Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Persiapan Penyambutan Kepulangan Pangeran Segoro


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, tepat hari satu suro dan secara kebetulan tepat sebulan sudah Pangeran Segoro bersemedi. Pagi ini seperti biasa, warga warga sibuk melakukan pekerjaannya masing masing. Ada yang berbelanja kepasar, memasak, menyapu, mempersiapkan alat kebun dan lain lainnya.


Tidak dengan dua manusia yang haus akan kekayaan itu, pagi pagi sekali wajah mereka tampak murung karena sibuk memikirkan janin siapa yang akan mereka ambil.


"Pie toh? Didesa kita sudah tidak ada yang mengandung, adapun palingan baru berusia sebulan dua bulan." ucap Yayan


"Atau kita kedesa sebelah saja yo?" tanya Mamat lebih tepatnya memberi usulan


Yayan menaikkan sebelah alisnya kode untuk meminta informasi lebih lanjut.


"Desa Sumbul sepertinya banyak wanita yang mengandung." ucap Mamat lagi seraya cengengesan


"Jauh bener." sahut Yayan


"Mau bagaimana lagi? Toh semua desa disebelah jauh kan." ucap Mamat


"Baiklah." sahut Yayan mengangguk


Daripada tidak mendapatkan janin pikirnya.


"Kalau begitu kapan kita berangkat?" tanya Mamat


"Malam ini."


Sontak Mamat terbelalak, kemudian ia menggeleng hebat.

__ADS_1


"Emoh." sahut Mamat cepat


"Lah terus kapan lagi Mat? Tengah malam nanti sudah harus kita berikan." sentak Yayan


"Sampeyan opo tidak takut lewat malam malam di hutan itu?" tanya Mamat seraya mendelik


Seketika Yayan tersadar, untuk keluar atau masuk dari desa ini memang harus melewati jalan yang ditumbuhi dengan pohon jati kiri kanan. Warga Ketang menyebutnya hutan karena memang hanya ditumbuhi dengan pohon pohon yang tumbuh menjulang, namun bukan hutan arah hutan larangan karena arahnya sudah berbeda.


Hutan asli atau hutan menuju hutan larangan berada diujung desa Ketang, yang artinya arahnya semakin masuk kedalam desa. Sementara hutan yang dilewati jika ingin keluar atau masuk berada diluar desa Ketang, sangat berbeda.


"Yowes sorean saja bagaimana?" tanya Yayan


Mamat pun mengangguk setuju.


...----------------...


Mang Kurdi tidak dapat membantu karena ia harus mengurus kabun mendiang lurah Pramono, sementara mbah Bayan memilih datang nanti saja karena ia juga memiliki kesibukan dirumahnya.


"Ini bumbunya bu." ucap Kemal seraya menyerahkan bumbu yang sudah ia ulek sebelumnya


"Taruh disitu saja le." sahut Yeti ibunya


Kemal pun meletakkan piring yang terbuat dari seng itu diatas meja dekat dengan ibunya. Sedetik kemudian Kemal tampak mengendus endus kala mencium aroma lezat dari masakan sang ibu, seketika perutnya berbunyi membuat Yeti dan mbah Sastro menggeleng seraya tersenyum pelan.


"Oalah bocah nakal, iku mung isin." ucap ibunya seraya melotot

__ADS_1


"Oalah anak nakal, buat malu saja.)


Sementara Kemal hanya cengengesan, tidak ingin menjadi sasaran sang ibu Kemal pun menghampiri mbah Sastro yang sedang mengiris sayuran. Kemal pun duduk berdekatan dengan mbah Sastro, kemudian ia membantu mengiris sayuran yang lumayan banyak.


Wajar saja, karena rencananya sebagian akan dibagikan kepada warga. Sebenarnya mbah Sastro sangat ingin mengajak warga ikut serta untuk acara makan makan nanti, hanya saja rumah Pangeran Segoro yang kecil tidak memadai.


Itu sebabnya mbah Sastro hanya bisa membagikan makanan saja kepada warga desa Ketang, sementara untuk rombongan mbah Sastro akan ikut serta untuk menyambut Pangeran Segoro.


Tidak lama terdengar bunyi ketukan pintu beserta seseorang yang mengetuk pintu juga terlihat karena pintu rumah memang terbuka lebar.


Tok tok tok


"Kulo nuwun." ucap mbah Bayan


"Monggo." sahut mbah Sastro


Mbah Bayan pun masuk kedalam rumah, kemudian ikut duduk berhadapan dengan mbah Sastro dan Kemal. Kemudian mbah Bayan mengambil pisau yang tergeletak, beserta beberapa sayuran kemudian mengiris nya.


"Kebetulan mbah Bayan ada disini, aku kebelakang dulu yo mbah mau memotong daging." pamit Kemal kepada mbah Sastro dan mbah Bayan


"Njih."


Kemal pun bangkit dari duduknya, kemudian lekas berjalan kebelakang dimana sudah ada bungkusan besar yang berisi daging yang dibeli ibunya dipasar tadi.


Melihat bungkusan yang sebesar itu, sudah dipastikan akan banyak daging didalamnya. Lekas Kemal mengeluarkan daging itu dan memasukkan nya kedalam wadah besar, dan benar saja saking banyaknya daging itu sampai memenuhi tiga wadah besar.

__ADS_1


Sebenarnya wajar saja, karena sesuai rencana mbah Sastro yang akan membagikan makanan kepada seluruh warga desa Ketang. Sementara satu rumah saja sudah berapa kepala, apalagi satu desa.


...****************...


__ADS_2