Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Pemandangan Indah Namun Menyakitkan


__ADS_3

POV Riana


Pagi sudah mulai menampakkan sinarnya, para warga juga sudah berbondong bondong berangkat ke sawah milik mereka. Ada juga yang bekerja dikebun orang contohnya, mang Kurdi.


Pagi ini aku berniat untuk berjalan keliling desa untuk menjernihkan pikiranku, aku harus berfikir keras bagaimana caranya agar ilmu yang kumiliki lebih tinggi dari sebelumnya.


Sementara jika bertapa di sendang malam satu suro nanti masih lumayan lama, aku ingin mengetahui siapa sebenernya Mahen laki laki yang tidak sengaja bertemu denganku kemarin. Mengapa ia ditutupi oleh kabir hitam, firasat ku mengatakan bahwa dia memiliki hubungan dengan semua yang terjadi dengan ku.


Namun aku tidak boleh menduga duga dulu, aku harus mencari tahu.


"Hmm ketemu lagi." ucap sosok pria


Suara yang familiar membuyarkan lamunan ku, ia adalah Mahen. Aku yang sejak tadi keasikan melamun tidak sadar ia sudah berada disampingku, aku menoleh kearah nya sekilas.


"Mau kemana?" tanya nya


"Keliling kampung saja mas, sekali kali mencari udara segar."


"Hmm yasudah kalau begitu aku temenin."


"Tidak perlu repot repot mas, saya bisa sendiri kok."


"Tidak repot kok, lagian aku juga tidak punya kesibukan lain."


Aku bingung harus menolak bagaimana lagi, jadi terpaksa dengan berat hati aku menyetujui nya untuk menemani ku. Toh juga cuma menemani kan, tidak ada salahnya.


Aku memutuskan untuk melihat sekaligus mengecek perkebunan milikku yang dihadiahkan bapak di desa Sumbul ini, aku sudah lama tidak merasakan pemandangan perkebunan.


Terakhir, aku ke kebun bersama mas Damar.


"Ahh." tanpa sadar aku menghembuskan nafas kasar


"Kenapa?" tanya Mahen yang mengagetkan ku


"Tidak apa apa." sahutku seraya menoleh kearahnya sekilas

__ADS_1


'Mengapa aku memikirkan mas Damar.' batinku


'Arghhh apa yang terjadi denganku.' batinku lagi seraya menekan dadaku yang tiba-tiba saja sesak


"Sadar Riana, lebih baik lupakan saja pria bernama Damar dan jangan pernah berhubungan lagi dengan siapa pun. Karena itu akan melemahkan mu, kau belum menumpas musuhmu. Kelurga Purwo bukanlah musuhmu yang sebenarnya, tugasmu untuk mencari siapa sebenarnya musuhmu." ucap Nogososro yang hanya aku yang dapat mendengar


Aku hanya bisa menahan nafas mendengar penuturan keris ku, rasanya sulit bila kita harus melepaskan orang yang kita cintai. Namun mau bagaimana lagi, aku tidak akan membiarkan musuhku hidup nyaman menghirup udara segar setelah ia membunuh semua keluarga ku.


Tidak terasa kami sudah sampai di perkebunan milikku, disana terlihat mang Joko tersenyum seraya menghampiri kami. Mang Joko salah satu pekerja kepercayaan ku dalam mengurus kebun ini, ia bekerja sudah cukup lama.


"Tumben sekali non kesini tidak bilang bilang dulu." ucap mang Joko


"Tidak kok mang, hanya bosan saja dirumah jadi berkeliling disini." sahutku masih dengan wajah datar


Jika diingat aku memang tidak pernah tersenyum setelah kejadian yang menimpa ku, ditambah lagi aku yang memiliki ilmu hitam yang harus membuang sisi baik ku semakin membuatku tidak pernah tersenyum.


"Kalau begitu istirahat dulu di gazebo, biar mamang siapkan minuman dan cemilan." sahut mang Joko


"Tidak perlu repot repot mang." ucapku


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi nya, aku dan Mahen pun bejalan kearah gezebo yang berada dipinggir kebun. Kebetulan kebun yang dihadiahkan bapak kepadaku ini berada dipinggir danau, dulu kata bapak biar aku nyaman jika berada di kebun.


Semua keluarga ku memang tahu jika aku paling menyukai danau, itu sebabnya bapak memilih menghadiahkan ku kebun yang berada di desa Sumbul ini karena disini banyak sekali kebun yang berdampingan dengan danau.


Berbeda dengan desa Ketang tempat tinggal ku sebelumnya, disana sangat jarang terlihat ada danau. Hanya ada danau yang biasa aku kunjungi bersama mas Damar, waktu pertama kali bapak menghadiahkan ku kebun ini aku langsung menanam berbagai macam bunga disekitaran danau.


Hingga menambah kesan indah, mungkin jika orang lain mendatangi kebunku mereka akan mengatakan bahwa dari depan hingga tengah kebun. Sementara, dipinggir tepatnya belakang adalah taman saking indahnya pemandangan disini.


Disini juga lengkap, ada gubuk untuk para pekerja didepan kebun agar jika hujan mereka tidak akan kedinginan. Sementara dibelakang kebun pinggir danau, aku sengaja menyuruh orang untuk membangun gazebo bukan gubuk biar terkesan romantis.


Tidak berselang lama setelah kami duduk, mang Joko pun datang dengan membawa gelas seng yang memang disiapkan didalam gubuk beserta minuman dan cemilan diatas nampan.


"Monggo dinikmati." ucap mang Joko


"Njih terimakasih yo kang." sahut Mahen seraya tersenyum

__ADS_1


Aku hanya mengangguk kepada mang Joko, setelah mang Joko pergi kami pun menikmati suguhan yang diberikan mang Joko. Ada pisang goreng, ubi rebus, serta minuman jahe.


"Disini ternyata indah sekali ya." ucap Mahen


"Iya, dulu aku sangat betah disini sampai bermalam hingga bapak panik nyari aku." sahutku sendu kala mengingat waktu dulu


Dulu keluargaku sangat harmonis sekali, bahagia, saling melengkapi, canda tawa menghiasai kami. Jika aku sedih aku datang ke kebun ini yang sudah ku hias menjadi taman dibelakang kebun, hingga malam sampai bapak datang menjemput ku.


Ahhh sungguh dulu sangat lah menyenangkan, sampai seseorang orang merebut kebahagiaan ku tak bersisa melalui jalan yang keji. Mereka membunuh semua keluarga ku melalui ilmu hitam. Bahkan eyangku, eyang kasum yang sudah sangat tua renta yang mungkin juga tidak tahu apa apa masalah ini tidak mereka kasih ampun.


Hatiku sakit, kala mendengar suara rintihan dari mulut eyangku yang sudah tua. Jeritan nya yang pilu membuat siapa saja yang mendengar nya akan menangis, tidak terasa setelah sekian lama aku mengeluarkan air mata sekarang.


Aku menangis sesenggukan, bahuku berguncang hebat. Aku memukul mukul dadaku untuk mengurangi rasa sesak, sungguh aku ingin mati saja jika tidak mengingat para bede*ah itu.


Mahen menarik tubuhku dalam dekapannya, ia mengusap pelan punggung ku untuk menenangkan.


"Maafkan aku." ucapnya lirih


Namun bagiku kalimat itu mengandung banyak arti, bukan hanya sekedar kalimat.


"Kenapa?" tanya ku seraya mendongak menatapnya


Seketika ia gelagapan, dan gugup namun ia kembali berusaha untuk setenang mungkin.


"Emm... Maksudku maafkan aku, jika aku tidak mengatakan apa apa mungkin kamu tidak akan mengingat masalalu mu." sahutnya


Aku hanya mengangguk menanggapi, alasan yang masuk akal. Cuma, entah mengapa bukan itu yang tersirat.


"Sudah jangan dipikirkan lagi, tapi kalau kamu memang masih ingin menangis maka menangislah. Kamu juga manusia, kamu pasti merasakan lelah aku siap kok menjadi sandaran kamu." ucapnya


"Hmmm terimakasih." sahutku


Kami kembali menikmati pemandangan seraya memakan cemilan, sungguh pemandangan ini sangat menyejukkan hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2