
Hingga malam harinya, seluruh warga desa Ketang merasa seperti diteror habis habisan. Bunyi seperti kuda berjalan terus menghiasi kesunyian malam di ganteng rumah masing masing para warga, ada pula suara seperti orang menyapu diluar.
"Duh, ono opo iki pak?" tanya wanita paruh baya salah satu warga desa Ketang
"Bapak juga tidak tahu buk, sebaiknya kita tidur saja." sahut suaminya
Tidak ada bantahan atau pertanyaan lagi dari istrinya, mereka pun sepakat untuk tidur. Namun, belum sempat mereka merebahkan tubuhnya terdengar bunyi ketukan pintu.
Tok tok tok tok
"Siapa iku pak?" tanya istrinya
"Ti...tidak tahu buk." sahut suaminya yang sudah merasa khawatir
Baru saja suaminya selesai bicara, kini ketukan itu bertambah keras hingga seperti gedoran tanpa jeda.
Dug dug dug dug
Semakin ketakutan pula pasangan suami istri itu, istrinya kian meringkuk ditubuh suaminya. Hingga hampir sepuluh menit mereka mendiamkan, kini gedoran pintu sudah tidak terdengar.
Belum sempat mereka menarik nafas lega, kini gedoran itu berpindah ke jendela kamar yang ditempati oleh mereka.
Brak brak brak
Bunyi gedoran itu seperti mendobrak jendela, tampak jelas keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh suaminya itu. Sementara istrinya, semakin meringkuk dan tidak berani bergerak.
Hingga hampir satu jam lamanya, hingga teror itu berhenti. Sengaja mereka menunggu dulu, setelah dirasa sudah aman mereka pun memilih untuk beristirahat dan melaporkan kejadian kepada petinggi desa esok hari.
...****************...
Matahari pagi sudah menyingsing diufuk barat, burung burung tampak berkicauan diatas pohon pohon rumah warga. Beberapa warga masih meringkuk dibalik selimutnya karena ini memang masih jam 07 pagi, namun matahari yang sudah naik membuat mereka untuk bangkit dari pembaringan karena silau.
Hingga terdengar suara teriakan para warga, sembari membunyikan kentungan. Para pekerja yang membantu pembangunan rumah Riana bingung, karena para warga yang berteriak tepat didepan rumah Riana.
Tung tung tung
__ADS_1
"Ada apa kang?" tanya mang Kurdi
"Iku...iku, janin nya si Minah menghilang." ucap salah satu pria paruh baya yang ikut serta dalam rombongan
"Sampean iki jangan becanda toh kang." ucap mang Kurdi
"Saya tidak berbohong kang Kurdi, kalau tidak percaya tanya saja kepada mereka." sahutnya seraya menunjuk para warga yang berteriak tadi
Sontak saja ucapan itu membuat semua orang yang berada disekitar rumah Riana terkesiap, mereka benar benar merasa ngeri dengan teror ini.
"Ya Allah, sampai segitunya kang." ucap Panjul
"Iyo, itu sebabnya kami ingin menemui para petinggi desa. Yasudah kang, kalau mau lihat langsung kerumah Minah saja kami pamit dulu." sahut pria paruh baya tadi
Setelah rombongan para warga tadi sudah pergi, mbah Bayan pun angkat bicara.
"Kalian semua lanjutkan saja pekerjaan ini, biar saya dan mang Kurdi yang melihat." ucap mbah Bayan
Setelah mereka mengiyakan, kini mang Kurdi serta mbah Bayan berjalan menuju rumah Minah. Wanita yang sudah menikah tiga tahun lalu, dan kini sedang mengandung tujuh bulan. Mereka yang sudah lama menanti buah hati dulu bahagia kala Minah dinyatakan hamil, namun sekarang kebahagiaan itu harus kandas.
Setelah sudah sampai di teras rumah Minah, terdengar jelas jeritan dan kesakitan. Mang Kurdi dan mbah Bayan pun berniat untuk masuk, para warga yang berkerumun dihalaman luar seketika memberi jalan kala melihat mbah Bayan.
"Tidak, aku mau anakku aku mau anakku." teriak Minah menggelegar bagai kesetanan
"Istighfar buk, jangan seperti ini. Ibu harus tegar, bapak juga sedih tapi mungkin ini sudah jalannya." ucap suaminya menenangkan
"Anakku hiks hiks, belum sempat aku merasakan jadi ibu kini aku harus kehilangan janinku hiks hiks." ucap Minah menangis pilu
Para warga yang berada disana juga ikut merasa sedih, mang Kurdi dan mbah Bayan pun bertanya kepada salah satu warga yang berada diruang tamu. Karena, mereka tidak enak jika bertanya kepada salah satu pasangan yang sedang dilanda kesedihan.
"Bagaimana ceritanya hingga terjadi seperti ini kang Jojo?" tanya mang Kurdi
"Menurut cerita suaminya tadi, semalam mereka sedang beristirahat namun terdengar bunyi ketukan pintu. Padahal mah bukan mereka saja, menurut para warga juga mereka merasakan hal yang sama...
Namun suaminya berfikir mungkin saja ada tamu, hingga suaminya berniat untuk membuka pintu. Namun setelah pintu terbuka tidak ada siapa siapa kang, hingga tiba tiba terdengar jeritan istrinya....
__ADS_1
Suaminya pun lekas berlari kekamar, namun sudah disuguhi pemandangan mengerikan. Perut yang tadinya membuncit seketika kempis kang, namun anehnya tidak ada darah sedikit pun." ucap Jojo menjelaskan
Mang Kurdi serta mbah Bayan mendengar seketika terpaku sesaat, mereka tampak menelaah apa yang sedang terjadi. Hingga lamunan mereka buyar dengan kedatangan petinggi desa, sontak mereka semua memberi jalan.
Setelah mendengar apa yang terjadi, seketika para petinggi desa pun turut kebingungan.
"Inilah susahnya bila tidak ada para tetua adat seperti jaman nenek saya dulu, jika ada tetua adat pasti mereka bisa membantu secara goib." ucap pamong desa
Hingga pandangan pamong desa jatuh kepada mbah Bayan.
"Mbah Bayan apakah tidak bisa bantu mbah? Mungkin saja mbah bisa, karena menurut cerita nenek saya dulu mbah Bayan orang kepercayaan para tetua adat. Dan, mungkin saja mereka dulu mewariskan sedikit ilmunya." ucap pamong desa
"Tidak ada waris mewarisi, karena ilmu mereka akan diwariskan kepada orang tertentu atau anak pilihan. Tapi dulu saya memang diajari sedikit, saya akan mencoba membantu. Namun kalian jangan terlalu berharap lebih kepada saya, selain ilmu saya tidak ada seujung kuku saya juga manusia biasa." sahut mbah Bayan
Setelah setuju, mbah Bayan pun meminta suaminya untuk keluar dari kamar. Setelah menutup dan mengunci pintu, mbah Bayan langsung duduk bersila mencoba untuk menerawang.
Mbah Bayan pun segera memejamkan mata, dan merapalkan ajian rogoh sukmo.
Ajiku aji angin sukma
Sukmaku ing bumi
Ajiku aji ngeraga sukma
Sukma ing badanku
Sukma kang awujud padang
Kalimat itu terus diulang hingga tiga kali, hingga seketika tubuh mbah Bayan bergetar hebat.
Brakk
Tampak sebuah angin keluar menembus atap kamar, jiwa mbah Bayan telah keluar melalui atap. Kini jiwanya itu tiba tiba saja berada di area istana yang sangat besar dan mewah, para warga istana keraton terus memperhatikan mbah Bayan dengan tatapan aneh.
Mbah Bayan mencoba untuk mengabaikan dan terus berjalan melewati para warga istana yang berada disamping kiri kanan jalan, kini setelah dekat dengan gerbang mbah Bayan melihat para pengawal yang berpakaian ninja berwarna hitam serta memegang pedang.
__ADS_1
"Lancang sekali kau memasuki area istanaku dasar kakek tua." ucap seseorang dari belakang dengan suara lemah mendayu tapi mengerikan
...****************...