
Sesampainya didepan rumah, sepeda pun berhenti kemudian segera aku turun.
"Jadi selama ini kamu tinggal disini?" tanya mas Damar
"Iya." sahutku seraya mengangguk
Tiba tiba terdengar pintu terbuka.
Kriieett
Pintu terbuka lebar menampakkan seraut wajah wanita paruh baya, ia adalah mbok Sri. Melihat ku dengan mas Damar seketika matanya membola kaget, segera ia menghampiri kami.
"Nak Damar." ucap mbok Sri
"Njih mbok, saya cuma mengantarkan Riana saja." sahut mas Damar seraya menyalam dan mencium punggung tangan mbok Sri
"Ohh." mbok Sri hanya ternganga dan menoleh kearah ku
"Yasudah masuk dulu, biar mbok siapkan minum." ucap mbok Sri lagi
"Tidak perlu repot repot mbok, biar Damar langsung pulang saja pasti ibu sudah menunggu di rumah." ucap mas Damar
"Yasudah kalau begitu, maturnuwun njih." sahut mbok Sri
"Njih mbok, kalau begitu saya pulang dulu." ucap mas Damar
"Hati hati yo le." sahut mbok Sri
Mas Damar pun kembali menyalami tangan mbok Sri dan menoleh kearah ku sekilas, kemudian segera ia menaiki sepedanya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah punggung mas Damar sudah tak terlihat, mbok Sri menarik tanganku dan masuk kedalam rumah.
"Sepertinya kamu harus menjelaskan sama mbok nduk." ucapnya
"Ya seperti kata Damar tadi mbok, ia hanya ingin mengantarkan aku pulang saja." sahutku
"Kamu bertemu dengan Damar kan? Kalian menjalin hubungan lagi?" tanya mbok Sri beruntun
__ADS_1
Namun aku hanya diam saja, jujur saja aku masih bingung. Aku dan mas Damar tidak akan bisa bersama, tidak sepantasnya aku melakukan hal tadi. Sekarang, aku hanya bisa merutuki diriku.
"Mbok cuma mengingatkan saja, selebihnya kamu yang paling tahu." timpal mbok Sri seraya melengos pergi
Aku menarik nafas sejenak, aku juga menyadari kesalahan ku. Setelah cukup lama berfikir, aku memutuskan untuk membersihkan badan terlebih dahulu.
Segera aku masuk kedalam kamar dan mengambil satu set pakaian, tidak lupa aku juga menyambar handuk. Kemudian bergegas aku menuju sumur dibelakang rumah, setelah menanggalkan seluruh pakaianku aku pun memakai kain jarik untuk basahan.
Segera aku mengguyur tubuhku dengan air dingin yang sudah dipenuhi kembang tujuh rupa, setelah selesai aku kemudian memakai pakaian ganti dan keluar dari sumur.
"Makan dulu nduk." ucap mbok Sri kala melihatku berjalan
"Njih mbok." sahutku
Segera aku berlalu kekamar untuk merapikan rambut ku, setelahnya aku keluar menyusul mbok Sri didapur. Disana aku sudah melihat makanan tertata dengan rapi, lekas aku duduk disalah satu kursi rotan.
Tok tok tok
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu, aku dan mbok Sri saling berpandangan. Dengan sigap mbok Sri berjalan ke pintu utama, aku tidak tahu siapa karena aku memutuskan untuk menunggu disini saja.
Tidak berselang lama, muncul mbok Sri dengan pria yang sudah menemaniku selama ini ia adalah Mahendra.
"Duduk le." ucap mbok Sri
"Njih mbok." sahut Mahendra
Mahendra pun duduk dikursi yang aku tunjuk tadi, kemudian kami makan dengan lahap. Setelah selesai, aku mengajak Mahendra untuk duduk diruang tamu.
"Kamu ada perlu apa?" tanyaku
"Tidak ada sih, cuma mastiin saja kalau kamu sudah pulang. Dan ini." ucap Mahendra seraya mengambil sebuah kertas dari balik bajunya dan menyodorkan kepadaku
Aku mengambil kertas itu dan membacanya seksama.
"Surat tanah." ucapku terbelalak
Surat surat penting milik keluargaku memang sudah habis terbakar, karena paska kebakaran itu kami hanya terfokus untuk keselamatan diri.
__ADS_1
Sementara pasti adalah surat pertinggalan dibeberapa petinggi desa, itu yang aku minta tolong kepada pakde Kurdi.
"Secepat ini." ucapku semringah
"Iyaa, sekarang hanya tinggal menunggu pembangunan saja." sahutnya
Tanpa sadar aku memeluk Mahen saking senangnya, setelah sadar apa yang kulakukan aku tetap tidak melepaskan pelukanku karena aku melihat sesuatu.
Aku melihat peristiwa yang menyelimuti Mahen, ia memiliki seorang kakak lelaki yang sehari harinya hanya memakai jubah hitam yang menyebabkan wajahnya tidak terlihat, yah dia adalah musuhku.
Ia sengaja menutupi Mahen dengan kabir hitam untuk alasan yang tidak masuk akal, sementara Mahen yang tidak tahu apa apa hanya seperti orang bodoh.
"Hhmmm." Mahen berdehem membuyarkan penerawangan ku
Seketika aku melepaskan pelukan ku.
"Maaf." ucapku
"Tidak apa apa." sahutnya
Aku ingin sekali bertanya banyak hal, namun aku juga harus bersikap seperti layaknya orang bodoh yang tidak tahu apa apa.
"Yasudah kalau begitu aku pulang dulu." ucapnya
Aku hanya mengangguk, setelah berpamitan kepada mbok Sri segera Mahen pergi. Namun baru sampai di teras aku memanggilnya, menyebabkan langkah nya terhenti.
"Mahen." panggil ku
"Hmm." sahutnya seraya berhenti dan menoleh kearah ku
"Emm aku boleh dong sekali kali main kerumah kamu." ucapku
Seketika Mahen terkesiap, kemudian segera ia mengubah ekspresi wajahnya dan mengangguk.
"Boleh, kamu bisa datang kapan pun yang kamu mau." ucapnya
"Baiklah." sahutku
__ADS_1
Setelah ia pergi, aku pun lekas masuk kedalam kamarku dan duduk bersila aku memejamkan mata dan mencoba untuk menerawang.