
Keesokan paginya, matahari pagi sudah menampakkan dirinya dan menembus melalui lubang ventilasi. Yang menyebabkan seorang wanita cantik namun berkulit pucat dan dingin menggeliat, ia kemudian terbangun.
Segera ia berlalu kesumur untuk membersihkan tubuh.
Kriettt
Braakk
Riana membuka dan menutup pintu, ia lekas berjalan kearah dapur. Sesampainya didapur, ia melihat mbok Sri sedang memasak dan dibantu oleh Damar.
"Kamu sudah bangun?" tanya Damar yang melihat Riana sudah berdiri tidak jauh dari mereka
Sontak hal itu membuat atensi mbok Sri yang sedang memasak mengalihkan pandangan nya kebelakang, ia tersenyum hangat kearah Riana.
"Wes mandi dulu nduk, sudah mbok siapkan air hangat tadi." ucap mbok Sri
"Njih mbok." sahut Riana
Segera Riana berlalu tanpa memperdulikan Damar, sementara Damar hanya mampu menatapnya dengan sendu. Mbok Sri yang berada tidak jauh dari mereka pun tidak luput dari pengelihatan nya, wanita paruh baya itu hanya bisa menahan nafas.
...****************...
Setelah selesai sarapan pagi, tidak lupa dengan mengurus kebutuhan Ratna ibunya Damar. Damar segera meminta izin untuk pulang ke desa Ketang.
"Mbok, Riana kalau begitu saya pamit dulu." ucap Damar
"Tunggu Damar." spontan Riana memegang lengan Damar
Hingga tiba tiba hawa panas menjalari mereka berdua, suasana canggung pun tidak dapat dihindari lagi. Segera Riana melepaskan tangannya dari lengan Damar, kemudian Riana tampak menetralkan nafasnya.
"Sebaiknya kamu jangan balas apapun juga Damar." ucap Riana mengawali
Seketika Damar terbelalak mendengar hal itu.
"Ma...Maksud kamu apa Riana, dia sudah berani menyakiti ibuku."
"Aku tahu Damar, itu sebabnya sebaiknya kita mengikuti permainan mereka saja.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Biarkan Sekar mengetahui bahwa bude Ratna sudah tiada, dan kamu anggap saja tidak mengetahui apa apa. Aku sudah pernah cerita bukan tentang sosok pria berjubah hitam itu, sekarang tujuan kita bagaimana cara mengetahui siapa sosok dibalik jubah hitam itu. Sementara Sekar, ia melakukan semua itu untuk agar aku menampakkan wajahku. Jadi, pria berjubah hitam itu dan Sekar biar menjadi urusan ku." ucap Riana panjang lebar
Seketika Damar terperangah, hingga mulutnya berbentuk O.
"Kamu benar juga Riana." sahut Damar manggut manggut
"Aku ada satu rencana yang membuat aku dan mereka bertemu, tapi aku harus menyelesaikan urusanku terlebih dahulu Damar."
"Urusan apa?"
"Kamu tidak perlu tahu Damar."
Seketika Damar terdiam.
"Perlahan lambat lambat katakan saja pada Sekar bahwa kamu sudah bertemu denganku, tidak untuk waktu dekat ini." ucap Riana lagi
"Baik, aku mengerti Riana."
"Aku ingin menanyakan suatu hal Riana, meskipun ini tidak penting." ucap Damar memecah kesunyian
"Apa." sahut Riana
"Siapa Mahendra itu?" tanya Damar
Tampak Riana menarik nafas, disaat hendak menjawab terdengar ketukan pintu.
Tok tok tok
"Sepertinya ada tamu." ucap Damar
"Biar aku lihat Damar." sahut Riana
"Tidak perlu Riana, biar aku saja." ucap Damar seraya bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu utama yang hanya beberapa langkah saja dari ruang tamu.
Krieeet
__ADS_1
Pelan pintu dibuka oleh Damar hingga terbuka lebar dan menampakkan seraut wajah tampan, berkulit putih dan mancung.
Seketika senyumnya yang lebar menghilang melihat seorang pria yang membukakan pintu.
Pria dengan wajah yang manis, berkulit coklat terang dan tampan. Alis dan bulu mata yang tebal, serta memiliki kumis yang menambah kesan ketampanan nya.
Seketika Damar yang melihat pun hanya diam, ia menerka nerka siapa kiranya pria yang ada didepan nya ini. Hingga suara Riana mengejutkan mereka berdua.
"Siapa Damar?" tanya Riana yang sudah ada dibelakang Damar
Riana pun melongok kedepan dari belakang Damar, seketika wanita cantik itu juga hanya bisa terpaku.
"Mahen." ucap Riana
Seketika senyum Mahendra kembali mengembang, berbeda dengan Damar yang terkesiap mendengar Riana menyebutnya Mahen.
'Jadi ini yang bernama Mahendra.' batin Damar
"Maaf Riana, aku pikir kamu tidak ada tamu." ucap Mahen
"Tidak apa, silahkan masuk." sahut Riana datar seperti biasanya bahkan ia tidak pernah tersenyum lagi entah sudah berapa lama
Mahendra tampak sungkan, didalam hati ia juga bertanya tanya siapa kiranya pria yang bersama dengan Riana ini.
"Emm... Nanti sajalah. Lagian, tidak ada urusan penting kok kalau begitu aku pamit dulu." ucap Mahen
Belum sempat Riana menjawab, Mahendra segera berlalu dari hadapan mereka berdua. Sementara Damar, pria berwajah tampan itu masih terpaku didepan pintu dengan wajah masam.
Sedangkan Riana segera masuk kedalam kamar ibunya Damar, ia tampak enggan untuk memberikan klarifikasi.
Damar menoleh kebelakang dan mendapati Riana sudah tidak ada, ia segera mencari Riana dan menemukan pintu kamar ibunya terbuka. Damar segera masuk dan melihat Riana dengan telaten membersihkan tubuh ibunya, kondisi fisik ibunya yang tak menentu membuat sulit untuk dimandikan.
Tanpa sadar Damar tersenyum melihat itu, ia ingin tetap seperti ini bersama Riana. Namun, apakah bisa?
Melihat ibunya membuat Damar tidak jadi menanyakan tentang Mahendra, ia pun memilih berpamitan untuk kembali ke desa Ketang.
...****************...
__ADS_1