Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Keanehan


__ADS_3

Bersamaan dengan itu pula, anak buah Ginanjar yang lain juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, berbeda cara bekerja nya. Udin namanya, seorang warga desa yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak laki laki yang baru berusia tiga tahun.


Namun anak laki laki Udin terkena penyakit aneh, mereka sudah membawa kerumah sakit namun petugas medis mengatakan bahwa anaknya sehat sehat saja. Terakhir, Udin membawanya ke orang pintar atau disebut dengan dukun.


Dukun itu hanya mengatakan bahwa Udin harus kembali membawanya ke desa tanpa mengatakan alasan yang jelas, dukun itu hanya mengatakan jika mungkin saja anaknya merindukan desa.


Meskipun sedikit resah dan dilanda ketakutan, namun ia harus memberanikan diri untuk kembali menjejakkan langkah ke desa. Setelah membereskan semua barang barang mereka, mereka pun segera bergegas pergi karena kondisi anaknya semakin memburuk.


'Duh, piye iki yo? Bagaimana jika para demit itu kembali menghantui ku.' batin Udin terus bergejolak


(Duh, bagaimana ini ya?)


"Ayo pak malah melamun." ucap istrinya


"Eh.. Iya iya." sahut Udin


Mereka pun segera meninggalkan tempat mereka bernaung selama beberapa bulan itu, mereka menaiki kendaraan umum untuk sampai ke terminal.


Sesampainya di terminal, mereka segera menaiki kendaraan lagi. Namun betapa terkejutnya Udin melihat seseorang yang ia kenali, teman seperjuangan.


"Juki." pekik Udin


Seseorang yang ia kenali adalah Juki, namun anehnya Juki tampak seperti tidak terusik atau bahkan menyadari keberadaan Udin. Ia terlihat seperti orang linglung, tatapan matanya hanya menyorot kedepan dengan pandangan kosong.


Udin merasakan keanehan, namun segera ia tepis kembali. Udin berusaha untuk berfikir positif, kemudian ia duduk di kursi yang berada disamping Juki agar bisa mengobrol.


"Kamu pulang juga Juk?" tanya Udin


Juki hanya mengangguk pelan seperti slowmotion dan sangat kaku seolah lehernya sulit untuk di gerakkan, melihat hal itu seketika Udin bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kok mulih?" tanya Udin lagi


(Kenapa kamu pulang)


Kali ini Juki hanya menggeleng kaku masih dengan pandangan lurus kedepan, kini Udin benar benar dilanda ketakutan. Padahal, ia tidak hanya berdua dengan Juki tapi masih banyak orang lainnya.


"Kamu kenapa toh Juk? Aneh sekali." tanya Udin lagi


Juki pun menoleh kearah samping dimana Udin berada dengan gerakan slowmotion, mata Udin dan Juki pun saling berserobok. Seketika Udin semakin bergidik ngeri, entah mengapa Juki terlihat seperti hantu sangat menyeramkan.


Mereka pun hanya bediam diri sepanjang perjalanan, sementara istrinya Udin pun memilih untuk diam karena ia cukup fokus kepada anaknya yang tengah tertidur pulas. Padahal, baru tadi anaknya seperti mengalami sakaratul maut.


Sesekali Udin melirik kearah Juki, tampak Juki sangat betah seperti tidak mengalami pegal. Juki terus berada diposisi semula tidak bergeser sedikitpun, duduk dengan tegap dan pandangan kosong kedepan.


Dan sesekali kala merasakan ada yang memperhatikan nya, Juki pun melirik kearah Udin. Bahkan sesekali mata mereka saling berserobok membuat Udin ketakutan, Juki menatap Udin dengan tajam membuat Udin tidak berani menoleh lagi.


......................


Setelah lama didalam kendaraan transportasi mereka pun sampai di desa, lebih tepatnya di hutan namun bukan hutan. Karena sebelum masuk ke desa memang harus melewati pepohonan yang menjulang tinggi, namun bukan hutan yang benar benar rimba.


Tanpa memperdulikan mereka, Juki segera melengos pergi meninggalkan Udin beserta anak istrinya. Udin hanya melongo melihat itu, ia berfikir mungkin saja Juki terlalu bersemangat untuk kembali ke desa.


"Dia aneh sekali yo." ucap Udin


"Iyo pak, seperti orang linglung." sahut sang istri


Udin menoleh kearah sang istri, namun matanya terfokus kepada anaknya.


"Lihat buk, kondisinya sudah membaik." ucap Udin terkejut

__ADS_1


"Iya pak, mungkin saja yang dikatakan oleh dukun itu benar." sahut sang istri sekena nya


Tampak anak Udin yang tadinya sangat mengenaskan hingga tidak sanggup berdiri, kini ia berdiri tegak seraya tertawa riang.


Mereka pun kembali berjalan melewati pepohonan, walaupun pepohonan begitu tinggi menjulang namun tidak ada kesan mencekam seperti hutan biasa lainnya atau hutan keramat. Hingga mereka sampai disebuah gapura desa, disana mereka melihat bahwa Juki masih berdiri mematung. Kali ini, ia lebih linglung dibandingkan dengan tadi.


"Kowe kenapa berdiri disini toh Juki?" tanya Udin kesal sebab sedari tadi temannya itu seperti orang gila


"Aku kenapa bisa ada disini?" Juki balik bertanya


"Dasar gendeng." sahut Udin


(Dasar gila)


Juki kembali memperhatikan sekitar, sekarang ia ketakutan. Seingatnya ia tertidur dirumah kecilnya yang berada dikota, begitu bangun justru malah ia berada di sebuah desa yang sangat dihindari.


"Kowe ono opo toh? Tadi kan kita barengan." ucap Udin sementara istrinya sudah pergi lebih dulu dan anaknya


Sontak ucapan Udin membuat Juki menoleh kearahnya dengan pandangan bertanya.


"Opo iyo?" tanya Juki heran


Udin pun kembali bercerita awal mereka bertemu termasuk keanehan Juki, Juki menyimak semua ucapan Udin yang membuat ia semakin bingung.


Kemudian giliran Juki yang bercerita bahwa ia sedang tertidur dirumahnya, begitu bangun ia sudah berada didepan gapura desa. Kini mereka berdua pun sudah merasakan ada yang janggal, namun tidak berani untuk kembali karena hari sudah sangat sore.


Mau tidak mau mereka berdua melangkahkan kaki memasuki desa Ketang, setelah memasuki mereka merasakan hawa tidak nyaman menerpa tengkuk mereka seperti sudah ditandai.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2