
Setelah selesai acara bersih membersihkan rumah, tampak Kemal langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah dilantai yang masih terbuat dengan papan. Sementara mbah Sastro memilih untuk duduk disebelah Kemal, tidak lama tampak pangeran Segoro datang dari arah dapur dengan membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan yang sudah dibuat sedari tadi.
"Ayo diminum dulu." ucap pangeran Segoro
"Iyo Mar, eh aku manggil opo yo." sahut Kemal seraya menggaruk lengan yang tidak gatal
"Terserah sampean saja." ucap pangeran Segoro
Mereka bertiga pun segera menikmati kopi hangat beserta pisang goreng, dan ubi rebus. Hingga tidak berselang lama, terlihat mbah Bayan datang beserta mang Kurdi. Untung saja pangeran Segoro membuat kopi didalam kendi air, maka jika mbah Bayan atau yang lain ingin minum masih banyak.
"Lagi santai yo." ucap mang Kurdi
"Njih, monggo dijamu." sahut mbah Sastro
Kemal langsung berlalu ke dapur untuk mengambil gelas yang masih terbuat dari seng sebanyak tiga, dua untuk mang Kurdi dan mbah Bayan. Sedangkan satu lagi untuk berjaga jaga, siapa tahu saja Mahendra datang pikirnya.
Kemudian Kemal kembali lagi bergabung dengan mereka, ia segera menuang kopi didalam kendi air ke gelas.
"Monggo mbah, pakde." ucap Kemal
"Njih, Matur nuwun." sahut mang Kurdi dan mbah Bayan
Dari sorot mata mbah Bayan tampak pria tua itu ingin berbicara dengan mbah Sastro, mbah Sastro pun menyadari akan hal itu. Lalu pria yang jauh lebih tua dari mbah Bayan itu menyuruh yang lain untuk keluar sebentar, mereka pun menurut.
"Kalian bertiga keluarlah sebentar, mbah ingin bicara dengan mbah Bayan." ucap mbah Sastro seraya melirik kearah pangeran Segoro, Kemal, dan mang Kurdi.
"Njih mbah."
Walaupun pangeran Segoro sangat penasaran, namun ia tetap menuruti perkataan mbah Sastro. Mereka bertiga lekas keluar dan duduk lesehan di teras rumah pangeran Segoro, sepeninggal mereka mbah Bayan langsung mengatakan keresahan hatinya.
"Anu mbah, emm waktu sukma saya berada di istana Nyi Danu saya melihat fakta mengejutkan." ucap mbah Bayan hati hati
Biar bagaimana pun mbah Sastro lebih tua dibandingkan dirinya, dan ia juga pemimpin tetua adat dulu yang memiliki ilmu tinggi walaupun tidak ada yang tahu ia penguasa lautan Segoro kecuali mbah Bayan.
"Katakan." sahut mbah Sastro
__ADS_1
"Ada sosok wanita cantik yang diangkat menjadi anak Nyi Danu, wanita itulah yang sekarang menjadi ratu di istana hutan larangan. bisa dikatakan raja dari segala hutan, karena semua hutan angker di bukit sana milik Nyi Danu yang sekarang di wariskan kepada Nyi Danuwati...
Sosok Nyi Danuwati ini sangat kejam jauh lebih kejam daripada Nyi Danu...." ucapan mbah Bayan terhenti saat mbah Sastro memotong
"Jangan sebut namanya, nanti sampean celaka." ucap mbah Sastro memperingati
"Njih mbah."
"Lanjutkan."
"Namun saya merasa tidak asing dengannya mbah, dia seperti Riana gadis kembang desa yang banyak disukai oleh semua orang." ucap mbah Bayan
"Betul, itulah takdir." sahut mbah Sastro ambigu
Mbah Bayan yang bingung pun hanya bisa manggut manggut, hingga hari sudah menunjukkan gelapnya malam. Para tamu pangeran Segoro sudah pulang sejak sore tadi, kini suasana desa Ketang pun sangat sunyi seperti desa mati.
Para warga semua sudah menutup pintu padahal waktu masih menunjukkan pukul 08 malam, untuk ngeronda juga para warga lelaki tidak berani.
Pangeran Segoro yang masih menatap pekatnya malam melalui jendela yang masih terbuka lebar seketika merasakan atmosfer aneh, ia merasa hawa mencekam semakin terasa. Ia segera memutuskan untuk masuk kedalam kamar, tidak lupa menutup jendela.
Lekas pemuda tampan dan manis itu duduk bersila didalam kamar, kedua tangannya ia satukan dan ia katupkan didepan dada seperti membentuk gunung. Matanya terpejam, dan ia pun merapalkan mantra untuk menerawang.
Adpada bajra ing
Sriwin kula siratin
Aguna ing adyapi
Hingga ia bisa melihat dari terawangannya sosok wanita yang tidak jelas bentuk dan rupanya, seperti buram tengah mengirim teluh kepada warga. Namun disaat pangeran Segoro ingin memperhatikan lagi, tiba tiba tubuhnya terpental kebelakang hingga mengeluarkan darah segar dari mulut.
"Arghh, wanita itu ternyata tidak sembarangan." gumam Pangeran Segoro
Namun ia tidak menyerah, kali ini ia akan melakukan rogoh sukmo. Ia segera memperbaiki duduknya kembali bersila, ia katupkan kedua tangan didepan dada. Ia memejamkan mata, dan merapalkan mantra.
Ajiku aji angin sukma
__ADS_1
Sukmaku ing bumi
Ajiku aji ngeraga sukma
Sukma ing badanku....
Hingga tidak berselang lama tampak tubuh pangeran Segoro bergetar hebat, dan tampak asap putih keluar dari dalam tubuh pangeran Segoro yang langsung menembus atap rumah.
Brakk
Terlihat jiwa pemuda itu sedang berada di suatu tempat, di suatu tempat yang sangat banyak makhluk aneh. Ada yang berbentuk manusia namun berkepala hewan, seperti babi, sapi, dan lainnya.
Ada juga berbentuk hewan namun berkepala manusia, ada juga yang berbentuk manusia utuh namun dengan kondisi mengerikan. Mereka adalah warga istana hutan larangan, tampak mereka menatap pangeran Segoro dengan tatapan aneh.
Pangeran Segoro tidak memedulikan hal itu, ia terus berjalan kedepan. Hingga setelah lama berjalan, ia berhenti didepan sebuah istana yang sangat besar dan megah. Bahkan, istana mbah Sastro saja masih kalah jauh.
"Apa ini tempatnya." gumam nya
"Istana yang sangat bagus." gumam nya menatap terkesima kearah istana itu
Ia pun terus berjalan hingga semakin dekat, tampak beberapa pengawal dan dua makhluk besar berbulu hendak siap menyerang namun.
"Tahan." ucap sosok wanita dengan suara lembut dari arah belakang pengawal
Entah bagaimana ceritanya, padahal gerbang istana masih tertutup rapat. Namun wanita itu sudah berdiri dibelakang pengawal, ia berdiri dengan membelakangi mereka.
"Aku yakin pemuda itulah yang tadi menerawang ku." ucap sosok wanita itu lagi
Suara nya yang lemah lembut mendayu sangat familiar bagi pangeran Segoro, ia merasa mengenal suara itu.
"Aku juga akan memberinya pelajaran, aku tidak suka jika urusanku diganggu." ucap sosok itu lagi
Seketika wanita itu langsung berbalik badan menghadap kearah mereka...
...****************...
__ADS_1