Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Aksi


__ADS_3

Tepat di jam 12:00 malam, Mamat dan Yayan pun segera keluar rumah dengan cara mengendap endap untuk menjalankan aksinya. Suasana sangat lenggang dan sepi, wajar saja bahkan di sore hari sekalipun para warga sudah sibuk meringkuk didalam rumah.


Sebenarnya ada ketakutan tersendiri bagi mereka berdua, namun membayangkan segepok uang membuat tekad mereka semakin bulat meskipun tidak bisa dipungkiri ada perasaan merinding.


Suasana dingin terasa luar biasa, angin berhembus pelan namun membawa kesan mistis. Bunyi jangkrik dan burung hantu terdengar syahdu, ditambah bunyi lolongan hewan liar dihutan menambah kesan horor.


"Pulang saja yuk." ucap Mamat gemeteran


Bagaimana tidak? Suasana diluar sangat dingin menembus tulang, ditambah lagi dengan harus melawan rasa takut yang kian menjadi.


"Hus lambemu iki, sudah kepalang tanggung Mat. Wes lah yo, nanti kalau sudah dapat uang juga sampeyan tidak takut lagi." sahut Yayan


"Tapi kita nyari sapinya dimana Yan? Didesa ini tidak ada yang memelihara sapi." ucap Mamat


"Kepala kerbau pun jadi." sahut Yayan


Mamat hanya menggeleng pelan melihat kenekatan temannya itu, namun ia juga tidak bisa mengelak karena Mamat sendiri pun mempunyai tekad.


"Kita curi kerbau milik pakde Panjul saja." ucap Yayan lagi


Tanpa menjawab, Mamat pun segera mengikuti langkah Yayan yang berjalan kearah rumah salah satu warga yang bernama Panjul.


"Kita jalan nya dari sini saja biar langsung tembus kebelakang rumah pakde Panjul." ucap Mamat kali ini seraya menunjuk sebuah jalan setapak yang kiri kanan nya ditumbuhi rerumputan


Yayan mengangguk setuju, mereka lekas berjalan cepat mengikuti jalan setapak namun masih dengan cara mengendap endap. Biar bagaimana pun, mereka harus waspada.


Hingga mereka sampai dikawasan pekarangan rumah Panjul dibagian belakang, disana tampak sebuah kerbau yang hanya tinggal dua ekor yang sedang tertidur.


"Bagaimana cara memotong kepalanya? Kita bahkan tidak memiliki persiapan apa apa, hanya modal nekat saja." ucap Mamat

__ADS_1


Mendengar itu seketika Yayan meringis, memang benar apa yang dikatakan Mamat. Mereka tidak memiliki persiapan apapun, tidak membawa apapun alat untuk menyembelih kerbau.


Mereka hanya bermodal nekat saja, entah terlalu semangat atau karena takut mereka sampai lupa membawa persiapan karena terburu buru.


"Wes lah nanti kita cari saja disitu, biasanya warga menyimpan alat kebunnya diluar rumah kan." sahut Yayan seraya menunjuk keranjang keranjang tempat penyimpanan benda benda tajam milik Panjul


"Iyo tapi bagaimana caranya Yayan, bagaimana jika kerbau kerbau ini berisik." ucap Mamat gemas


"Sudahlah kita coba saja dulu, tidak mungkin harus kembali lagi." sahut Yayan


"Memangnya butuh berapa kepala kerbau?" tanya Mamat


"Satu."


Mereka pun lekas berjalan kearah keranjang tempat penyimpanan alat sawah milik Panjul, hingga mata mereka tertuju pada sebuah benda yang lumayan masih mengkilap diterpa cahaya obor yang ditaruh dibelakang rumah.


Sebuah benda tajam yang panjang berwarna silver, memiliki gagang kayu yang berwarna kecoklatan. Apalagi jika bukan golok, segera mereka mengambil golok itu dan membawa nya menuju tempat kerbau dengan cara pelan agar tidak membangunkan kerbau tersebut.


"Langsung tebas saja cepat." ucap Mamat


Ketakutan yang tadi dirasa kini berubah menjadi khawatir, khawatir jika ada yang melihat. Tanpa menunggu lama, Yayan segera menebas kepala kerbau itu hingga terpisah dari lehernya.


Merasa ada pergerakan, kerbau satu lagi seketika terbangun dan berteriak sebagaimana biasanya suara kerbau yang berisik. Takut karena ketahuan, Yayan pun segera menebas kepala kerbau yang hanya tinggal satu itu.


Darah muncrat kemana-mana hingga mengenai wajah Yayan, Mamat yang tidak berada jauh pun ikut terkena muncratan darah. Seketika aroma amis menyeruak, buru buru Yayan membawa satu kepala kerbau dan Mamat yang satunya lagi.


Mereka pun segera pergi meninggalkan dua tubuh kerbau yang tanpa kepala, bahkan saking paniknya mereka sampai melupakan golok yang tergeletak begitu saja.


Tanpa mereka sadari bahwa sedari tadi ada empat pasang mata yang mengawasi mereka.

__ADS_1


...----------------...


Hingga keesokan paginya, masih sekitar pukul 07:15 pagi namun cuaca sudah sangat panas meskipun matahari pagi masih belum naik.


Para warga yang tadinya sibuk dengan urusan masing masing kini meninggalkan pekerjaan mereka, mereka lebih tertarik dengan apa yang terjadi hingga sampai sampai para warga berkerumun.


"Ada apa ini kang?" tanya Jojo warga desa Ketang yang ikut andil dalam pembangunan ulang rumah milik mendiang lurah Pramono


"Si Panjul lagi terkena musibah kang, lihat sendiri saja." sahut salah satu warga


Penasaran dengan apa yang terjadi, Jojo segera melangkahkan kakinya menuju kediaman Panjul yang juga turut ikut andil dalam pembangunan rumah mendiang lurah Pramono.


Sesampainya disana, sudah terlihat mbah Sastro beserta rombongan. Mereka bisa pergi karena tidak memiliki tanggung jawab lagi, karena Udin sudah dipulangkan ke rumah nya atas permintaan istri Udin begitu juga dengan Juki.


"Apa yang terjadi kang?" tanya Jojo kepada mang Kurdi


Namun melihat mang Kurdi hanya terdiam, salah satu warga pun menjawab pertanyaan Jojo.


"Kejadian yang sama kang, kerbau Panjul yang hanya tinggal dua ekor itu sudah mati mengenaskan." ucap salah satu warga


"Kok bisa?" tanya Jojo terperangah


"Tidak tahu kang, dan masih seperti dulu kepala kerbau itu hilang hanya tinggal tubuhnya saja. Para warga yakin ini ulah teror yang masih sama yang menimpa desa, tapi anehnya disana ada golok kang dan masih berlumuran darah."


"Golok? Teror? Jika ini teror tidak mungkin pakai golok toh kang, toh selama ini mainnya bersih karena campur tangan goib. Tapi jika ada golok sudah pasti ada yang sengaja melakukannya, dan yang melakukan itu sudah pasti manusia." ucap Jojo


"Entahlah kang."


Tanpa mereka sadari bahwa mbah Sastro beserta rombongan yang terdiri dari Kemal, mbah Bayan, dan mang Kurdi saling berpandangan. Sepertinya mereka tahu sesuatu, atau bisa juga mereka memang tahu sesuatu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2