
Sesampainya digubuk tempat tinggal Riana, Buto Ireng segera membaringkan tubuhnya yang lemah diatas ranjang bambu. Darah masih saja mengucur deras dari dada, kondisinya semakin melemah.
...****************...
Hingga hari hari berlalu, sudah tiga hari ia berbaring diatas kasur, namun kondisinya tidak ada tanda tanda pemulihan. Bahkan, kondisinya jauh lebih buruk dari sebelumnya.
"Arghh." ia menggeliat lemas
Tampak wajah Riana yang pucat, bahkan bibirnya sudah membiru persis seperti mayat. Perlahan ia bangkit dari tidurnya, kemudian ia duduk sesaat diatas ranjang.
"Nyi Ratu mau kemana?" tanya Buto Ireng yang tiba tiba muncul
"Aku ingin menemui seseorang." sahut Riana
"Tapi kondisi Nyi Ratu belum pulih."
"Tenang saja, aku masih kuat. Berhenti mencegahku, aku harus menemui seseorang itu."
Tanpa memedulikan ucapan Buto Ireng yang berusaha menahannya, Riana segera bangkit dan berusaha berjalan walaupun terhuyung huyung. Sesekali ia akan berpegangan pada dinding gubuk, bahkan langkahnya terasa berat namun ia paksakan.
"Apa Nyi Ratu yakin?" tanya Buto Ireng sekali lagi meyakinkan
"Yakin." sahut Riana
Riana kemudian berjalan menyusuri semak semak belukar yang sedikit basah akibat embun pagi, bahkan tanahnya terasa lembab mengharuskan ia harus hati hati. Kicauan burung menjadi temannya menyusuri langkah di pagi hari, pohon pohon yang menjulang tinggi menambah kesan mencekam.
Ia tidak bisa menggunakan kekuatan nya untuk melesat, karena kondisinya yang semakin melemah. Jika ia paksakan menggunakan kekuatan nya, maka kondisinya akan semakin buruk lagi.
"Arrghhh." ia meringis menahan sakit dibagian dadanya
Satu yang ia tidak tahu, tusuk konde yang menjadi benda pusaka Nyi Warsih sudah pasti mematikan. Tidak hanya ada ilmu hitam di dalam nya, namun juga beracun.
Setelah hampir dua jam lamanya ia menyusuri hutan, kini sudah terlihat beberapa rumah warga. Dikarenakan memang sudah pagi, desa Ketang terasa sepi karena mayoritas penduduk lebih banyak berkebun.
__ADS_1
Ia terus melangkah menyusuri beberapa rumah warga yang terlihat sepi, hingga langkahnya terhenti kala melihat Ginanjar. Kemudian, tanpa sepengetahuan Ginanjar ia mengikuti pelan pelan.
Hingga sampai dirumah milik Ginanjar, segera Riana mengintip dari celah lubang ventilasi. Didalam terlihat banyak orang, Ginanjar beserta lima belas orang yang semua laki laki. Sepertinya mereka anak buah Ginanjar, kemudian ada juga tiga wanita.
Satu wanita duduk di pangkuan Ginanjar, satu lagi memijat punggung Ginanjar, dan satu lagi asyik memberi pria itu kesenangan. Sepertinya, wanita itu adalah wanita penghibur.
Cuihh
Riana merasa jijik melihat pemandangan itu, kemudian terdengar mereka berbicara.
"Apa wanita itu sudah mati bos?" tanya salah satu anak buahnya yang masih Riana kenal, yang bertanya tadi merupakan salah satu warga desa Ketang.
"Sepertinya sudah, walaupun belum dia akan tetap mati." sahut Ginanjar
"Hahahaha." tawa mereka semua
Kemudian salah satu yang berambut gondrong menimpali.
"Ehh, bos masih ingat kan beberapa bulan yang lalu bos membunuh seorang gadis di hutan?" tanya pria berambut gondrong
"Dia adalah Hayati, temanku mengatakan jika ia adik dari Damar. Sementara, Damar ini kekasih Riana." sahut Ginanjar enteng
Deg
Riana yang mengintip dari luar seketika terpaku, tiba tiba seluruh tubuhnya terasa kebas, mulutnya terasa kelu. Matanya sudah berkaca kaca, hingga detik kemudian air mata itu luruh juga.
"Itu sebabnya Riana harus mati, kita sudah mengorbankan banyak orang demi hal ini." ucap Ginanjar lagi
Mereka semua yang ada didalam ruangan itu tertawa, bukan itu yang membuat Riana sakit. Melainkan beberapa orang itu, beberapa anak buah Ginanjar merupakan mayoritas penduduk desa Ketang.
"Terkutuk, biadab, mereka tega melakukan ini kepada sesama warga mereka sendiri." gumam Riana
Riana lekas pergi kembali kehutan, setelah rumah warga sudah tidak terlihat ia berbalik badan menghadap arah pemukiman itu.
__ADS_1
"Aku bersumpah akan membuat desa ini menjadi desa mati, aku bersumpah akan membuat desa ini menjadi desa berdarah. Aku akan menghancurkan kalian semua wahai manusia terkutuk, aku akan menjadikan desa ini menjadi desa mati." ucap Riana seraya air mata berjatuhan membasahi pipi
Langit seolah mendukung perkataan Riana, tiba tiba saja angin berhembus kencang hingga menggoyang kan pohon yang paling besar sekaligus. Awan tiba tiba mendung hingga gerimis berjatuhan, kilat petir menyambar.
...****************...
Sementara ditempat lain, sekitar berpuluh kilo meter. Tepatnya didalam laut, terlihat mbah Sastro sedang duduk bersila seraya memejamkan mata. Disusul dengan Damar yang berada dibelakang nya melakukan hal yang sama, bersamaan dengan Riana yang mengucapkan sumpahnya mbah Sastro seketika membuka mata.
Tampak matanya mengisyaratkan banyak hal, kemudian ia menunduk.
"Sebentar lagi." gumam mbah Sastro yang masih didengar oleh Damar
Perlahan, Damar juga membuka matanya.
"Ada apa mbah?" tanya Damar kala melihat pria tua itu menunduk
"Hanya sebentar lagi saja, maka peperangan itu akan terjadi." ucap mbah Sastro yang membuat Damar bingung
"Siapa sebenarnya wanita itu mbah?"
"Kelak kamu akan tahu le, semoga setelah kamu tahu kamu tidak akan menjadi lemah."
"Baiklah mbah."
"Yowes, kita kembali latihan."
"Iyo mbah, tidak terasa sebulan lebih saya disini." ucap Damar menghela nafas
"Dunia yang kamu tinggali sekarang beda dengan dunia manusia, jika di dunia manusia sekarang mungkin masih sekitar dua minggu kurang." sahut mbah Sastro tersenyum
"Iyo mbah."
"Yowes, ilmu kanuragan dan lainnya sudah berhasil kamu lakukan tinggal kamu asah agar semakin hebat. Besok mbah akan memberikan kekuatan mbah, sekarang latihan dulu."
__ADS_1
"Iyo mbah."
...****************...