
POV Author
Purwo berteriak keras lantaran seekor burung gagak terbang kearahnya, membuat kelima anak buah nya menoleh kearah Purwo.
"Tuan... Tuan ti..tidak apa apa toh?" ucap Harjo sebagai ketua pimpinan anak buah nya yang lain memberanikan diri bertanya
"Tidak apa bagaimana, kamu tidak lihat burung gagak itu hampir mencelakai ku hah." sentak Purwo
Seketika kelima anak buahnya diam menunduk, takut jika sang tuan marah.
"Lebih baik kita lanjutkan saja perjalanan kita." ucap Purwo lagi
Mereka pun kembali menunggangi kuda mereka berjalan kearah bukit, namun baru beberapa langkah berjalan tiba tiba.
Wushhhh
Sekelebat bayangan melintas kearah mereka, sontak hal itu membuat kelima anak buahnya beserta Purwo ketakutan.
"Ja...Jangan jangan itu hantu." ucap Naryo gugup karna sudah dilanda ketakutan besar
"Huss mulut mu iki loh Yo." sahut Harjo seraya menoleh kearah Naryo dengan tatapan tajam
"Sudah, ayo kita jalan lagi." ucap Purwo
Walaupun Purwo sudah dilanda ketakutan, namun tujuan nya menemui dukun itu jauh lebih besar dari ketakutan nya.
Mereka pun kembali meneruskan perjalanan mereka, kali ini sudah tidak ada hambatan apapun lagi. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan lancar, hingga setelah lama menunggangi kuda mereka pun sampai didepan sebuah gubuk reot dan kecil.
"Apakah ini rumahnya." gumam Purwo pada diri sendiri
"Seram juga ya." ucap Naryo yang lagi lagi tidak bisa menjaga mulutnya
__ADS_1
Sementara ditempat lain, setelah kepergian Purwo beserta beberapa anak buahnya Riana segera masuk kedalam kamar. Ia ingin tau apa yang dilakukan Purwo disana, dan apa hubungan juragan Karno dengan semua ini.
Ia tidak ingin jauh-jauh mengikuti Purwo sampai kesana, jadi ia memutuskan untuk menerawang saja. Lekas ia menyiapkan alat alat ritual nya yang sudah ia titipkan kepada mbok Asih untuk dibeli dipasar, segera ia duduk bersila.
Kemudian, ia membakar kemenyan sampai asap kemenyan mengepul tebal. Setelah itu, ia memejamkan mata seraya mulutnya berkomat kamit merapalkan mantra.
Sementara ditempat Purwo sekarang, mereka semua tampak ragu ragu untuk memasuki gubuk reot itu. Purwo pun menyuruh Harjo untuk masuk terlebih dahulu, seketika wajah Harjo mendadak berubah mnjadi pucat pasi.
Ia ingin menolak, namun melihat tuannya yang sudah memasang wajah garang ia tidak berani. Jadi, mau tidak mau ia pun mengikuti perintah tuannya untuk berjalan terlebih dahulu.
Harjo pun berjalan paling depan, diikuti oleh Purwo dibelakang nya beserta anak buahnya dibelakang Purwo.
Namun baru sampai didepan pintu gubuk itu, tiba tiba saja pintunya sudah terbuka lebar seolah tau dan menyambut kedatangan mereka.
Sontak hal itu membuat mereka yang melihatnya terbelalak, dan gemeteran karena ketakutan.
"Ke...Kenapa pintunya terbuka kang." ucap Naryo gugup
Seketika wajah mereka menjadi pias, namun tiba tiba terdengar suara dari dalam.
Mereka yang berada diluar sontak saling berpandangan, kemudian mereka pun melangkah. Namun, baru selangkah tiba tiba ada suara lagi.
"Hanya diperbolehkan satu orang saja." ucap sosok itu lagi
Seketika wajah Purwo menegang, bagaimana tidak. Ia sangat takut jika masuk sendirian, sementara ia juga sangat penasaran sehingga tidak memungkinkan jika menyuruh salah satu anak buahnya yang masuk.
Jadi dengan sangat berat hati, ia memberanikan diri melangkah menuju gubuk itu. Sesampainya didepan pintu, ia pun membuka pintu reot itu.
Krieeet
Bunyi derit pintu yang dibuka perlahan seperti suara horor yang membuat bulu kuduk mereka merinding, setelah pintu terbuka lebar Purwo pun kembali memberanikan diri untuk masuk.
__ADS_1
Brakkk
Setelah Purwo masuk, tiba tiba pintu nya tertutup dengan sendirinya dengan sangat kencang hingga pintu itu sangat rapat hingga tidak ada celah.
Seketika Purwo tersentak kaget, bagaimana tidak. Ia sama sekali tidak memegang pintu, namun pintunya tertutup dengan sendirinya. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana bisa Karno berani mendatangi tempat ini sendiri, apakah ia tidak takut itu yang sedang berada dalam benak Purwo.
"Kemarilah." ucap suara berat itu
Seketika ucapan itu membuyarkan lamunan Purwo, setelah sadar ia menandatangi asal suara itu. Ia berjalan menuju asal dimana suara itu tadi, sehingga tampak lah sosok pria tua dengan jenggot panjang dan memakai pakaian berwarna hitam serta pengikat kepala berwarna hitam pula.
Sontak wajah Purwo seketika pias, ia ketakutan melihat wajah dari sosok pria tua itu. Wajahnya nya yang berwarna hitam, dengan luka sayatan yang memanjang.
"Kemari dan duduk." ucap sosok pria tua itu dengan sorotan tajam bak elang sedang memangsa makanannya
Dengan takut takut, Purwo pun duduk didepan pria tua itu. Mereka duduk saling berhadapan, hanya berjarak satu meja yang berisi kendi, kembang tujuh rupa, kemenyan, dan lain lain saja.
"Aku sudah tau tujuan mu kesini." ucap pria tua itu
"Ba....Bagaimana kau bisa tau." sahut Purwo terbata
"Geni, panggil aku Ki Geni." ucap sosok pria tua itu menyentak yang ternyata adalah Ki Geni
"Ma...Maaf Ki, ma..maksud saya bagaimana bisa Ki Geni tau tujuan saya kemari." sahut Purwo gugup karena ketakutan yang luar biasa ia menyesali keputusan nya untuk datang kesini
"Hahahahahaha." sontak Ki Geni tertawa menggelegar mendengar pertanyaan itu
Bahkan tawanya sampai diluar yang membuat anak buah Purwo saling tatap.
"Kalau Ki Geni sudah tau tujuan saya, maka katakan apa yang sebenarnya terjadi Ki." ucap Purwo menatap kearah Ki Geni
Mendengar pertanyaan Purwo yang tegas serta dengan berani nya ia menoleh kearah Ki Geni, membuat Ki Geni tersinggung.
__ADS_1
Ia menatap tajam kearah Purwo, yang membuat Purwo kembali ketakutan dan menunduk.
****************