
Pagi hari kembali menyapa, nyanyian burung burung yang bertengger diatas dahan pohon terdengar syahdu beradu dengan suara kokok ayam jantan yang bersahutan. Nampak kupu kupu terbang tanpa ada beban hinggap disatu bunga ke bunga yang lain, para warga sibuk melakukan aktivitas mereka seperti biasa.
Beruntung tidak ada lagi gangguan, kini mereka bisa tidur dengan nyenyak dan bangun di pagi hari dengan keadaan segar. Kini mereka sibuk ke kebun masing masing, hanya sebagian dari warga saja yang berada dirumah.
"Apa yang kamu rencanakan le?" tanya mbah Sastro
"Tidak tahu mbah, apakah aku harus lebih memperdalam ilmu lagi untuk menghadapi sesuatu yang bahaya didepan sana?" tanya Pangeran Segoro balik
"Sebenarnya tidak perlu lagi le, kamu hanya harus berperang dengan menggunakan hati." sahut mbah Sastro ambigu
Pangeran Segoro mengernyit heran mendengar ucapan mbah Sastro, ia tidak mengerti sama sekali.
"Maksud mbah apa?" tanya Pangeran Segoro
Namun mbah Sastro tidak menjawab, ia hanya tersenyum kemudian lekas beranjak pergi mengelilingi desa.
"Mbah keluar dulu." ucap mbah Sastro yang sudah berdiri
"Njih mbah, hati hati." sahut Pangeran Segoro
Mbah Sastro pun segera meninggalkan Pangeran Segoro sendiri yang masih dalam keadaan termenung memikirkan ucapan mbah Sastro yang ambigu.
"Apa maksudnya menggunakan hati." gumam Pangeran Segoro sungguh heran
...****************...
__ADS_1
Sementara masih di desa yang sama, namun berbeda rumah. Tidak jauh namun tidak dekat dari kediaman Pangeran Segoro, tepatnya hampir dekat dengan gapura desa.
"Kenapa bang?" tanya seorang pemuda yang tidak lain adalah Mahendra
"Tidak ada." sahut Ginanjar dengan wajah kusut
"Yowes lah, aku mau keluar dulu." ucap Mahendra
"Hmm." hanya deheman yang terdengar dari Ginanjar
Mahendra pun lekas pergi dari rumah meninggalkan Ginanjar sendiri, detik kemudian Ginanjar pun sadar.
"Aku sendiri." ucapnya seraya memperhatikan sekeliling rumahnya
Ia merasa banyak pasang mata yang sedang mengawasi nya sekarang, tanpa sadar Ginanjar mengusap kedua lengannya yang meremang. Bahkan ia merasakan bulu kuduknya sudah berdiri, sekali lagi ia memperhatikan tiap sudut rumah yang ia rasa ada yang mengawasi namun kosong.
Dengan keberanian yang tersisa, sekali lagi ia menoleh kebelakang.
"Arghhh." teriak Ginanjar menggelegar yang dimana seharusnya para warga mendengar teriakan itu, namun nyatanya tidak warga hanya merasakan hening.
Tiba tiba seraut wajah pria tua yang hancur berada tepat didepan wajah Ginanjar, wajahnya yang sudah hancur dan berbau busuk menyengat.
Seluruh tubuh dan wajahnya mengelupas dan mengeluarkan lendir, daging daging yang terkelupas itu berjatuhan dilantai yang terbuat dari papan disusul dengan lendir yang berbau bangkai.
Tampak diwajahnya keluar hewan hewan menjijikkan menggeliat dan berjatuhan dilantai, Ginanjar ingin berteriak lagi namun mulutnya terasa kelu. Ingin berlari, kakinya terasa kaku.
__ADS_1
Ia seolah olah dipaksa untuk memperhatikan semua, hingga sosok itu menyeringai lebar hingga semakin lebar hingga mengenai telinga seolah olah mulut sosok itu telah robek.
"Aa..." Ginanjar ingin berteriak namun tidak bisa
Melihat mulut targetnya menganga sosok itu segera mendekatkan wajahnya ke wajah Ginanjar hingga menempel, sontak saja hewan hewan yang menjijikkan itu masuk kedalam mulut Ginanjar.
Merasakan ada yang menggeliat didalam mulutnya, Ginanjar seketika memuntahkan semua isinya.
Huekk
Huekk
Tampak dari mulutnya berjatuhan belatung yang menggeliat liat, Ginanjar bergidik ngeri. Setelah terpaku sejenak, ia kemudian mengingat sosok itu lekas ia kembali menoleh namun hanya kekosongan yang ia temukan.
Bahkan cacahan daging beserta lendir nya tidak ada, lantai bahkan terlihat bersih. Jangankan cacahan daging, debu saja tidak ada.
Ia kembali melihat muntahan nya, semua sama. Tidak ada belatung sama sekali, hanya ada air yang dimuntahkan oleh Ginanjar. Ia memang tidak makan semalam, hanya minum saja. Sedangkan sekarang hari masih pagi, dan ia juga belum sarapan.
"Apa semua ini." gumamnya seraya menyugar rambutnya frustasi
"Aku yakin aku sedang tidak berhalusinasi." gumamnya lagi
"Arghh." Ginanjar mengusap wajahnya kasar
Tidak ingin berlama lama, ia segera memilih untuk mandi meskipun masih ada ketakutan. Ia tetap ingin membersihkan tubuhnya, ia ingin menyegarkan pikiranya dengan air dingin.
__ADS_1
...****************...