Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Amarah Pangeran Segoro


__ADS_3

Sementara di desa, masih dihari yang sama. Tampak dua pemuda yang tidak lain adalah Kemal dan Pangeran Segoro sedang duduk lesehan ditikar pandan dirumah mang Kurdi, sedangkan paruh baya itu tampak sedang membuatkan teh untuk tamunya.


"Monggo dijamu." ucap mang Kurdi seraya meletakkan nampak yang berisi tiga cangkir, kendi, dan sepiring ubi rebus bercampur pisang goreng.


(Silahkan dinikmati.)


"Njih, matur nuwun pakde jadi merepotkan." sahut Pangeran Segoro


"Ah tidak merepotkan, toh hanya ini saja." ucap mang Kurdi tersenyum


Pangeran Segoro pun menyeruput teh yang disuguhkan oleh mang Kurdi, yaitu berupa kopi hitam.


"Pakde tinggal sendiri? Sekar kemana pakde?" tanya Pangeran Segoro


Mendengar pertanyaan Pangeran Segoro tentang putrinya membuat mang Kurdi diam tertunduk.


"Sudah pakde antar ke kota, karena kondisinya semakin memburuk. Bukan buruk soal eh penyakit, tapi eh..." mang Kurdi tidak sanggup meneruskan perkataan nya


Namun Kemal dan Pangeran Segoro mengerti maksud mang Kurdi, rupanya kejiwaan Sekar semakin memburuk mungkin wanita cantik itu dimasukan kerumah sakit jiwa yang berada jauh dikota oleh mang Kurdi.


Note : Karena alur ini menyangkut jaman dulu, mungkin masih ada yang bingung. Emang dulu sudah ada rumah sakit/jiwa thor? Jawaban nya ada, rumah sakit jiwa sudah ada sejak tahun 1270 sementara cerita ini mungkin masih jaman dulu ya, tapi gak dulu banget sekitar tahun 60an lah thx u.


"Sebenernya Sekar masih bisa sembuh asal ia minta maaf dan ibu saya memaafkan nya pakde." ucap Pangeran Segoro


Kali ini mang Kurdi mengangkat kepalanya menoleh kearah Pangeran Segoro.


"Kamu serius le?" tanya mang Kurdi


Seperti yang orang tahu, Pangeran Segoro bukanlah manusia seutuhnya sekarang. Ia tahu jika Nyi Danuwati sudah memberi kutukan kepada Sekar, dan hanya Ratna ibunya Pangeran Segoro yang bisa menyembuhkan dengan maaf dari nya.

__ADS_1


"Iya pakde." ucap Pangeran Segoro memilih untuk tidak menyebutkan tentang Nyi Danuwati, takut jika mang Kurdi menyebut nama itu dan berakhir petaka.


"Kalau begitu pakde secepatnya membawa Sekar kemari." sahut mang Kurdi


"Eh anu, apa sebaiknya Sekar berada disana saja yo pakde. Daripada di desa ini, pakde tahu toh desa kita sekarang banyak teror, kematian, penyakit aneh dan lainnya." ucap Kemal menimpali setelah lama terdiam


Mang Kurdi tampak terdiam, dari alisnya yang tipis terlihat mengkerut menandakan ia sedang berfikir keras. Detik kemudian, mang Kurdi manggut manggut setuju dengan usulan Kemal.


"Kamu benar le." ucap mang Kurdi


Setelah perbincangan Sekar dan lain lain, kini waktu sudah beranjak sore. Pangeran Segoro pun memutuskan untuk bicara tentang perkebunan milik keluarga mendiang Pramono ayah Nyi Danuwati, sesuai rencana mereka datang kerumah mang Kurdi.


"Jadi kami datang kemari untuk membicarakan kebun pakde, sudah lama saya tidak memantau apa semua baik baik saja?" tanya Pangeran Segoro


"Aman le, semua baik baik saja tidak ada yang kurang bahkan hasil panen kemarin melimpah ruah tunggu sebentar." ucap mang Kurdi kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya


Hingga beberapa menit berselang, tampak mang Kurdi keluar dari kamarnya seraya menenteng kain jarik yang berbentuk bulatan seperti ada isi didalamnya.


"Opo iki pakde?" tanya Pangeran Segoro setelah mang Kurdi meletakkan kain itu dihadapan mereka


"Ini hasil dari semua kebun le, bukalah." ucap mang Kurdi


Perlahan Pangeran Segoro membuka ikatan kain jarik itu, tampak bola mata Kemal membelalak melihat isinya. Sebuah uang yang sangat banyak, mungkin benar kata mang Kurdi hasil dari semua kebun mengingat uang itu sangatlah banyak.


"Pakde simpanlah, sampai pemilik yang sah dari uang ini datang." ucap Pangeran Segoro namun ada keraguan dihati Pangeran Segoro, mungkinkah Nyi Danuwati akan datang dengan sikap yang sama seperti dulu.


"Tidak le, pakde tidak berani takut ada perampok. Sebaiknya kamu saja yang simpan biar aman, karena kamu kan memiliki ilmu." ucap mang Kurdi


Ucapan mang Kurdi membuat Kemal mengembungkan pipinya menahan tawa, memang tidak ada yang salah ucapan mang Kurdi. Tapi Kemal masih merasa geli, ia tidak habis pikir ternyata demit dan orang orang seperti Pangeran Segoro memang benar benar ada.

__ADS_1


"Baiklah pakde, biar saya yang simpan. Dan saya mau mengatakan karena kami akan tinggal di desa ini untuk memantau warga, sekalian juga saya akan mengambil alih untuk mengecek ke setiap kebun sama seperti dulu." ucap Pangeran Segoro


"Iyo le, tidak apa." sahut mang Kurdi


Setelah berbasa basi sejenak, kini mereka memutuskan untuk pamit melihat hari sudah semakin sore.


"Ternyata kita sama ibu ibu sama yo Mar." ucap Kemal sembari melangkah menyusuri jalan menuju rumah mereka


"Maksud kamu opo toh?" tanya Pangeran Segoro mengernyitkan alis bingung


"Iyo sama, sama sama lupa waktu kalau sudah menggosip." sahut Kemal


Mereka berdua pun tertawa renyah, Pangeran Segoro sendiri bingung ternyata mereka bertamu lumayan lama. Sampai ditengah jalan, Kemal berhenti.


"Kenapa?" tanya Pangeran Segoro


"Iku Ginanjar." ucap Kemal


Pangeran Segoro pun berhenti, ia sempat tahu nama Ginanjar karena sebelum bertemu mbah Sastro Pangeran Segoro pernah sekali membuntuti Mahendra yang berujung menemukan ia dengan sosok Ginanjar, tapi Pangeran Segoro tidak melihat wajahnya waktu itu.


Pangeran Segoro pun menoleh kearah tatapan Kemal, hingga sekian detik tampak Pangeran Segoro mengepalkan erat tangannya. Bahkan buku jarinya terlihat memutih, wajahnya memerah menahan amarah.


Dalam pandangan Pangeran Segoro, ia melihat Ginanjar telah membunuh adiknya dengan keji didalam hutan. Amarah seketika memuncak, namun tidak lama karena Ginanjar seketika melesat dengan kudanya.


"Kamu kenapa?" tanya Kemal bingung


"Ora opo, yaudah mari pulang." sahut Pangeran Segoro datar


...****************...

__ADS_1


__ADS_2