
"Arghh aku merasa tubuhku semakin lemah." gumam Riana yang berbaring di ranjang
"Aku tahu bagaimana cara mengobati mu Nyi, hanya saja Nyi harus pergi ke suatu tempat. Aku tidak bisa membawa Nyi tanpa persetujuan Nyi sndiri, karena akan terjadi pergolakan di batin Nyi suatu saat...
Itu sebabnya Nyi datang ketempat itu atas dasar kesadaran Nyi sndiri, karena memang kemauan Nyi sndiri." ucap Buto Ireng yang tiba tiba saja muncul
"Katakan dimana tempat itu." sahut Riana
"Hutan larangan." ucap Buto Ireng dengan lugas
"Hutan larangan." desis Riana
"Iya Nyi."
"Baiklah, tolong bawa aku kesana." ucap Riana yakin
Tanpa menunggu lama lagi, segera Buto Ireng menyambar tubuh Riana. Mereka pun melesat cepat menembus pepohonan, hingga tidak lama mereka sudah sampai.
Hutan larangan berbeda dengan hutan yang lainnya, bahkan seperti ada pembatas. Mereka belum memasuki hutan larangan itu, tapi mereka sadar akan perbedaan itu.
Hutan yang masih mereka pijak masih terang karena memang masih siang hari, ditambah bunyi hewan hewan lainnya. Sementara hutan larangan itu, mereka bisa melihat bahwa aura hutan itu sangat gelap. Bahkan, tidak ada suara hewan apapun.
"Kita masuk Nyi?" tanya Buto Ireng
Riana hanya mengangguk pelan, dengan masih mengendong tubuh Riana. Buto Ireng pun masuk memasuki hutan itu, tiba tiba saja mereka langsung mengalami perubahan. Diluar hutan tadi mereka merasakan hawa hutan yang biasa, jika di hutan larangan ini mereka merasakan suhu nya sangat dingin.
"Disini?" tanya Riana kala merasakan tubuhnya diletakkan di sebuah batu besar
"Iya Nyi." sahut Buto Ireng
Hingga tiba tiba suhu yang dingin tadi berganti dengan hawa yang panas sekali, hingga tubuh Riana dibanjiri oleh keringat. Hingga tidak lama, muncul seorang wanita cantik.
__ADS_1
Dengan memakai kemben warna pink dan jarik berwarna senada, serta selendang yang berwarna senada pula. Seluruh tubuhnya dihiasi aksesoris yang terbuat dari emas, tampak di kepala nya sebuah mahkota berwarna emas yang dihiasi oleh permata.
"Aku sudah lama menunggumu cah ayu." ucap sosok itu dengan suara lemah lembut mendayu
Riana masih terpaku akan kecantikan sosok itu, bahkan matanya tidak berkedip sama sekali. Hingga ia tersadar dari lamunan nya kala sosok itu mengatakan sudah lama menunggu, tampak Riana mengernyitkan alis bingung.
"Perkenalkan saya Nyi Danu, penguasa dihutan larangan ini." ucap Nyi Danu seraya tersenyum manis
"Nyuwun pangapunten Nyi." sahut Riana dengan suara lemah karena kondisinya sudah sangat parah
"Aku tahu tujuanmu cah ayu, aku juga tahu siapa kamu karena kamu anak yang kupilih untuk menghancurkan desa itu." ucap Nyi Danu yang membuat Riana terpaku
"Aku akan menyembuhkanmu, dengan satu syarat." ucap Nyi Danu lagi
"Ap...Apa Nyi?" tanya Riana terbata
"Jadilah penerus ku di hutan larangan ini, dengan begitu kamu akan mendapatkan kekuatan yang jauh lebih dahsyat lagi." ucap Nyi Danu
Riana tampak berfikir, kemudian ia mengangguk.
Kemudian Nyi Danu mendekat kearah Riana, kemudian memperhatikan dada Riana yang terluka bahkan sudah bolong.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Nyi Danu
"Nyi Warsih penunggu hutan keramat." sahut Riana
"Hmmm, kalau kau sudah menjadi penerus ku kau akan bisa membalas mereka dengan mudah. Karena, semua hutan hutan terlarang disini adalah milikku termasuk hutan keramat...
Nyi Warsih adalah muridku, itu sebabnya aku mempercayakan nya untuk memantau hutan keramat dan menjadi penunggu disana." ucap Nyi Danu yang lagi lagi membuat Riana terpaku
"Jika aku membunuh murid Nyi apa Nyi tidak marah?" tanya Riana
__ADS_1
"Jika kamu sudah menjadi penerus ku itu artinya kamu akan menjadi anakku cah ayu, dan mana ada seorang ibu yang marah kepada anaknya sendiri. Apalagi, ini memang kesalahan Nyi Warsih kan." sahut Nyi Danu dengan senyum
"Hatur nuhun Nyi."
"Panggil aku ibu."
"Njih ibu." sahut Riana yang membuat Nyi Danu bahagia
Nyi Danu segera mengangkat sebelah tangannya, yaitu tangan kanan. Kemudian Nyi Danu tampak merapalkan mantra hingga tangan kanan itu diselimuti oleh asap hitam pekat, hingga asap itu semakin banyak.
Kemudian, ia memegang dada Riana atau Nyi Danu menutup lubang menganga yang berada didada Riana dengan telapak tangan nya. Tampak tangan Nyi Danu mengusap usap dada Riana, kemudian ia mengangkat kembali tangannya.
Ajaibnya, luka itu seketika menghilang. Hanya menyisakan darah yang sudah kering, Riana hanya bisa menatap dengan mulut yang menganga.
"Ayo ikuti ibu, karena setelah ini kamu akan tinggal disini bersama ibu." ucap Nyi Danu
Riana tampak berdiri, dan ajaibnya lagi. Hutan yang tadi mereka lihat kini berganti dengan sebuah istana megah, tidak kalah megah dengan istana milik mbah Sastro. Bahkan, jauh lebih megah dan besar milik Nyi Danu.
Itu sebabnya mbah Sastro dulu mengalami kekalahan, karena kekuatan mereka juga diukur dengan seberapa besar istana mereka. Terlebih, Nyi Danu penguasa di semua hutan terlarang. Sementara mbah Sastro, ia hanya penguasa di laut.
Tampak sebuah istana yang keseluruhan nya terbuat dari emas, dan terdapat banyak pengawal. Bentuk mereka seperti manusia, hanya saja mereka memakai pakaian seperti ninja dan berwarna hitam.
Masing masing dari pengawal itu memegang sebuah senjata seperti pedang, salah satu dari pengawal itu membukakan gerbang untuk Nyi Danu. Setelah gerbang dibuka, mereka pun masuk.
Tampak didepan pintu istana, terdapat banyak makhluk yang menyeramkan menjaga pintu istana itu. Seperti gendoruwo, banaspati, landep, dan makhluk besar lainnya.
Salah satu dari makhluk itu yaitu gendoruwo membuka pintu istana, Nyi Danu beserta Riana masuk. Riana tampak takjub melihat istana itu, istana yang sangat besar dengan berbagai barang yang terbuat dari emas juga.
Tiba tiba saja, mereka sudah dikelilingi oleh danyang sari.
"Nduk, kamu istirahat dulu saja. Karena nanti tengah malam kamu harus berendam untuk ritual penobatan Ratu hutan larangan, mereka akan mengantar mu menuju kamar milikmu." ucap Nyi Danu
__ADS_1
"Njih ibu." sahut Riana
Riana pun mengikuti danyang sari untuk menuju kamarnya, sesampainya dikamar. Riana segera merebahkan tubuhnya, hingga tanpa sadar ia tertidur.