Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Menemukan


__ADS_3

Hari sudah merangkak menjadi siang, matahari menyembul menyinari desa. Sinar matahari sangat menyengat menemani beberapa warga yang sibuk di kebun masing masing, sesekali mereka mengusap peluh yang membasahi wajah.


Namun, matahari yang sangat terik itu tidak membuat dua pemuda tampan yang sedang berjalan menyusuri lenggang nya jalanan desa Ketang. Mereka adalah Pangeran Segoro dan Kemal, sepanjang jalan mereka tampak mengobrol.


"Kita mau kemana yo?" tanya Kemal tepatnya itu adalah gumaman pada diri sendiri


"Memang mau kemana?" Pangeran Segoro berbalik bertanya membuat Kemal mendecih kesal


"Bagaimana jika temani aku saja." ucap Pangeran Segoro lagi


"Kemana?" tanya Kemal seraya berhenti berjalan


"Hmm ke makam, sudah lama juga aku tidak melihat makam adikku." sahut Pangeran Segoro


"Yoweslah, ayo." ucap Kemal


Baru selangkah mereka berjalan mereka bertemu dengan Mahendra, hingga kini jarak ketiganya semakin dekat.


"Eh Mahen, habis darimana?" tanya Kemal


"Desa Sumbul Mal, sudah lama juga aku tidak kesana." Sahut Mahendra seraya berhenti didepan Kemal dan Pangeran Segoro


Pangeran Segoro yang mendengar itu seketika penasaran dengan Ratna ibunya, Pangeran Segoro pun ingin menanyakan keadaan ibunya pada Mahendra. Barang kali Mahendra tahu, begitu pikirnya.


"Kamu tahu tidak bagaimana keadaan ibuku?" tanya Pangeran Segoro


"Bude Ratna baik baik saja, bahkan tadi kami bertemu." sahut Mahendra


"Baiklah." ucap Pangeran Segoro seraya manggut manggut


"Apa kamu tidak ingin menjenguk ibumu?" tanya Mahendra


"Untuk sekarang tidak, keadaan didesa masih belum baik baik saja." sahut Pangeran Segoro


"Wes, kalian mau kemana toh?" tanya Mahendra menatap kearah Kemal dan Pangeran Segoro


"Makam, ikut opo ora?" tanya Kemal


Mahendra mengernyit kan alis bingung.

__ADS_1


"Mau ngapain?" tanya Mahendra


"Nyekar, ikut ora?" tanya Kemal lagi


(Nyekar/ziarah kubur)


"Yoweslah, kulo melu." sahut Mahendra


(Yasudahlah, aku ikut)


Mereka bertiga pun kembali berjalan menyusuri jalanan desa Ketang yang lumayan sepi karena penduduk rata rata bekerja di kebun, sesekali mereka akan melempar senyum kepada beberapa warga yang mereka temui.


Makam umum lumayan jauh diujung desa, mereka harus melewati kebun beberapa warga. Hingga akhirnya mereka sampai di gerbang makam, hanya batu besar berwarna hitam saja sebagai gerbang sekaligus penanda makam di desa itu.


"Kita masuk?" tanya Kemal yang pasti dia sendiri sudah tahu jawabannya


"Kalau sampean takut sampean tunggu disini saja." sahut Mahendra seolah tahu pikiran Kemal


"Ora gelem." sahut Kemal cepat membuat dua temannya tertawa


(Tidak mau)


Mereka bertiga pun melangkahkan kakinya memasuki area kuburan, aroma bunga kamboja menyambut kedatangan mereka. Ditambah semilir angin menerpa wajah mereka bertiga menambah kesan menyeramkan, apalagi pohon pohon tumbuh menjulang tinggi membuat cahaya matahari tidak dapat masuk sepenuhnya.


Hingga dari jarak yang tidak terlalu jauh, mereka bertiga melihat siluet tubuh manusia yang tergelatak diatas gundukan tanah.


"Itu manusia opo setan?" tanya Kemal tiba tiba


"Sepertinya manusia." sahut Mahendra


"Ngenteni sedhela, itu makam Hayati kan?" tanya Kemal pandangannya mengarah pada Pangeran Segoro


(Tunggu dulu)


Deg


Tanpa mereka sadari, jantung Mahendra berdetak kencang. Semilir angin yang berhembus tidak mampu menghilangkan keringat dingin yang mengucur tiba tiba ditengkuk nya, Mahendra ingat betul waktu itu ia tidak sengaja mendengar perkataan Ginanjar kepada anak buahnya tentang Hayati.


'Jangan jangan yang tergelatak itu adalah.' batin Mahendra tidak mampu meneruskan isi hatinya

__ADS_1


Dan tanpa Mahendra sadari, Pangeran Segoro tahu segala keresahan Mahendra. Bahkan, Pangeran Segoro juga dapat mendengar isi hati orang lain berkat ilmu yang ia miliki.


Mereka pun menghampiri sosok yang tergelatak dalam keadaan tengkurap itu, setelah jarak mereka tinggal selangkah Kemal segera sigap membalikkan tubuh sosok pria itu.


Deg


Jantung mereka berpalu cepat, lebih tepatnya jantung Kemal dan Mahendra. Sementara Pangeran Segoro biasa saja seolah ia sudah tahu, tampak Pangeran Segoro mengepalkan erat kedua tangannya kala melihat wajah Ginanjar.


Saking eratnya kepalan itu, telapak tangan Pangeran Segoro sampai terluka akibat kukunya sendiri.


"Ini abang sampean toh." ucap Kemal pada Mahendra namun pandangannya masih mengarah pada Ginanjar


Mahendra hanya diam tidak menjawab, pikirannya masih berkelana tentang Ginanjar yang berada disini.


"Mungkin kah ia memiliki salah kepada mendiang Hayati, terus Hayati membawa dia ke kuburan ini." ucap Kemal bergidik ngeri sekaligus geli atas perkataan nya sendiri


Sontak ucapan Kemal membuat empat pasang mata menoleh kearahnya, Kemal yang menyadari itu seketika cengengesan.


"Sudah lebih baik dibangunkan, tidak baik tiduran di makam." ucap Pangeran Segoro membuat Kemal berdecak kesal


"Cetha yen dheweke semaput lan diarani turu." ucap Kemal sinis


(Sudah jelas dia pingsan malah dikatain tiduran.)


Mahendra pun mencoba untuk membangunkan Ginanjar dengan cara mengguncang tubuhnya, tidak lama Ginanjar menggeliat lemah. Mahendra kemudian membantu Ginanjar duduk, Ginanjar mengerjapkan matanya.


"Kenapa bisa ada disini bang?" tanya Mahendra


Mendengar suara Mahendra seketika membuat Ginanjar memperhatikan sekitar, hingga manik matanya melihat Mahendra beserta temannya telah berdiri didepannya.


"Tidak tahu." sahut Ginanjar berbohong


Pangeran Segoro mengangkat salah satu sudut bibirnya hingga terangkat keatas mendengar jawaban Ginanjar, namun mereka tidak menyadari itu.


"Lebih baik kamu antar pulang saja, kami masih mau nyekar." ucap Kemal kepada Mahendra


Mahendra mengangguk kemudian membantu Ginanjar berdiri, mereka pun segera meninggalkan Kemal dan Pangeran Segoro disana.


"Aneh." desis Kemal yang masih bisa didengar Pangeran Segoro

__ADS_1


Tanpa memedulikan Kemal, Pangeran Segoro segera berjongkok dan mulai mencabuti rumput yang tumbuh subur diatas pusara sang adik.


...****************...


__ADS_2