
Di kediaman juragan Karno, Purwo beserta anak buahnya sampai kerumah dalam keadaan basah kuyup akibat menembus hujan. Segera ia memanggil Riana, kebetulan Riana juga sedang berada di ruang tamu.
"Riana." ucap Purwo berteriak memekakkan telinga
Riana yang mendengar itu segera meredam amarah nya, kemudian menemui Purwo.
"Ada apa mas, kan bisa toh manggil nya tidak usah teriak teriak gitu."
Mendengar ucapan Riana yang menurut nya telah berani melawannya, membuat Purwo emosi dan mencekik leher Riana. Riana yang melihat itu berusaha untuk meredam amarahnya, sebenarnya bisa saja ia membunuh Purwo hanya dalam satu kediapn mata.
Mengingat Riana mempunyai ilmu hitam, namun bukan kematian seperti ini yang diinginkan. Ia menginginkan Purwo menderita sebelum kematiannya, merasakan kesusahan tanpa ada yang menolong.
Ia ingin keluar dari kesakitan itu namun tidak bisa, meskipun jalan keluar ada didepan matanya itu yang diinginkan Riana.
"Le..Lepas mas, sa..sakit." ucap Riana terbata karena lehernya dicekik membuat pita suara nya tertekan
Purwo menghempaskan tangannya dari leher Riana dengan kasar, membuat Riana terdorong sedikit kedepan.
"Kamu kenapa toh mas?" tanya Riana meskipun sebenarnya ia tidak peduli hanya untuk dendam ia melakukan ini
"Siapkan air hangat sekarang aku mau mandi, sesudah itu siapkan wedang jahe dan makan malam."
"Njih mas."
Riana pun berlalu kedapur menyiapkan semua yang diminta Purwo, dengan amarah yang membara segera dengan cepat ia menyelesaikan tugasnya.
Mbok Asih yang melihat itu segera menghampiri, ia menawarkan bantuan kepada Riana.
__ADS_1
"Biar mbok bantu non." ucap mbok Asih
"Tidak perlu mbok, aku masih bisa sendiri kok. Justru, nanti kalau mas Purwo liat mbok bisa dalam bahaya." ucap Riana menatap mbok Asih tanpa senyum sedikit pun
Mbok Asih menatap Riana dengan kasihan, padahal mbok Asih sudah tahu bahwa Riana dan Purwo suami istri namun mereka memperlakukan Riana seperti pembantu. Riana yang menyadari itu segera mengusap lengan mbok Asih, kemudian menyuruh wanita paruh baya itu segera pergi.
"Sudah mbok, aku tidak apa apa sebaiknya mbok Asih pergi sekarang."
"Baiklah, kalau butuh sesuatu katakan pada mbok."
"Njih mbok."
Mbok Asih pun segera berlalu dari hadapan Riana, ia kemudian masuk kembali kedalam kamar khusus untuk para abdi.
Sementara Riana kembali berkutat di pekerjaan nya, setelah air panas mendidih segera ia mengangkat dan menuangkannya kewadah. Kemudian, lekas ia membawa nya kedalam kamar Purwo.
Tok tok tok
"Masuk." ucap Purwo dari dalam
Segera Riana membuka pintu dan masuk kedalam, ia lekas bergegas kedalam kamar mandi dan menuangkan air panas yang ia bawa kemudian mencampur nya dengan air dingin.
"Sudah mas, mas Purwo bisa mandi sekarang." ucap Riana
Setelah itu Riana kembali ke dapur menyiapkan wedang jahe dan makan malam untuk penghuni rumah ini, segera ia melakukan tugasnya.
Sepeninggal Riana, Purwo tampak berfikir sejenak sebelum masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
"Mengapa aku tidak meminta kepada Kita Geni saja untuk mencelakai Riana, setidaknya wajahnya hancur agar tidak ada orang yang mengejar ia lagi. Toh juga aku tidak bisa menjamah nya, lalu untuk apa." gumam Purwo
"Sebaiknya besok saja aku kembali ke bukit, sekarang sudah malam mana jalannya seram lagi." gumam Purwo lagi
Setelah itu pria berbadan tinggi, dan tegap itu masuk kedalam kamar mandi dan bersiap untuk membersihkan diri.
****************
Setelah selesai makan malam, semua penghuni rumah memutuskan untuk beristirahat tapi tidak dengan Purwo dan Riana.
Purwo seperti biasa, walaupun ia sudah tidak bisa berhubungan intim dengan wanita karena penyakitnya. Namun, itu tidak membuat ia berhenti tidur dengan sembarang wanita.
Seperti saat ini, Sundari wanita malam yang sering disewa oleh Purwo sedang bermesraan dengan Purwo walaupun tidak sampai berhubungan badan.
Lain halnya dengan Riana, ia tetap terjaga menunggu tengah malam untuk melakukan ritual nya. Agar kekuatannya, dan kerisnya bertambah.
Setelah tengah malam tiba, segera ia keluar dari kamarnya menuju halaman belakang. Halaman belakang cukup luas, dan ditumbuhi semak semak walaupun tidak setinggi lutut tapi mampu menyamarkan seseorang jika ada disana.
Segera ia menggotong alat ritual nya beserta ayam cemani kemudian berjalan kearah luar, setelah mempersiapkan semuanya lekas ia duduk bersila.
Kemudian ia menyiapkan satu kendi kosong, kemudian menyayat leher ayam cemani hingga mengeluarkan darah. Segera darahnya ditampung kedalam kendi itu, sesudah itu ia pun menyayat sedikit jari telunjuk nya hingga mengeluarkan darah segar kemudian segera ia tampung kedalam kendi yang sudah berisikan darah ayam.
Setelah meneteskan tiga tetes darah segar milik nya sendiri, segera ia mencampur dengan kembang tujuh rupa. Kemudian ia membalurkan ke tubuh keris nya, mulai dari gagang sampai ujung sebanyak tiga kali.
Setelah itu, sisa darah tersebut segera diminum oleh Riana. Kemudian ia memejamkan mata, dan merapalkan sebuah mantra tanpa bersuara.
Kira kira sejam ia melakukan Ritual nya kemudian setelah selesai ia segera membereskan alat nya, kemudian dengan cepat ia segera masuk kedalam kamar nya dengan menggotong banyak barang.
__ADS_1
Beruntung tidak ada yang melihatnya, mengingat cuaca juga sedari siang diguyur hujan pasti cuaca malam sangat dingin menusuk tulang. Terlebih, mereka tinggal dibawah kaki gunung.
Segera ia menutup pintu, dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bekas darah. Setelah selesai kemudian ia pun merebahkan tubuhnua diatas kasur, dan tidak membutuhkan waktu lama ia pun terlelap.