Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Melepaskan


__ADS_3

DOUBLE POV


POV Riana


Keesokan harinya, setelah sarapan pagi aku berencana untuk ke kebun hanya untuk melihat mas Damar, sungguh aku sangat merindukannya.


"Loh kamu mau kemana nduk rapi rapi begini?" tanya ibu yang melihatku di ambang pintu kamar


"Eumm... mau keluar sebentar bu." sahutku seraya menautkan jari jariku


"Iyo tapi mau kemana toh?" tanya ibu lagi


"Ehh mau ke pasar sama mbok Sri." sahutku


"Loh memang nya ngapain?" tanya ibu lagi


"Ehh... Eumm mau bantuin mbok Sri bu, kami mau belanja banyak makanan untuk nanti kedatangan keluarga juragan Karno. Takut nya mbok Sri tidak sanggup bawa toh, ya sudah aku ikut saja untuk membantu membawa kan nanti." sahut ku gugup seraya memilin baju yang ku kenakan


"Ohh begitu toh, ya sudah sana." ucap ibu


Tiba tiba mbok Sri dari belakang entah hendak kemana, lewat melintasi kami ibu langsung memanggil.


"Mbok iki Riana udah siap siap." ucap ibu


Aku hanya bisa menahan nafas dalam, Mbok Sri mengernyitkan alis bingung.


"Memang nya mau kemana toh?" tanya mbok Sri bingung


"Loh pie toh mbok, kan kalian mau ke pasar toh." ucap ibu ikut bingung


Mbok Sri menatapku, aku balik menatap nya seraya mengangguk kan kepala pelan sebagai kode. Mbok Sri yang langsung tanggap, langsung menyahut.


"Oh...iya iya nyonya, maaf mbok teh lupa." ucap mbok Sri sembari menepuk jidat nya


Ibu hanya menggeleng gelengkan kepala nya melihat tingkah mbok Sri.


"Ya wes hati hati ya." ucap ibu seraya tersenyum


Mbok Sri hanya mengangguk, ibu mengelus pipiku sesaat sembari berlalu menuju kamar nya. Mbok Sri menatapku, dan bertanya.


"Memang nya kamu teh beneran mau ikut ke pasar sama mbok?" tanya mbok Sri seraya menatapku dengan curiga


Karena sudah terlanjur aku pun hanya mengangguk kan kepala, niat hati mau melihat mas Damar ah sudah lah.

__ADS_1


"Beneran mbok, memang nya tidak boleh ya Riana ikut?" tanyaku mengerucutkan bibir


"Loh loh... ya boleh saja, sudah jangan dramatis begitu." ucap mbok Sri


Aku hanya tersenyum


"Ya sudah kita berangkat sekarang?" tanya mbok Sri


Aku mengangguk setuju, kami pun berjalan keluar dan pergi menuju ke pasar dengan di antarkan mang Kurdi, centeng plus supir kelurga kami dengan naik kereta kuda.


...****************...


Setelah membeli bahan yang hendak di beli, kami pun bergegas pergi.


"Sudah selesai mbok?" tanya mang Kurdi pada mbok Sri


"Sudah semua."


"Kalau begitu ayo kita pulang."


Mbok Sri mengangguk dan langsung naik ke kereta, mang Kurdi menatapku sekilas aku hanya tersenyum dan mengangguk dan masuk ke dalam kereta.


Sesampainya di gerbang rumah, aku melihat mas Damar berjalan memunggungi ku. Mas Damar tidak menoleh ke belakang, aku hendak memanggil tapi sudah jauh kami langsung masuk ke dalam rumah.


"Loh sudah pulang nduk?" tanya ibu menyambut kami


"Ya wes kamu istirahat saja." ucap ibu tersenyum


Mareka tidak membahas soal mas Damar sedikit pun, jika aku bertanya juga pasti tidak akan ada jawaban. Aku cukup lelah jika harus berdebat, aku memutuskan untuk masuk ke kamar


...****************...


POV Damar


Setelah mengetahui rencana bejat Purwo semalam, aku berniat untuk memberi tahu pak lurah Pramono hari ini. Selepas sarapan bersama ibu dan Hayati adikku, aku memutuskan untuk menemui keluarga Riana aku juga sangat merindukan nya.


Aku lekas mengambil sepeda di samping rumah, aku mengayuh sepeda dengan sangat kencang. Karena setelah dari rumah pak lurah, aku masih ke kebun pak lurah untuk bekerja.


Sesampainya nya di depan teras, salah satu centeng pak lurah langsung masuk ke dalam menemui pak lurah. Tidak berselang lama pak lurah keluar, dan mengajak ku masuk.


Setelah dipersilahkan duduk, aku pun duduk.


"Mang Supri tolong siapin teh njih, soalnya mbok masih di pasar sama Riana." ucap pak lurah seraya melirik ku

__ADS_1


Pantas saja aku tidak melihat Riana, padahal hati sudah sangat merindukannya.


"Nggeh pak lurah." ucap centeng yang di panggil mang Supri dengan sopan dan berlalu ke belakang


Tidak lama kemudian, mang Supri datang membawa nampan berisi teh dan makanan kemudian langsung berlalu ke luar.


"Jadi mau apa kamu datang kesini." tanya pak lurah mengawali pembicaraan


"Ini tentang Purwo." sahutku


Pak lurah melirik ku sekilas dan menghembuskan nafas panjang.


"Saya sudah tidak ingin berdebat dengan kamu, karena jika Riana tahu pasti dia akan semakin membenci saya. Tapi saya katakan sekali lagi, lepaskan lah, lepaskan Riana. Jika tidak, kamu juga yang akan terluka oleh perasaan mu sendiri karena Riana akan menikah besok."


Deg


Hatiku terasa sesak mendengar penuturan pak lurah, aku menekan dada ku untuk mengurangi sakit nya.


"Kenapa cepat sekali?" sahutku memberanikan diri untuk bertanya


"Lebih cepat lebih baik, untuk apa kamu datang kesini." ucap pak lurah menatap lurus ke depan


"Aku hanya ingin mengatakan Purwo bukan orang baik pak lurah, semalam setelah selesai mengurus kebun di desa Sukar saya melihat Purwo dengan perempuan liar." sahutku


"Kamu jangan memfitnah orang Damar." tegas pak lurah seraya menatapku tajam


"Saya tidak fitnah pak lurah, saya mengatakan apa adanya. Saya yang melihat dengan mata kepala saya sendiri, saya tidak berbohong." sahutku meyakinkan pak lurah


"Halah saya yang tahu bagaimana keluarga mereka, Purwo adalah anak yang baik dan bertanggung jawab."


Aku hanya menggeleng kan kepala pelan bingung harus bagaimana lagi.


"Sebaiknya kamu segera berangkat ke kebun, matahari sudah mulai naik atau kamu memang sudah tidak ingin bekerja di kebun saya." ucapnya melirik ku tajam


Aku menghembuskan nafas dalam, dan berpamitan. Aku rasa sekuat apapun aku meyakinkan pak lurah, dia tidak akan goyah dengan keputusannya kini aku hanya berharap semoga Riana ku bahagia.


"Saya pamit kalau begitu pak lurah." ucapku seraya menyalami tangan nya dan bergegas pergi meninggalkan pak lurah


'Maafkan mas Riana.' ucapku dalam hati


Ada rasa getir di hati, rasanya melihat perempuan yang kita cinta, perempuan yang sudah menjalin hubungan selama 3 tahun harus bersanding dengan pria lain. Tak terasa mataku berkaca kaca.


'Mas ikhlas, mas melepaskan mu dek." batinku

__ADS_1


Aku pun bergegas mengayuh sepeda dengan kencang menuju kebun, sesampainya di kebun aku langsung bekerja.


...****************...


__ADS_2