Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Penderitaan Yanto


__ADS_3

Deg


Mereka sangat terkejut, masih segar di ingatan siapa kiranya sosok yang berada didepan sana. Terlebih Nurdin dan Yanto berasal dari desa yang sama dengan si wanita cantik tersebut, walaupun wajah Riana alias Nyi Danuwati sedikit berubah atau jauh lebih cantik. Tetap saja mereka masih mengingat jelas, entahlah mungkin karena rasa bersalah atau karena sudah lama tinggal di desa.


"Sa..sampean sudah mati, pe..pergi pergi." Ucap Yanto si penakut.


Nurdin yang biasanya jauh lebih berani dibanding Yanto kini terbalik, Nurdin hanya bisa diam terpaku. Ingin bersuara namun lidahnya terasa kelu, mulutnya terkatup rapat seolah di lem.


"Pergi!" Seru Yanto.


"Jangan ganggu kami." Ucapnya lagi.


Namun sosok Nyi Danuwati masih diam ditempat tidak bergerak barang satu inci sekalipun, ia juga memilih diam memperhatikan kedua manusia yang sudah menghancurkan keluarga nya.


"Din, Din lari Din." Ucap Yanto yang bahkan tidak sanggup lari, mulutnya mengatakan ingin lari namun kakinya bahkan seperti dipaku diatas tanah.


Sedangkan Nurdin, tidak ada yang tahu jika tubuh Nurdin tampak menegang. Sama seperti Yanto, Nurdin juga tidak bisa bergerak sedikitpun. Tubuhnya terasa kaku, bahkan untuk bernafas saja sulit.


"Senang bertemu dengan kalian kembali." Ucap Nyi Danuwati seraya tersenyum.


Bagi orang lain mungkin senyuman Nyi Danuwati sangat memabukkan dan membuat orang terpesona, namun tidak dengan Yanto dan Nurdin yang melihat senyuman Nyi Danuwati tampak mengerikan.

__ADS_1


"Aku sudah lama menunggu kalian." Ucap Nyi Danuwati lagi mendayu dayu.


Hening, Yanto ataupun Nurdin tidak berani mengatakan apapun. Lebih tepatnya mereka tidak bisa bicara, seolah ada batu besar yang mengganjal.


"Sudah saatnya kalian merasakan apa yang teman kalian rasakan."


Deg


Yanto dan Nurdin paham apa maksud dari ucapan wanita didepannya, bukan tidak tahu. Mereka sangat tahu jika teman teman mereka dulu dinyatakan meninggal secara tragis, tapi yang membuat mereka terkejut adalah ucapan Nyi Danuwati yang seolah mengatakan jika ia pembunuh nya.


"Ja..jadi kamu..." Ucapan Yanto menggantung karena tidak sanggup meneruskan.


"Tidak..tidak." Yanto menggeleng kuat sementara Nurdin masih tidak bisa melakukan apapun persis seperti patung.


Nyi Danuwati mengangkat sebelah tangannya masih berjarak lima meter dari kedua manusia itu, namun tiba tiba tubuh Yanto terangkat keatas. Sementara Nurdin hanya bisa menyaksikan dengan ketakutan, dan menunggu giliran.


Nyi Danuwati kemudian menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan diikuti oleh tubuh Yanto yang bergerak kiri kanan.


"Aaarggggh lepas." Teriak Yanto.


Hingga tiba tiba tubuh Yanto terhempas dengan sangat kuat membentur pohon yang sangat besar.

__ADS_1


"Arghh sakit." Yanto mengerang kesakitan.


Tulang tulangnya seolah remuk dan patah, belum sempat bernafas lagi dan lagi tubuh Yanto kembali melayang dengan kencang hingga membuatnya mual.


Dalam keadaan melayang, Yanto memuntahkan semua isi perutnya hingga mengenai pakaiannya.


Brak


"Arghh."


Lagi, tubuh Yanto dihempas kuat dan membentur pohon. Kali ini darah segar keluar deras dari mulut Yanto, ia sudah tidak sanggup. Bayangkan saja tubuh Yanto yang kurus kerempeng dibanting habis habisan, namun itu tidak berhenti.


Karena nyatanya tubuh Yanto kembali terangkat dan dibenturkan kembali di pohon yang sangat besar, kali ini Yanto tidak memiliki tenaga untuk berteriak.


Prakk


Suara patahan kayu terdengar nyaring, hanya dengan menggerakkan selendang Nyi Danuwati dapat mematahkan cabang pohon. Tampak diujung nya sangat runcing, dalam keadaan tergeletak Yanto dapat melihat pohon itu melayang kearah nya.


Crashh


...****************...

__ADS_1


__ADS_2