Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Misteri Terpecahkan


__ADS_3

Setelah mengantar Mahendra sampai didepan pintu, Riana pun kembali masuk kedalam rumah nya setelah memastikan Mahendra sudah tidak terlihat.


"Nduk, makan dulu." ucap mbok Sri menghampiri Riana diruang tamu


"Njih mbok." sahut Riana


Mereka berdua pun berlalu ke ruang makan yang hanya beberapa langkah dari dapur, hanya ada penyekat seperti tirai saja. Disana sudah terlihat Damar dan ibunya menata makanan, namun wajah Damar tampak sekali jika sedang kebingungan.


"Sini nak." ucap Ratna ibunya Damar kala melihat Riana


Riana hanya menanggapi dengan senyum tipis, saking tipisnya bahkan sampai tak terlihat jika ia sedang tersenyum. Mereka semua pun kini duduk, setelah menyendok nasi dan lauk kepiring masing masing yang masih terbuat dari seng. Kini, mereka makan dengan keheningan.


...****************...


Kini Riana sedang berada didalam kamarnya yang sangat gelap gulita, setelah selesai makan dan membantu membersihkan alat makan mereka ia segera pamit untuk kekamar terlebih dahulu.


Tok tok tok


"Nduk.".


Disaat ia melamun, terdengar suara ketukan pintu dan disusul oleh suara mbok Sri.


"Iya mbok." sahut Riana


"Boleh mbok masuk?" tanya mbok Sri


"Masuk saja mbok, tidak dikunci kok."


Krieettt


Terdengar bunyi pintu yang terbuka lebar, Riana masih tidak memalingkan wajahnya dari tempat semula yaitu menatap dinding kamar yang terbuat dari papan dan sangat gelap itu.


Mbok Sri yang melihat kamar Riana yang sangat gelap, ia mencoba meraba raba mencari letak lampu petromax. Karena memang suasana nya sangat gelap, mbok Sri pun tidak melihat apa apa hingga berkali kali ia menabrak sesuatu.


Riana yang mendengar suara kegaduhan itu seketika langsung berbalik dan menatap kearah mbok Sri yang kelimpungan mencari jalan.


"Nyari apa mbok?" tanya Riana


Mbok Sri yang tidak bisa melihat dalam kegelapan hanya menajamkan pendengaran nya.


"Ehh.. Anu nduk, mbok nyari lampu petromax." sahut mbok Sri


Zaman dulu memang mengandalkan lampu petromax, Riana segera berdiri. Ia jelas berbeda dengan mbok Sri yang manusia biasa, Riana juga memang manusia tapi ia memiliki ilmu hitam yang sangat tinggi.

__ADS_1


Dimana semenjak kejadian nahas yang menimpa keluarga nya, ia tiba tiba menyukai kegelapan dan keheningan. Dengan mudah ia berdiri dan menyambar korek diatas nakas samping kasurnya, kemudian ia berjalan kearah dinding yang dimana lampu petromax digantung disana.


Setelah menyalakan dua lampu petromax, kini kamar nya sudah sangat terang. Mbok Sri bisa bernafas lega, kemudian ia menoleh kearah Riana yang sudah kembali duduk dipinggir kasur.


Segera mbok Sri menghampiri dan duduk disebelah Riana.


"Nduk." ucap mbok Sri seolah mengerti dengan keresahan Riana


"Mbok, mbok Sri mengatakan jika mbok Sri bekerja dengan keluarga Pramono sudah lama bukan? Sejak mbok Sri masih muda." ucap Riana


"Njih nduk, kamu benar. Tapi, bapak kamu ataupun keluarga kamu semuanya sangat baik. Mereka tidak pernah bermusuhan dengan orang lain." sahut mbok Sri menjelaskan bahkan Riana belum bertanya


"Entahlah mbok." ucap Riana seraya menghela nafas kasar


"Tapi dulu..."


"Apa mbok." Riana dengan cepat memotong ucapan mbok Sri hingga membuat wanita paruh baya itu terjingkat kaget


"Dulu waktu kamu masih berusia 18 tahun ada keluarga yang juga terpandang ingin melamar kamu untuk anak tertua nya, namun karena usia kamu yang masih muda dan susah diatur dulu membuat keluarga kamu menolak lamaran itu secara halus. Namun, mereka salah mengira. Mereka berfikir bahwa, keluarga kamu sudah mempermalukan mereka." ucapan mbok Sri terhenti sejenak nampak wanita paruh baya itu tengah menarik nafas dalam


"Hingga adu mulut tidak terelakkan lagi, hingga beberapa lama setelah adu mulut mereka memilih pergi. Namun malam harinya, keluarga kamu seperti diteror. Mulai dari orang yang seperti berkuda diatas genteng, hingga gedoran kuat di jendela namun tidak ada siapa siapa. Bau bangkai yang menyengat, dan banyak lagi." ucap mbok Sri


"Aku ingat mbok." sahut Riana


Dulu memang Riana mengalami nya dengan keluarga nya, tapi pada siang hari disaat keluarga yang ingin melamar Riana datang kebetulan Riana sedang berada di kebun.


Mbok Sri langsung menggeleng cepat.


"Keluarga mereka mengirim santet nduk." ucap mbok Sri


"Darimana mbok tahu, bahkan bapak atau yang lainnya tidak mengatakan apapun padaku." sahut Riana


"Kamu tahu toh kalau mbah kakung kamu orang pintar?" tanya mbok Sri


"Iya mbok." sahut Riana


Mbah kakung - kakek Riana memang orang pintar atau sama seperti dukun, namun mbah kakung Riana tidak memilih profesi sebagai dukun seperti orang orang. Hanya saja, jika ada seseorang yang ingin berobat maka kakung Riana bersedia mengobati.


Itu sebabnya mengapa kakung Riana dan eyang nya memilih tinggal di sebuah gubuk kecil ditengah hutan, atau tepatnya diatas bukit.


"Dulu bapak kamu sangat panik, dan keesokan paginya bapak kamu menyuruh beberapa pengawal nya untuk menjemput eyang dan kakung kamu." ucap mbok Sri


Riana hanya mengangguk.

__ADS_1


"Aku juga ingat mbok, namun mereka mengatakan jika mereka rindu denganku. Lalu bapak menyuruhku untuk diam dikamar, dan tidak boleh menganggu mereka." sahut Riana


"Bapak kamu mengatakan semunya pada kakung kamu, dan kakung kamu pun mencoba menerawang. Dan ternyata benar, keluarga yang ingin melamar kamu itulah yang mengirim ini semua." ucap mbok Sri


"Tapi siapa keluarga itu mbok?" tanya Riana


"Keluarga Abimana." ucap mbok Sri


"Abimana." desis Riana


Alis Riana tampak menyatu, ia seperti mengingat nama itu.


"Trus mbok?" tanya Riana kala tidak bisa mengingat


"Kakung kamu pun mencoba melawan, kakung kamu hanya butuh ruang kosong dan gelap serta beberapa alat ritual. Bapak kamu mengiyakan, setelah semuanya selesai di persiapkan bapak kamu juga menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari tahu keluarga Abimana. Entah mengapa perasaan kamu semua tidak enak waktu itu, hingga malam tiba kakung kamu tidak keluar." ucap mbok Sri


Matanya tampak berkaca kaca, kemudian ia melanjutkan perkataan nya.


"Kami yang sudah dilanda kecemasan memilih untuk mendobrak pintu saja, anak buah bapak kamu pun mendobrak pintu itu. Namun kami semua kaget, kami tercengang melihat pemandangan yang mengerikan." ucap mbok Sri


"Pemandangan apa mbok?" tanya Riana penasaran


"Kakung kamu sudah meregang nyawa dengan bersimbah darah, kondisinya sangat mengenaskan." ucap mbok Sri yang kini sudah menangis histeris


Sementara Riana hanya terpaku, ia mengepalkan tangannya kuat hingga buku jarinya terlihat memutih. Tidak ada air mata, hanya ada dendam yang membara.


Riana ingat betul, waktu itu keluarga nya menyuruh Riana untuk dikamar. Hingga malam harinya, Riana dikejutkan dengan suara tangisan.


Tanpa menunggu lama, Riana segera keluar kamar dan mencari asal suara tangisan itu. Hingga lagi lagi ia dikejutkan dengan kakung nya yang sudah terbujur kaku, bahkan kondisinya sangat mengerikan.


"Keesokan harinya setelah selesai memakamkan kakung kamu, bapak kamu menerima kabar dari anak buahnya yang mengatakan jika Tuan Abimana dan istrinya meninggal, kebetulan waktu itu mbok sedang menyuguhkan teh makanya mbok dengar." ucap mbok Sri setelah selesai menangis


Riana menoleh kearah mbok Sri.


"Abimana? Mahendra Abimana." gumam Riana


Seketika mbok Sri terbelalak.


"Aku sudah tahu sekarang mbok, silahkan nikmati permainan ini." ucap Riana seraya tersenyum misterius


"A..Apa nduk?' tanya mbok Sri tergagap


"Orang tua Mahendra mengirim santet lewat Ki Ageng yang sangat sakti, itu membuat kakung tidak kuat dan kalah. Sementara serangan kakung berbalik kepada tuan Abimana dan istrinya, bukan kepada Ki Ageng itu. Hal itu membuat abangnya Mahen salah paham, dan meneruskan kejahatan orang tuanya. Ia bersama juragan mendiang Karno kembali mendatangi Ki Ageng dan mengirim teluh." ucap Riana panjang lebar

__ADS_1


"Dan sekarang, aku akan membalaskan kesakitan ini." ucap Riana lagi


...****************...


__ADS_2