
"Nyari siapa ya?"
Deg
Aku tersentak kaget mendengar suara dari belakang, tanpa berbalik badan aku menoleh kearah Mahen. Mahen juga menoleh kearah ku, aku mencoba untuk memberanikan diri untuk melihat siapakah pemilik suara itu.
Pelan pelan aku membalikkan badanku, di depan ku berdiri seorang pria paruh baya yang tak lain adalah pakde Kurdi pekerja kepercayaan bapak dulu.
Pakde Kurdi yang melihatku seketika terbelalak, bahkan bibir mang Kurdi bergetar.
"Noo...Non Riana, ini teh beneran kamu nduk?" tanya Pakde Kurdi matanya bahkan sudah berkaca kaca
Aku hanya mengangguk dan tersenyum sekilas.
"Ka...Kamu masih hidup, beneran ini teh ya Allah Gusti." ucap Pakde Kurdi seraya memelukku erat
Aku memang akrab dengan Pakde Kurdi, bahkan antara mang Kurdi dan mbok Sri tidak ada perbedaannya bagiku. Mereka berdua sama sama telah ku anggap sebagai orang tuaku, terlebih Sekar anak Pakde Kurdi kami sudah bagaikan saudara.
"Ya Allah nduk, pakde teh bersyukur." ucap pakde Kurdi
"Iya pakde, Riana masih hidup." sahutku
Semua orang dulu memang mengira bahwa aku sudah meninggal, karena dulu beritanya santer terdengar bahwa aku dikejar kejar pria berjubah hitam hingga kehutan dan dibunuh.
Berita itu semua adalah kebenaran, hanya saja aku masih selamat. Hingga Damar dan ibunha melihatku masih hidup, sampai sekarang mungkin hanya mereka saja yang tau.
__ADS_1
"Bagaimana ceritanya sih nduk, pakde teh khawatir bener iki." ucap pakde Kurdi
"Ceritanya panjang pakde." sahutku
"Yowes ceritakan saja." ucapnya
Kami bertiga pun duduk dibawah pohon bambu yang berada disamping pekarangan rumahku, kemudian aku menceritakan semuanya mulai dari awal sampai akhir tidak ada yang ketinggalan.
Mulai dari aku dan mbok Sri dikejar oleh pria berjubah, hingga sampai saat ini. Hanya satu yang tidak aku beritahu, yaitu tentang kekuatanku.
Bukan tanpa alasan aku tidak memberi tahu, masalahnya disini ada Mahendra. Aku memang belum sempat menerawang nya, hanya saja entah mengapa aku merasa dia juga turut andil dalam hal ini.
Bahkan disaat aku bercerita, aku memperhatikan mimik wajah Mahendra yang terkadang tegang, terkadang juga takut, entah apa yang ia pikirkan.
Setelah mendengar ceritaku seketika membuat pakde Kurdi menangis histeris, untunglah para warga semua berada di kebun masing masing.
Aku memperhatikan wajah Mahendra yang membuang muka, entahlah aku harus memastikan firasat ku terlebih dahulu.
"Sudah pakde, pakde yang tenang ya yang penting Riana sekarang baik baik saja." sahutku seraya mengusap punggung pakde untuk menenangkan
"Jika Sekar tahu pasti ia juga akan senang." ucap pakde Kurdi seraya melepas pelukan nya
Dengan spontan aku menggeleng cepat, entah mengapa aku merasa ia tidak perlu tahu hal ini.
"Tidak perlu pakde, cukup pakde saja yang tau jangan cerita sama siapa siapa bisa toh." sahutku
__ADS_1
"Tapi kenapa nduk?" tanya nya
Aku hanya diam dan memasang wajah memelas, melihat wajahku yang tersirat akan permohonan seketika membuat pakde Kurdi meng-iyakan permintaan ku.
"Oh iya pakde, aku berencana untuk membangun ulang rumah ini. Tapi aku tidak bisa turun langsung, istilahnya aku hanya membantu dibelakang layar. Alasannya kenapa, nanti cepat atau lambat pakde akan tahu. Sementara tidak mungkin dong jika tidak ada yang turun tangan, apa pakde bisa membantu." ucapku penuh keseriusan
"Bagus itu nduk, pakde akan membantu." sahut pakde Kurdi
"Pakde tidak sendiri kok, ada Mahendra juga yang akan membantu pakde." ucapku seraya menoleh kearah Mahen
"Iya pakde saya akan membantu, saya juga sudah berjanji dengan Riana untuk membantunya membangun kembali rumah ini." ucap Mahen menimpali
"Baiklah." sahut pakde Kurdi
Aku sengaja menyuruh Mahen untuk membantu pakde, dengan begitu aku bisa mencari tahu tentang rahasia yang ia sembunyikan.
Setelah berbincang sesaat pakde dan Mahendra bergegas melakukan tugasnya dengan menemui petinggi desa terlebih dahulu, awalnya Mahendra merasa berat hati meninggalkan ku namun aku terus membujuknya.
Setelah mereka pergi, aku berdiam diri sejenak dipekarangan rumahku. Aku menatap rumah yang hanya tinggal puing puing, hatiku kembali pilu.
Tidak ingin terus terusan seperti ini, aku memutuskan untuk kembali ke desa Sumbul tempat tinggalku sekarang.
Aku berjalan keluar dari pagar rumahku yang sudah ambruk, tiba tiba aku mendengar suara orang yang memanggilku.
"Riana."
__ADS_1
Deg