Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Bunga Sedap Malam


__ADS_3

Sepeninggal Riana, anak buat Purwo segera berlalu kembali ke kota.


"Bagaimana ini kang?" tanya Naryo


"Mau bagaimana lagi toh, wes pulang saja." sahut Harjo


Membutuhkan waktu beberapa jam untuk sampai ke kota, akhirnya kelima anak buah Purwo telah sampai. Segera Harjo ditemani oleh Naryo masuk kedalam, mereka berdua pun mencari keberadaan Nining ibunya Purwo.


"Mbok." ucap Harjo memanggil mbok Asih yang kebetulan lewat


"Apa, dimana non Riana?" tanya mbok Asih bingung


"Ehh anu mbok." ucap Harjo seraya menggaruk lengan yang tidak gatal


"Anu opo toh." sentak mbok Asih


Naryo yang melihat bosnya kesulitan bicara merasa kasihan, kemudian Naryo memilih ia saja yang menceritakan semuanya.


"Begini mbok, tadi kami sudah bertemu dengan non Riana. Tapi ia tidak mau ikut, malah ia memberikan kami dua kuntum bunga sedap malam." ucap Naryo seraya menunjuk bunga yang digenggam oleh Harjo


"Maksud e opo toh." sahut mbok Asih semakin bingung


"Yo tidak tahu mbok, cuma non Riana tadi mengatakan kalau satu kuntum untuk ditelan den Purwo. Satu lagi em, dihaluskan kemudian diberi sedikit air dan dioleskan ke wajah den Purwo." ucap Naryo menjelaskan secara rinci apa yang dikatakan oleh Riana


"Yasudah, kita temui nyonya saja." ucap mbok Asih


Mereka bertiga pun menghampiri Nining dikamar putra nya.


Tok tok tok

__ADS_1


Mbok Asih mengetuk pintu kamar Purwo.


Cklekk


Krieettt


Tidak lama, pintu dibuka oleh salah seorang abdi.


"Silahkan masuk mbok." ucap abdi yang masih muda itu


Mereka pun masuk kedalam, Nining yang melihat kedatangan mereka bingung. Pasalnya, ia tidak melihat keberadaan Riana.


"Loh kenapa kalian sudah pulang tanpa Riana, dimana dia?" tanya Nining ibunya Purwo


Harjo dan Naryo pun menoleh kearah mbok Asih berharap untuk membantu mereka mengatakan nya kepada Nining, Nining yang melihat anak buahnya menoleh kearah mbok Asih pun kini ikutan melihat mbok Asih.


Sementara mbok Asih yang merasakan diperhatikan oleh banyak pasang mata tiba tiba menjadi gugup, mbok Asih puh menahan nafas sejenak dan menghembuskan nya.


"Ini tidak masuk akal." gumam Nining pelan tapi masih didengar oleh mbok Asih dan dua anak buahnya karena jarak mereka dekat


"Tidak ada salahnya mencoba nyonya." ucap mbok Asih yang juga sebenarnya ragu


"Baiklah." sahut Nining


Mbok Asih pun meminta dua kuntum bunga itu, setelah Harjo memberikan nya dengan sigap mbok Asih membangunkan Purwo yang sedari tadi tertidur.


Wajahnya kini sangat mengerikan, bau busuk yang menusuk hidung serta belatung yang tiap hari bertambah banyak, serta lalat yang sudah menghinggapi wajah Purwo.


"Den bangun." ucap mbok Asih seraya mengguncang tubuh Purwo pelan

__ADS_1


Sementara semua orang yang berada didalam kamar hanya diam menyaksikan, perlahan Purwo terbangun. Tidak ada yang bisa tahu jika ia sudah bangun atau masih tidur karena kondisi wajahnya sangat hancur dan merembet kemata, hanya dengan ia menggeliatkan sedikit tubuhnya pertanda bahwa ia sudah bangun.


"Telan ini den." ucap mbok Asih menyodorkan satu kuntum bunga sedap malam


Namun Purwo masih diam tak bergeming, ia juga tidak mau membuka mulutnya.


"Ini dari non Riana, sudah telah saja." ucap mbok Asih lagi


Mendengar nama Riana entah mengapa dengan spontan Purwo membuka mulutnya, padahal ia tahu dan sadar jika Riana ingin membunuh dirinya.


Dengan sigap mbok Asih memasukkan satu kuntum kedalam mulut Purwo dengan hati hati, setelah Purwo menelan bunga sedap malam itu kini mbok Asih menghaluskan satu kuntum lagi menggunakan tangannya.


Setelah cukup halus, mbok Asih menyambar gelas yang berisi air yang berada di atas nakas tidak jauh dari ia berada.


"Ambilkan bulu ayam." ucap mbok Asih kepada siapa saja yang mendengar


Dengan sigap Harjo keluar kamar dan mencari bulu ayam di dapur, kebetulan sekali tadi para abdi membuat gulai ayam pasti masih banyak bulu yang tertinggal.


Setelah mendapatkannya, Harjo kembali berlari kekamar dan memberikan satu bulu ayam kepada mbok Asih. Segera mbok Asih menerima nya, dan mulai mengolesi bunga sedap malam yang sudah dihaluskan ke wajah Purwo dengan menggunakan bulu ayam. Karena, mbok Asih sendiri juga merasa jijik.


Dengan kondisi wajah Purwo yang sudah hancur parah hingga menampakkan tulang wajahnya pasti membuat sensasi perih dan pedih.


"Arghhh." Purwo mengerang kesakitan kala bulu ayam yang sudah basah mengusap wajahnya


"Tahan." ucap mbok Asih


Sementara yang berada didalam kamar pun meringis ngilu, seolah olah mereka yang merasakan.


Setelah bunga sedap malam habis tak bersisa, mbok Asih menyuruh Purwo untuk beristirahat. Mereka pun segera keluar dari kamar, begitu juga dengan Nining.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2