
Damar segera mengayuh sepedanya, ia ingin kerumah nya dulu untuk mengganti pakaian. Setelah itu, ia berencana untuk langsung ke kebun saja.
Setelah berjam jam mengayuh sepeda ia pun sampai, segera ia langsung masuk kedalam rumah dan segera berganti pakaian. Setelah selesai, lekas ia kembali keluar mengingat hari hampir siang.
"Kamu habis darimana saja Mar?" tanya Kemal teman Damar sedari kecil lebih tepatnya anak bu Yeti tetangga Damar
Sontak Damar yang hendak menutup pintu seketika berbalik badan dan menoleh kearah temannya itu, seketika ia terbelalak kaget. Bagaimana tidak, setahu Damar temannya itu berada dikota untuk melanjutkan pendidikan nya.
"Kemal?" tanya Damar terkejut
"Iyo, iki aku." sahut Kemal tersenyum lebar
"Loh, bagaimana bisa." ucap Damar
"Yo bisa dong, pendidikanku sudah selesai. Jadi aku pulang kemarin, aku cari cari kamu tidak ada, malamnya pun tidak ada juga." sahut Kemal sinis
Seketika Damar hanya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Wes kamu kan tahu sendiri Mal, pekerjaan aku iki yo berkebun toh. Semalam aku yo kerja dikebun, malamnya aku cari ibu." ucap Damar
"Sek sek, emangnya bude kemana?" tanya Kemal
"Hilang, ta..." ucapan Damar terhenti kala Kemal memotong perkataan Damar
"Hilang." pekik Kemal setengah berteriak membuat Damar mengusap telinga nya
"Bagaimana bisa." ucap Kemal lagi
"Makanya wes dengerin dulu Kemal, jangan asal motong ucapan orang hilangin tuh kebiasaanmu." sahut Damar
Seketika Kemal meringis pelan.
"Coba ceritakan." ucap Kemal
__ADS_1
"Awalnya aku mengira ibu hilang, tapi ternyata ada dirumah keluarga yang lain berada di desa Sumbul." ucap Damar berbohong walaupun sebagian adalah benar
"Sejak kapan kamu memiliki keluarga." ucap Kemal
Perkataan Kemal membuat Damar terdiam terpaku, mulutnya seperti terkunci.
"Tuh kan, kita ini sudah berteman sejak lahir. Kamu tidak bisa berbohong dari aku, aku pasti tahu lagian kamu memang tidak ahli berbohong toh." ucap Kemal
Kini gantian, Damar yang meringis pelan.
"Sudah ceritakan saja." ucap Kemal
Perkataan Kemal membuat Damar ragu, ia bingung harus menceritakan atau tidak. Melihat keraguan dimata sahabatnya, Kemal kembali meyakinkan Damar.
"Ceritakan saja, aku jaga rahasia kok." ucap Kemal
"Yo wes, tapi nanti saja. Aku harus ke kebun soalnya kami harus panen, hari sudah hampir siang." sahut Damar
Membuat Kemal membola matanya malas.
Belum sempat Damar menjawab, Kemal segera naik di boncengan Damar. Damar menghela nafas pelan seraya menggeleng kepala kemudian mengayuh sepedanya, sementara Kemal hanya tersenyum seolah tidak mengerti apapun.
Sementara didesa Sumbul tepatnya dikediaman Riana, sepeninggal Damar segera Riana membersihkan tubuh ibunya Damar.
"Bude mau makan lagi?" tanya Riana
Ibunya Damar hanya menggeleng dengan pandangan kosong, Riana menarik dan menghembuskan nafas pelan. Bingung harus berbuat apa, pasalnya jika ibunya Damar mempunyai luka fisik, atau diguna guna mungkin Riana mampu mengatasi nya dengan cepat.
Tapi, ibunya Damar mengidap penyakit mental. Riana tidak bisa berbuat apa apa, terlebih ibunya Damar terlihat tidak ingin melawan penyakitnya.
"Yasudah, Riana pergi dulu ya bude." ucap Riana
Spontan dengan cepat ibunya Damar menggeleng.
__ADS_1
"Ja...Jangan, nanti kamu dibunuh." ucap ibunya Damar
"Bude, bude yang tenang yo. Jangan takut, bude sudah aman sekarang." sahut Riana pelan
"Tidak." ucap ibunya Damar semakin menguatkan gelengan kepalanya
"Bude sudah, jangan begini nanti leher bude sakit." ucap Riana seraya menahan kepala ibunya Damar
Seketika Riana tampak berfikir keras, seraya menatap ibunya Damar lekat lekat.
'Apa aku harus menghapus ingatan bude.' batin Riana
'Tidak ada pilihan lain, toh juga bude sudah cerita semua pada Damar. Tapi, jika bude tidak mau tinggal disini dan Sekar kembali melihatnya akan membuat rencana kami gagal.' batin Riana lagi
'Arghh, baiklah tidak ada pilihan lain.' ucap Riana dalam hati
"Sekarang bude istirahat dulu yo." ucap Riana lembut seraya membaringkan tubuh ibunya Damar
Setelah menunggu beberapa saat terdengar suara dengkuran halus ibunya Damar, setelah memastikan ibunya Damar tertidur segera Riana duduk bersila diatas kasur samping ibunya Damar.
Riana kemudian mengatupkan kedua tangannya didepan dada, hingga asap hitam mengepul dengan sangat tebal. Seketika aroma anyir da*ah menusuk hidung, tapi tidak dengan Riana.
Segera ia mengusapkan tangannya yang sudah dilapisi asap hitam yang bau menyengat, ia mengusapkan ke seluruh tubuh ibunya Damar tanpa menyentuh kulitnya.
Mulai dari kepala sampai kaki, dan dari kaki ke kepala lagi. Setelah selesai, Riana kemudian menekan pinggiran mata ibunya Damar dengan kedua tangan Riana yang masih mengepulkan asap.
Hingga beberapa menit menekan ia kemudian melepaskan tangannya, kemudian turun dari kasur hendak keluar.
"Lagi apa nduk?" tanya mbok Sri yang ternyata baru pulang dan langsung kekamar ibunya Damar
"Hanya menghilangkan ingatannya saja mbok, aku tidak tega jika bude terus terusan seperti kemarin." sahut Riana
"Apa Ratna akan kehilangan semua ingatannya?" tanya mbok Sri terkejut bahkan bola matanya hampir keluar
__ADS_1
"Tidak akan mbok, wong Riana hanya menghapus ingatan nya tentang kejadian bersama Sekar saja." sahut Riana
Tidak ingin menjawab pertanyaan mbok Sri lagi, segera Riana masuk kedalam kamarnya. Ia mencoba merebahkan tubuhnya diatas kasur, tadinya ia berniat menemui Mahendra namun ia berubah pikiran.