Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Pemujaan


__ADS_3

Siang telah berlalu digantikan dengan malam, tampak para warga yang berada di desa sudah menutup pintu masing masing karena takut akan teror. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 08:00, desa Ketang sudah seperti desa mati.


Tidak ada kehidupan disana, tidak seperti biasa yang selalu ada saja beberapa pria yang melakukan ronda. Kini sudah tidak ada satupun, hanya menyisakan kesunyian.


Lain halnya disebuah hutan yang berada diatas bukit, tiga puluh pria kini sudah bersiap untuk menuju hutan larangan tempat dimana junjungan mereka berada. Hari yang dihiasi dengan kegelapan menambah kesan mencekam.


Pohon pohon yang menjulang tinggi seolah banyak pasang mata yang mengawasi dari atasnya, bahkan tidak ada satupun suara hewan malam sedikitpun. Namun mereka tidak menghiraukan, tujuan mereka hanya satu yaitu kehutan larangan.


Dengan di komando oleh Nyi Warsih, mereka pun berangkat dengan menenteng persembahan mereka. Karena yang ikut memang para manusia menyebabkan Nyi Warsih tidak bisa memakai kekuatan nya untuk melesat, alhasil mereka pun berjalan.


"Seram juga yo kang." ucap salah satu diantara mereka yang berada di kubu C


"Iyo, iki lihat semua bulu bulu di sekujur tubuhku berdiri." sahut pria paruh baya yang diajak bicara seraya menunjukkan bulu bulu yang ada ditangannya


"Aku takut kang."


"Aku juga kang, tahu begini saya tidak mau ikut."


Pria paruh baya yang menjadi ketua dikubu C yang sedari tadi mendengar pembicaraan anggotanya seketika menoleh dan memberi teguran.


"Huss kalian berdua diamlah."


Sontak kedua pria tadi seketika diam, kini hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. Rasa takut yang membuncah mereka simpan didada, hingga hampir satu jam lebih mereka berjalan kini mereka pun telah sampai.


Hal pertama yang mereka lihat adalah keramaian, begitu banyak orang orang baik pria maupun wanita yang berada di hutan larangan. Mereka dikawal oleh penunggu hutan yang lain, ada sekitar lima penunggu hutan karena memang hutan hutan yang berada disekitar desa Ketang sangat banyak yang angker atau berpenghuni.

__ADS_1


Sementara satu penunggu hutan saja bisa memiliki murid sebanyak tiga puluh murid seperti Nyi Warsih, ditambah lagi murid murid penunggu hutan yang lain. Kini hutan larangan itu sudah seperti pasar, karena dipadati oleh orang orang.


Namun ada yang menarik, penunggu hutan Nyi Darsih membawa murid yang tak lain adalah Barun suami Minah yang tega menumbalkan bayi yang belum jadi yang berada didalam perut istrinya sendiri, yang tak lain juga adalah salah satu anak buah Ginanjar yang ikut serta dalam pembunuhan Hayati adik Damar.


Kini para penunggu hutan kembali berkumpul ke kelompok mereka masing masing setelah lama menunggu waktu berputar, mereka mengkomando murid murid mereka.


"Lima belas menit tepat jam 12 malam bersiaplah."


Semua para manusia pemuja setan seketika gelagapan mempersiapkan alat ritual dan persembahan mereka, setelah selesai mereka pun duduk bersila dan memejamkan mata. Tampak dari kurang lebih dua ratus orang membaca mantra pemanggil junjungan mereka.


Hingga tiba tiba mereka melihat kemunculan istana yang sangat megah dan besar, siapapun yang melihat akan terkesima dan kagum melihat istana yang seluruhnya terbuat dari emas itu. Hingga mereka semakin terbelalak kaget, kala melihat seorang wanita yang sangat cantik duduk dikursi kebesarannya.


Wanita yang memakai kemben berwarna merah serta jarik yang senada, selendang berwarna emas tengah duduk anggun ditemani oleh sang ibu Nyi Danu sebelah kanan sementara murid kesayangan yaitu Buto Ireng sebelah kiri.


Dengan rambut panjang tergerai dihiasi mahkota emas yang memiliki permata berwarna putih ditengahnya, serta dikelilingi oleh bunga mawar merah dan ronce melati di kiri kanan.


"Terimalah persembahan kami ratu." ucap serempak penunggu hutan kecuali Nyi Warsih yang masih bingung apa yang terjadi


"Sebelum itu, saya akan mengatakan sesuatu." ucap Nyi Danu seraya maju selangkah


Tampak mereka semua menantikan apa yang akan diucapkan sang ratu.


"Mulai hari ini junjungan kalian bukanlah saya, saya sudah menyerahkan semua kekuasaan saya kepada anak saya yaitu Nyi Danuwati. Ia lah yang menjadi ratu kalian sekarang, maka dari itu beri hormat kepada ratu kalian." ucap Nyi Danu menggelegar


Seketika semua orang yang ada disana termasuk penunggu hutan kompak bersujud seraya mengatupkan kedua tangan didepan dada, namun tidak dengan Barun, Ki Ageng, dan Nyi Warsih.

__ADS_1


Melihat itu Nyi Danuwati tersenyum puas, segera ia memanggil pengawal nya hanya dengan sekali tepukan saja sepuluh pengawal menghampiri.


"Tahan mereka bertiga dan masukkan ke dalam sel, saya tidak suka melihat orang orang yang tidak tahu sopan." ucap Nyi Danuwati seraya menunjuk Ki Ageng, Nyi Warsih, serta Barun yang masih berdiri.


"Perintah segera kami laksanakan ratu."


Sepuluh pengawal kemudian menghampiri dua manusia serta satu demit lekas pengawal Nyi Danuwati menyeret mereka, tidak perduli mereka mengatakan maaf pengawal itu segera membawa mereka ke sel.


"Seperti itulah kira kira jika kalian berlaku tidak sopan." ucap Nyi Danuwati


Seketika mereka semua merasa ketakutan, karena dulu setiap mereka melakukan pemujaan terhadap Nyi Danu ia tidak sejahat Nyi Danuwati.


"Katakan apa yang kalian inginkan." ucap Nyi Danuwati


"Kekayaan."


"Umur panjang."


"Jabatan."


Dan masih banyak lagi orang orang yang bersorak, sungguh mereka telah menyekutukan Tuhan.


"Kalian akan mendapatkan apa yang kalian mau, sekarang pergilah." ucap Nyi Danuwati


Seketika mereka semua kebingungan, pasalnya jika Nyi Danu dulu akan ada pertunjukan yang meriah. Namun meskipun begitu, mereka tetap menuruti untuk pulang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2