menamai nya danau.
"Mas Damar." ucapku
"Kenapa?" tanya nya seraya menoleh ke belakang sekilas
"Sebelum pulang kita ke danau dulu boleh tidak, aku sudah kangen kesana." ucapku
Seketika mas Damar menghentikan sepeda nya, dan menatapku dengan sendu. Setelah diam sejenak, akhirnya mas Damar mengangguk setuju.
"Baiklah ayo." ucapnya
Setelah sampai di danau, aku lekas turun dari sepeda dan berlari ke arah danau tanpa menunggu mas Damar. Aku berjalan jalan sembari menikmati pemandangan ini, sudah lama sepertinya aku tidak kesini terakhir setahun yang lalu bersama mas Damar.
Setelah puas berjalan jalan, aku pun duduk di pinggir danau sementara kaki aku masukkan ke dalam danau sembari menikmati pemandangan di depan sana.
Mas Damar pun datang dan duduk di samping ku, dengan kakinya di masukkan ke dalam danau. Mas Damar menatapku, dan aku membalas menatap nya. Mas Damar memetik bunga Kamboja yang ada di dekatnya, kemudian ia mengaitkan bunga itu ke telinga ku.
Seketika aku tersenyum semringah, detik kemudian kami tertawa bersama.
"Mas." ucapku seraya menatap matanya lekat
Mas Damar menatapku seraya menaikkan kedua alis nya.
"Apa mas Damar masih mencintai Riana?" tanyaku sendu
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanyanya balik
"Jawab saja mas, apa mas masih cinta sama aku? Aku sudah jadi janda, mungkin saja mas Damar tidak cinta lagi karna status ku yang sudah janda." ucapku menunduk
"Kamu mau tau jawabannya?" tanya mas Damar seraya menatapku dengan lekat
Aku mengangguk, seketika mas Damar mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kemudian, ia mengecup pipi ku singkat.
"Mas tetap mencintai kamu apapun keadaannya." ucap mas Damar seraya tersenyum
Kemudian ia menjauhkan wajahnya dan menatap lurus kedepan, 'Ah apa yang kupikirkan, kukira ia akan mengecup ah sudahlah.' batinku wajahku sudah merah padam
__ADS_1
"Kamu kenapa, kamu sakit? Wajah kamu merah sekali." tanya mas Damar cemas
Aku hanya menggeleng pelan.
"Kamu yang buat wajahku merah begini mas" gumamku pelan tapi masih kedengaran olehnya
"Maksudnya?" tanya nya seraya mengerutkan kening
"Tidak ada, sebaiknya kita pulang mas ini sudah terlalu sore." ucapku mengalihkan pembicaraan, setidaknya aku tau bahwa mas Damar masih mencintaiku.
"Yasudah ayo." ucap mas Damar mengangguk, dan mengulurkan tangan nya aku menerima uluran tangan nya.
Kami berjalan gandengan menuju sepeda, setelah aku naik di boncengan mas Damar ia lekas menjalankan sepedanya. Aku sungguh sangat bahagia hari ini, aku berharap ini adalah awal kebahagiaan ku bukan kehancuran ku seperti yang dikatakan oleh eyang.
...****************...
Setelah sampai di depan rumah mas Damar, kami melihat semua sudah berkumpul menunggu kami.
"Akhirnya kalian sampai juga, wes sana mandi biar kita makan malam." ucap mbok Sri
"Mandi? Kami mandi?" tanyaku memastikan
"Ya iyo toh, sana kalian mandi." ucap bude Ratna menimpali
Seketika aku tersenyum lebar, sehingga menampilkan deretan gigiku yang putih.
"Kamu kenapa nduk?" tanya ibuku bingung semua juga keheranan melihat ku
"Sumur nya kan cuma satu bu, kalau Riana sama mas Damar mandi itu artinya Riana mandi berdua sama mas Damar dong." ucapku dengan genit
Detik kemudian aku langsung berlari, karna ibu ingin memukul ku.
"Dasar bocah nakal." teriak ibuku
Semua orang tertawa melihat tingkahku, aku berhenti sesaat dan menoleh ke belakang.
"Mas Damar ayo mandi, kenapa masih disitu." ucapku
Seketika ibu melotot kearah ku, sedangkan mas Damar hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Kamu mandi duluan saja, Damar belakangan." ucap bude Ratna seraya tersenyum
"Baiklah." ucapku seraya berlalu ke sumur
__ADS_1
...****************...