
Sementara di desa selepas kepergian Damar, segera mbah Bayan pergi menemui Ratna ibunya Damar.
"Ehh ada yang tahu ibunya Damar dimana?" tanya mbah Bayan
Hening, tidak ada yang tahu sama sekali termasuk mang Kurdi. Hingga suara Kemal dari arah belakang membuyarkan keheningan mereka, Damar memang sudah bercerita banyak kepada Kemal teman masa kecil Damar.
"Saya tahu mbah." ucap Kemal berjalan menghampiri disusul oleh Mahendra yany berjalan dibelakang Kemal
"Serius." sahut mbah Bayan memastikan
"Iyo mbah, tapi aku tidak tahu pastinya dimana nanti saja kita tanya warga di desa itu." ucap Kemal
"Saya tahu kok rumahnya." ucap Mahendra langsung menimpali
"Yowes, ayo kesana sekarang." ucap mbah Bayan
Mereka pun pergi dengan mbah Bayan dibonceng oleh Kemal, sementara Mahendra mengayuh sepeda sendiri. Mereka pun berjalan beriringan, tidak ada yang berbicara sepanjang jalan hanya hening.
Hingga setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai digapura desa Sumbul.
"Ayo langsung saja mbah, biar saya antar." ucap Mahendra seraya mengayuh sepeda nya mendahului agar Kemal bisa mengikuti dari belakang
Mbah Bayan hanya mengangguk, ia memang harus cepat cepat mengatakan pada Ratna ibunya Damar. Karena mbah Bayan tahu, jika Damar dan mbah Sastro sudah sampai maka sudah beda waktu.
Tentu saja, karena alam manusia dan alam goib beda waktu. Terkadang ada orang yang menghilang di alam goib sudah berbulan bulan, namun di alam manusia mungkin saja masih beberapa menit begitu juga sebaliknya.
Ada juga yang menghilang baru beberapa menit, namun di alam manusia sudah bertahun tahun. Tidak lama mereka mengayuh sepeda, mereka pun sampai dirumah panggung yang bisa dikatakan lumayan besar.
"Ini rumahnya?" tanya mbah Bayan memastikan
"Iyo mbah." sahut Mahendra
"Kalian tunggu disini saja." ucap mbah Bayan kepada keduanya
Setelah Kemal dan Mahendra mengangguk, mbah Bayan pun turun dari sepeda dan berjalan menuju pintu. Kemudian, segera mbah Bayan mengetuk nya pelan.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tidak lama terdengar pergerakan dari dalam, kemudian pintu pun dibuka.
Krieett
Menampakkan seraut wajah wanita paruh baya yang terkejut melihat mbah Bayan, tentu saja ibunya Damar mengingat dan tahu tujuan mbah Bayan mendatanginya.
__ADS_1
"Ada apa mbah?" tanya ibunya Damar ingin memastikan
"Ohh, silahkan masuk dulu mbah." ucapnya lagi
"Tidak perlu nduk, mbah tidak lama. Mbah cuma ingin mengatakan bahwa, bahwa sudah waktunya." ucap mbah Bayan
Walaupun ibunya Damar sudah tahu dan menguatkan hatinya, tetap saja ia akan rapuh. Karena ibu mana yang rela ditinggal oleh anak satu satunya, Sekar sudah tiada kini tinggal Damar anaknya yang tersisa.
Tanpa sadar, bahkan matanya sudah berembun. Mungkin sekali kedip saja air mata akan meleleh membasahi pipi, kemudian ibunya Damar mengangguk pelan dan berusaha tegar.
"Kamu harus sabar nduk, yowes mbah pulang dulu." ucap mbah Bayan yang langsung menghampiri Kemal
"Loh, nak Mahendra kemana?" tanya mbah Bayan
"Sudah pulang duluan mbah, rumahnya memang disekitar sini." sahut Kemal
"Yowes, ayo kita pulang." ajak mbah Bayan
Setelah memastikan mereka sudah pulang, ibunya Damar pun kembali menutup pintu. Kemudian ia segera masuk ke kamar nya, setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya ia segera duduk bersandar didepan pintu.
Tidak lama, tangisan yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Ibunya Damar menangis sesenggukan tanpa suara, karena takut jika mbok Sri mendengar.
"Gusti, aku sudah tahu cepat atau lambat akan terjadi. Tapi, mengapa rasanya sakit sekali." gumam ibunya Damar disela isakan tangisnya
Ingatannya kembali menerawang waktu dulu, dahulu Yadi suaminya dan ibunya Damar sudah menikah selama tiga tahun namun belum juga dikaruniai seorang anak.
...****************...
Dahulu dan sekarang tidak jauh beda, masih tidak ada rumah sakit. Bahkan, bidan kelinik saja tidak ada. Mereka hanya mencoba pengobatan alami seperti meminum rempah rempah, dan berbagai lainnya namun belum juga dikaruniai seorang anak.
Bahkan pak mantri dulu mengatakan jika ibunya Damar tidak bisa punya anak alias mandul, mendengar hal itu kedua pasangan itu merasa terluka. Karena mereka sudah tidak punya sanak saudara yang lain, wajar jika mereka mengharapkan kehadiran buah hati.
"Bagaimana ini pak, ibu mandul hiks hiks. Ibu ikhlas pak, ibu ikhlas jika bapak menikah lagi." ucap ibunya Damar saat itu
"Ssttt, kamu jangan ngomong gitu toh buk. Bapak tidak akan menikah lagi, bapak sayang sama ibu apa adanya. Jadi bapak tidak akan tinggalin ibu, kita jangan menyerah ya." sahut Yadi menenangkan istrinya
Hari hari berlalu, namun mereka tidak menyerah dan tetap melakukan pengobatan alami. Hingga disaat kedua pasangan itu menyerah, di malam hari tepat di jam 12:00 seorang kakek tua mendatangi mereka.
"Ada yang bisa kami bantu mbah?" tanya Ratna
"Kamu akan mengandung nduk." ucap kakek tua tanpa menjawab pertanyaan Ratna
Deg
Seketika darah kedua pasangan itu berdesir.
__ADS_1
"A...Apa mbah?" tanya Ratna gugup memastikan
"Kamu akan mengandung, namun anak itu adalah anak pilihan. Anak yang aku pilih secara langsung untuk menyelamatkan desa suatu hari, disaat umurnya sudah 25 tahun aku akan mengambilnya...
Tapi kamu tenang saja nduk, setelah anak itu lahir kamu akan bisa mengandung lagi agar kamu tidak kesepian disaat aku membawa salah satu." ucap kakek tua itu
...****************...
"Bagaimana sekarang, aku akan kesepian hiks hiks." gumam ibunya Damar meratapi nasib nya
"Apakah aku akan seorang diri hingga maut menghampiri."
Kemudian tangisan kembali terdengar lirih, ibunya Damar tampak menepuk dadanya yang terasa sesak.
"Ibu berharap kamu berhasil sebelum kematian menjemput ibumu nak."
Pandangan nya semakin buram, matanya bahkan sudah berkunang kunang. Ia merasakan kepala sakit dan terasa berat, hingga gelap.
Sementara diluar kamar, terlihat mbok Sri berjalan menghampiri kamar yang ditempati ibunya Damar.
"Ratna, ayo makan." ucap mbok Sri seraya memanggil
Namun hening, tidak ada sahutan. Mbok Sri kemudian membuka pintu kamar namun terasa berat, seperti ada yang mengganjal.
"Kok seperti ada yang mengganjal yo." gumam mbok Sri
Tidak ambil pusing, mbok Sri kembali membuka pintu dengan mengerahkan setengah tenaga nya.
"Ya Allah Gusti." pekik mbok Sri
"Kamu kenapa toh." ucap mbok Sri lagi seraya mengangkat tubuh ibunya Damar yang ramping menuju ranjang
Kemudian mbok Sri berlari kearah dapur, tidak lama kembali kekamar dengan membawa segelas teh. Mbok Sri segera memercikkan air kewajah ibunya Damar, membuat ia sedikit mengerjap.
"Aku kenapa mbak yu?" tanya ibunya Damar dengan suara lemah
"Harusnya yang nanya itu aku toh, kamu kenapa bisa pingsan didekat pintu." ucap mbok Sri
Ibunya Damar tampak mengingat ingat.
"Wes, kamu istirahat saja dulu." ucap mbok Sri
Ibunya Damar hanya mengangguk, kemudian mbok Sri segera keluar dari kamar.
...****************...
__ADS_1