
Rombongan mbah Sastro beserta beberapa warga pria paruh baya pun menuju hutan larangan dengan langkah kaki yang lebar, walaupun harus butuh waktu untuk menyakinkan para warga hingga akhirnya mereka setuju.
"Beneran tidak apa apa kan mbah?" tanya salah satu warga yang bernama Prapto untuk memastikan
"Tenang saja, selagi kita semua menjaga sikap dan sifat kita pasti akan aman." sahut mbah Sastro
Berbeda dengan Yayan dan Mamat, rombongan mbah Sastro dan beberapa warga tampak menempuh jalan yang jauh dan panjang hingga berjam jam mereka berjalan tak kunjung sampai juga.
Wajar saja, karena mendiang Yayan dan Mamat memang sang Ratu hutan larangan menginginkan mereka. Sedangkan rombongan mbah Sastro tidak, itu sebabnya mereka berjalan di jalan yang semestinya hingga berjam jam lamanya.
"Apakah masih lama mbah?" tanya salah satu warga yang lain yang entah sudah pertanyaan keberapa
"Tidak, sebentar lagi sampai." sahut mbah Sastro dan juga jawaban untuk yang kesekian kali hingga Kemal sendiri kesal dibuatnya
"Perasaan sedari tadi mbah katakan sebentar lagi sampai, tapi hingga kakiku hampir mau patah tapi tidak kunjung sampai." ucap Kemal kesal
Mendengar perkataan itu membuat mang Kurdi terkikik geli dalam hati, sementara mbah Sastro hanya tersenyum.
__ADS_1
"Wes malu toh Mal, mbah Sastro saja yang sudah sangat sepuh hingga membungkuk begitu masih kuat. Lah sampeyan baru segini saja sudah mengeluh, dasar anak muda." gerutu mang Kurdi
Hingga setelah lama berjalan, dari kejauhan mereka melihat siluet tubuh seseorang yang sedang berdiri membelakangi mereka. Tepatnya, sosok itu sedang menatap lurus kedepan kedalam hutan larangan.
"Sopo iku, jangan jangan demit." ucap Kemal seraya bergidik ngeri
"Pangeran Segoro." sahut mbah Sastro singkat padat dan jelas
Seketika Kemal menganga lebar, dalam hati Kemal mengagumi Pangeran Segoro yang tidak takut berada ditempat terangker ini.
"Apakah dia juga demit sampai tidak takut sendiri mbah?" tanya Kemal spontan yang rupanya kata hati dengan pikiran nya tidak sejalan
"Huss lambemu iki." sentak mang Kurdi
Sementara Kemal hanya meringis, dalam hati Kemal masih bertanya tanya apakah Pangeran Segoro masih manusia atau bukan mengingat ia adalah penguasa lautan.
Hingga langkah mereka terhenti tepat didekat Pangeran Segoro yang sudah menatap mereka kala menyadari langkah kaki yang ramai, hingga semua mata tertuju pada dua tubuh yang tergeletak tidak jauh dari samping Pangeran Segoro.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" tanya salah satu warga yang bernama Prapto tadi
Hingga Prapto, Jojo, dan Panjul yang ikut dalam rombongan berjalan mendekati dua sosok itu. Sementara Pangeran Segoro hanya membiarkan saja, hingga tangan Panjul terulur mengecek kondisi tubuh yang sudah tidak bernyawa.
Perlahan Panjul menggeleng pelan setelah mengecek denyut nadi, dan nafas kedua sosok itu. Melihat hal itu beberapa warga yang berdiri sontak heboh, berbagai kasak kusuk terdengar.
"Sudah sebaiknya kita membuat tandu karena kita tidak membawa persiapan untuk mengangkat kedua mayat itu." ucap mbah Bayan mewakili mbah Sastro
Semua warga kompak mengangguk dan mencari beberapa kayu yang dirasa kuat, dan akar akar kayu untuk mengikat tandu. Setelah terkumpul mereka pun merakit tandu buatan sebanyak dua buah, kemudian lekas mereka mengangkat mayat Yayan dan Mamat keatas tandu masing masing.
"Angkat tandunya dan berjalan lah terlebih dahulu didepan." ucap mbah Sastro yang langsung diikuti oleh warga
Mbah Bayan berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan, disusul dengan para warga yang menggotong tandu. Kemudian rombongan mbah Sastro berjalan paling akhir, sampai disini belum ada yang berani menanyakan apa yang terjadi menimpa kedua mayat yang sudah terbujur itu.
Hingga malam tiba mereka sampai di desa karena mereka harus menempuh perjalanan jauh, Pangeran Segoro ataupun mbah Sastro tidak terbesit sedikitpun untuk melakukan jalan pintas. Karena mereka tidak boleh asal sembarang menunjukkan ilmu walaupun dalam keadaan terdesak, dan lagipula bagi mereka ini belum saatnya.
...****************...
__ADS_1