
Sinar matahari sudah menyembul dibalik pepohonan, memaksa masuk dari lubang ventilasi dibeberapa rumah warga. Pagi ini terlihat para warga juga sudah sibuk berlalu lalang, ada yang bekerja dikebun dan sebagainya.
"Damar pamit njih bu." ucap Damar berpamitan
"Kamu hati hati yo le." sahut ibunya Damar
"Iyo, salam sama mbok Sri."
Damar pun segera mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi, ia telat bangun hari ini.
"Duh, pasti mereka sudah bekerja iki." gumam Damar
Setelah sampai digapura desa Ketang, Damar semakin bersemangat memacu sepedanya hingga tiba tiba.
Brakkk
"Arghh."
"Gusti, aduh maafkan saya pak." ucap Damar seraya membantu pria yang ditabrak berdiri
Seketika pria bersorban putih itu menoleh, membuat Damar berjingkat kaget.
"Mbah Sastro." pekik Damar
Mbah Sastro hanya tersenyum mengangguk, jujur ada ketakutan tersendiri bagi Damar. Perkataan mbah Bayan selalu terngiang bahwa mbah Sastro bukan manusia, mbah Sastro yang mengerti kecemasan Damar segera buka suara.
"Jangan takut, saya tidak akan menyakiti kamu." ucap mbah Sastro terkekeh pelan
Namun Damar tidak bergeming.
"Sudah waktunya, kamu harus segera saya latih untuk menyelamatkan desa ini." ucap mbah Sastro
__ADS_1
Seketika lamunan Damar buyar, ia segera menoleh kearah mbah Sastro.
"Mengapa harus saya mbah?" tanya Damar
"Karena memang kamu yang dipilih, kamu anak pilihan." ucap mbah Sastro
Namun Damar tidak mengerti maksud dari ucapan mbah Sastro, Damar pun memberanikan diri bertanya.
"Saya tidak mengerti, maksud mbah Sastro anak pilihan itu bagaimana? Bukankah saya lahir dari rahim ibu saya?" tanya Damar
Mendengar pertanyaan Damar yang polos seketika membuat mbah Sastro tergelak, kemudian ia kembali menoleh kearah Damar setelah berhenti tertawa.
"Memang benar, kamu tetap anak Ratna ibu kamu. Tapi kamu lahir karena sudah dipilih, kamu dipilih untuk menyelamatkan desa ini dari ancaman seorang wanita yang masih berhubungan dengan kamu." ucap mbah Sastro
"Siapa wanita itu dan siapa yang memilihku mbah?" tanya Damar
Namun mbah Sastro tidak menjawab, mbah Sastro hanya menatap Damar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sudah waktunya nak, kamu harus segera berlatih karena wanita itu sekarang sudah semakin kuat." ucap mbah Sastro memilih mengabaikan pertanyaan Damar barusan
Walaupun didera rasa penasaran, Damar akan tetap melakukan sesuatu untuk menyelamatkan desa. Namun Damar berada diantara bimbang, ia ingin segera berlatih namun ia juga memiliki janji kepada Riana untuk membangun rumah miliknya.
"Kamu tidak perlu risau, toh pekerja dalam pembangunan rumah itu sudah banyak." ucap mbah Sastro yang bisa membaca pikiran Damar
Sejenak Damar menoleh kearah mbah Sastro seraya berfikir, terlihat Damar berfikir keras dengan garis garis kerutan di dahinya dan alisnya yang menyatu.
Tidak lama, Damar kemudian mengangguk setuju.
"Tapi izinkan saya berpamitan terlebih dahulu kepada para pekerja." ucap Damar
"Baiklah, mbah tunggu kamu disini. Karena, kita berlatih nya bukan di desa ini." sahut mbah Sastro
__ADS_1
Damar mengangguk, dan segera berlalu menuju rumah Riana yang hendak dibangun. Tidak membutuhkan waktu lama, Damar pun sampai.
Segera Damar menepikan sepedanya, dan menghampiri semua pekerja.
"Maaf semuanya, saya ingin mengatakan sesuatu." ucap Damar
Semua para pekerja terlihat menunggu ucapan Damar selanjutnya, berbeda dengan mbah Bayan yang mengangguk seolah sudah mengetahui.
"Mulai sekarang saya tidak bisa lagi membantu untuk membangun rumah ini, dikarenakan saya punya urusan penting. Mohon sekiranya kalian mengerti dan memahami, matur nuwun." ucap Damar
Terlihat para pekerja yang sudah paruh baya mengerti dengan apa yang disampaikan Damar, terlebih kemarin mereka semua tahu bahwa mbah Sastro sudah menampakkan dirinya pada Damar.
Lain halnya dengan pekerja yang masih muda, terlebih Kemal dan Mahendra. Mereka seolah tidak rela jika Damar tidak ada, apalagi Kemal pria manis itu seperti menuntut penjelasan dari Damar.
"Emang kamu punya urusan opo toh?" tanya Kemal penasaran
"Aku akan bercerita, tapi tidak sekarang dan tidak dalam waktu dekat ini." sahut Damar
"Tapi..." perkataan Kemal terhenti kala mbah Bayan memotong ucapan Kemal
"Wes toh Mal, jangan halangi nak Damar kalau mau pergi." ucap mbah Bayan kemudian ia menoleh pada Damar
"Wes sana kalau mau pergi, pasti ia sudah menunggu lama." ucap mbah Bayan lagi
Perkataan mbah Bayan membuat semua orang terpaku, termasuk Damar.
'Mbah Bayan tahu darimana, bukankah ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki ilmu apapun.' batin Damar bertanya tanya
Namun karena didesak oleh waktu, Damar pun menurut untuk segera pergi dan mengesampingkan rasa penasaran nya.
Ia kembali mengambil sepeda nya, setelah ia naik Damar pun segera mengayuh menuju tempat mbah Sastro menunggu. Setelah sampai, mbah Sastro segera naik di boncengan Damar menuju keluar dari desa.
__ADS_1
Tepatnya menuju lautan yang dekat dengan perbatasan kota.
...****************...