
POV Riana
Hingga sore menjelang senja aku sedang duduk bersantai di teras, terlihat dari kejauhan mas Damar tengah mengayuh sepeda menuju kesini. Setelah sampai di depan ku, mas Damar pun mengembangkan senyumnya.
Segera mas Damar memarkirkan sepedanya disamping rumahku, lekas mas Damar turun dari sepeda dan menarik pergelangan tanganku. Mas Damar membawaku ke ruang tamu, kami pun segera duduk.
"Mas mau bicara sesuatu." ucapnya
"Bicara apa?" tanyaku
"Sekar wes gendeng."
Aku tidak terkejut lagi mendengarnya, jujur aku meneror Sekar hanya sekali. Tapi siapa sangka, ketakutan membuatnya berhalusinasi hingga seperti ini.
"Apa kamu membuatnya gila?" tanya mas Damar
Seketika aku menatap mas Damar dengan tajam, bagaimana bisa ia berfikiran seperti itu.
"Aku hanya meneror nya sekali saja mas." sahutku
"Lalu kenapa..." mas Damar tidak melanjutkan perkataan nya
"Ketakutan nya sendiri yang membuat nya seperti itu bukan aku."
"Hmmm." mas Damar hanya manggut manggut
"Apa kebun sudah selesai panen mas?" tanyaku
"Sudah, mungkin besok kami akan memulai pembangunan rumah kamu dulu. Sementara untuk pembersihan kebun, biar pekerja yang lain saja."
Aku hanya mengangguk.
"Loh nak Damar sudah datang, mau mandi atau makan dulu?"
Tiba tiba suara mbok Sri mengagetkan kami, sementara mbok Sri sendiri hanya tersenyum.
__ADS_1
"Makan saja mbok, kebetulan sepulang dari kebun Damar tadi mampir kerumah dulu untuk mandi." sahut mas Damar
"Baiklah, yasudah mari." ucap mbok Sri
Kami pun segera mengikuti langkah mbok Sri menuju Dapur, disana sudah terlihat bude Ratna yang sedang menata makanan diatas meja. Melihat kami yang sudah berdiri tidak jauh dari nya, bude Ratna pun tersenyum.
"Mrene." ucap bude Ratna
Mrene / Kemari
Kami pun segera menghampiri bude Ratna dan duduk di kursi rotan, bude Ratna dengan sigap mengambil piring yang terbuat dari seng untuk kami.
"Ini tadi bude sama mbok masak makanan kesukaan kamu." ucap bude Ratna seraya menyendok tumis kangkung dan lele sambal terasi kepiring ku
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi nya, Kami pun segera makan dengan lahap.
...****************...
Setelah selesai makan, kami semua pun kini sedang duduk bersantai diruang tamu. Ini kesempatanku untuk mengutarakan isi hatiku yang ingin tinggal sendiri di hutan sana, mas Damar dan mbok Sri sudah tahu.
"Bude, Riana ingin mengatakan sesuatu. Kepada mas Damar dan mbok Sri juga, meskipun kalian sudah tahu." ucapku menoleh kearah mas Damar dan mbok Sri
Seketika semua pasang mata menatap kearah ku, tatapan mereka seperti mengintimidasi ku.
"Ada apa nduk?" tanya bude Ratna seraya mengernyitkan alis tanda bingung
"Aku akan pergi besok ke sesuatu tempat." sahutku
"Kemana nduk? Dan kenapa, apa kamu tidak nyaman bude dan Damar disini?" tanya bude Ratna beruntun
Aku lekas menggeleng cepat, bukan seperti itu maksudku. Tapi aku juga sudah menduga jika reaksi bude tidak jauh beda dengan Damar, mereka mengira jika aku tidak nyaman bersama mereka dan memilih pergi.
Namun aku juga bingung bagaimana cara menjelaskan, tidak mungkin juga jika aku mengatakan bahwa aku ingin pergi untuk mengasah ilmu hitamku.
"Nduk." ucap bude Ratna kala aku hanya diam saja
__ADS_1
Aku menoleh kearah mbok Sri berharap membantuku menjawab pertanyaan bude Ratna, mbok Sri yang mengerti akan tatapanku lekas bersuara.
"Bukan seperti itu Ratna, kamu jangan salah paham dulu. Riana ingin pergi untuk mencari orang yang sudah melenyapkan keluarga Pramono, itu saja." ucap mbok Sri
Mbok Sri memanggil ibunya Damar memang dengan nama, lantaran usia mereka bisa dibilang sebaya. Hanya saja, usia mbok Sri sedikit lebih tua dari bude Ratna mungkin hanya beda setahun.
"Kamu jangan aneh aneh nduk, mereka orang orang yang berbahaya." ucap bude Ratna cemas
"Bude tenang saja, aku pasti bisa menjaga diri." sahutku
"Tapi..." bude Ratna tidak sanggup untuk meneruskan perkataan nya
"Percaya padaku bude." ucapku meyakinkan seraya menggenggam tangan bude Ratna
Setelah cukup lama meyakinkan bude Ratna akhirnya ia setuju juga, pembicaraan pun telah usai. bude Ratna sudah tidur didalam kamarnya, sementara mas Damar memilih pulang untuk ke desa Ketang.
Kini, hanya aku dan mbok Sri saja yang masih berada diruang tamu. Aku melihat wajah mbok Sri yang resah, akupun menyuruh mbok Sri untuk bicara.
"Katakan saja mbok, apa yang membuat mbok resah." ucapku
"Ehh.. Kamu yakin ingin tinggal sendiri nduk? Kamu jangan bohongi mbok yo, mbok sudah bersama kamu saat kamu baru pertama kali lahir dan masih jadi bayi merah. Mbok tahu bagaimana kamu, kamu tidak akan bisa melakukan semuanya sendiri." ucap mbok Sri
"Siapa yang nanti akan memasak buat kamu, siapa yang membuat air hangat untuk kamu mandi, dan siapa yang akan mencari kembang kembang." ucap mbok Sri
Ucapan mbok Sri tidak salah, sedari kecil memang keluarga ku sangat memanjakan ku. Semua dilakukan oleh para abdi dirumah ku dulu, jika aku ingin sesuatu para abdi juga yang melakukan.
Tapi aku harus bisa, aku harus bisa mandiri. Karena setelah itu, aku akan berhadapan dengan musuh ku sendiri.
"Aku pasti bisa mbok." ucapku
Mbok Sri hanya menahan nafas dan menghembuskan nafas kasar, mungkin ia tahu sekuat apapun membujuk aku tidak akan goyah dengan keputusan ku.
"Kamu persis mirip bapakmu nduk, kalian keras kepala. Mengapa kamu tidak meniru ibumu saja, yang penurut." ucap mbok Sri mendengus kesal
Aku hanya tersenyum melihat nya, kemudian kami pun memilih untuk tidur.
__ADS_1
...****************...