
Tidak terasa malam sudah tiba, setelah memikirkan dan menyusun rencana matang matang tanpa kusadari aku tertidur dan terbangun di malam hari.
Memang malam masih belum larut, atau bahkan kemungkinan mbok Sri masih sedang memasak saat ini. Lekas aku bangkit dari perbaringan dan berjalan kearah pintu, setelah itu aku pun membuka pintu.
Krieettt
Brakkk
Aku kembali menutup pintu, dan berjalan kearah dapur. Benar dugaan ku, disana terlihat mbok Sri sedang memasak. Menyadari kedatangan ku lekas mbok Sri menoleh, dan bertanya.
"Kamu sudah bangun nduk?" tanya mbok Sri
"Sudah mbok." sahutku
"Yasudah kamu mandi saja dulu, itu sudah mbok siapkan air hangat bercampur kembang tujuh rupa."
"Nggeh, terimakasih yo mbok."
Lekas aku berjalan, namun baru beberapa langkah berjalan akupun berhenti dan menoleh kearah mbok Sri.
"Eh.... Mbok bisa nanti siapkan pakaian ku." ucapku
"Bisa nduk, kamu mandi saja sana nanti mbok letakkan didepan sumur."
Aku hanya mengangguk pelan, kemudian berjalan menuju sumur yang berada di belakang rumah ini. Lekas aku menanggalkan seluruh pakaian ku dan masuk kedalam gentong yang lumayan besar khusus untuk berendam, setelah mengatur posisi yang aman aku pun mulai berendam.
Aku memejamkan mata seraya memikirkan apalagi yang akan kulakukan untuk membalas mereka, aku bisa saja mengirim teluh kepada keluarga juragan Karno. Namun, aku hanya mau mengirim teluh kepada orang yang mengirimi teluh duluan kekeluarga ku.
Sementara jika aku membunuh seperti yang kulakukan kepada pengawal nya itu sangat tidak mungkin, mengingat para antek nya bermatian dalam waktu dekat. Pasti akan mengundang rasa curiga oleh warga, dan itu pasti sangat beresiko.
Memang sedari siang tadi aku hanya memikirkan bagaimana cara memasuki kediaman juragan Karno, dan beberapa rencana lainnya.
__ADS_1
Tapi tidak untuk cara agar menyingkirkan juragan Karno, dan sekarang aku baru memikirkan nya.
"Sudah belum nduk?" tanya mbok Sri
Seketika suara mbok Sri membuyarkan lamunan ku.
"Sebentar lagi mbok." sahutku
Lekas aku membersihkan tubuhku, kemudian berjalan kedepan mengambil pakaian ku dan masuk kembali kedalam sumur. Setelah memakai pakaian, lekas aku keluar dari sumur.
Aku berjalan kearah dapur, disana terlihat mbok Sri sedang menyiapkan makanan. Lekas aku membantu dengan menata peralatan makan seperti piring yang masih terbuat dari seng, dan cangkir yang dari seng pula.
Setelah itu kami pun makan malam bersama, selama makan hanya hening hingga selesai makan. Setelah membereskan peralatan makan, kami pun beranjak ke ruang tamu.
"Sekarang rencana kamu apa nduk?" tanya mbok Sri setelah kami duduk di kursi yang terbuat dari rotan
"Masih sama mbok, yang pernah aku ceritakan kepada mbok." sahutku kemarin memang aku sempat menceritakan tentang rencanaku pada mbok Sri
"Ya wes, kamu tetap hati hati yo." ucap mbok Sri memperingati
Setelah lama berbincang tidak terasa sudah tengah malam, kami pun kembali ke kamar masing masing. Aku berjalan memasuki kamar ku, dan duduk diatas kasur sejenak.
Aku berniat untuk mengirim teluh kepada dukun yang sudah menyebabkan keluarga ku hancur, lekas aku mempersiapkan alat alat ku.
Dan seperti biasa, aku kembali membakar kemenyan. Dengan mencampur sedikit kembang tujuh rupa, karna kembang tujuh rupa merupakan separuh kekuatan ku.
Setelah asap kemenyan mengepul, aku memejamkan mata dan mulai merapalkan sebuah mantra tanpa bersuara.
Namun aku gagal , sepertinya dukun nya memang benar benar kuat. Bahkan aku sampai terpental kebelakang dan memuntahkan darah segar kehitaman.
Aku memegang dadaku yang terasa sesak akibat memuntahkan darah, aku mencengkram kuat baju yang kupakai.
__ADS_1
"Sial... Mengapa sulit sekali, arghh." ucapku pelan seraya berteriak frustasi
Aku tau setelah ini dukun itu pasti mencari tau siapa yang baru saja menyerang nya, lekas aku menutupi diriku hingga tidak ada satu orang pun yang bisa menembus.
Lekas aku memakan bunga kantil, dan dengan bantuan keris milikku dengan begitu tidak akan ada yang bisa menembus ku.
Setelah itu, lekas aku memakan bunga kamboja yang kusematkan di telinga ku untuk menyembuhkan tenggorokan ku dan dengan bantuan sihir tentunya.
"Dia kuat sekali." gumamku
Lekas aku membereskan kekacauan ini, kemudian aku kembali duduk bersila. Aku kembali memanggil kerisku yang sudah menyatu dengan tubuhku.
"Nogo keluar lah." ucapku lirih
Seketika asap mengepul dari punggungku, kemudian keris Nogososro pun keluar.
"Katakan mengapa aku tidak bisa bisa menyerang dukun itu." ucapku tanpa basa basi
"Itu karena kamu belum sepenuhnya melepaskan kebaikan dari dalam dirimu, ingat! Ilmu yang sedang kau jalani adalah ilmu hitam dan untuk menyempurnakan nya hatimu juga harus hitam." sahutnya setelah mengambang dihadapan ku
Seketika aku menghembuskan nafas kasar, dan menoleh ke lain arah.
"Dan agar lebih sempurna lagi, kau harus melakukan penyatuan diriku kesendang Wonogiri." ucapnya lagi
"Apa maksudmu?" tanyaku
"Kau harus bertapa di sendang itu."
"Kapan?"
"Malam satu suro nanti."
__ADS_1
"Baiklah." sahutku
...****************...