Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Perkelahian


__ADS_3

Hingga tiba dipertengahan hutan, hampir sampai di pemukiman warga. Masih dengan ditumbuhi pepohonan jati yang tumbuh rimbun menjulang, mungkin pohon itu sudah berumur tua. Tampak dua sepasang manusia saling memandang, mereka sedang menahan dada yang berdebar kencang.


"Apa yang kau inginkan, tidakkah kau puas dengan semua ini." ucap Pangeran Segoro dengan suara pelan namun tersirat akan kemarahan besar


"Sudah kukatakan bukan, jangan mencampuri urusanku." sahut Nyi Danuwati penuh dengan kalimat penekanan


"Kau sudah kelewatan batas." sentak Pangeran Segoro


Untuk sejenak Nyi Danuwati terpaku, seumur umur Pangeran Segoro tidak pernah membentak nya. Ada sesuatu yang perih didalam dada, kemudian ia memberanikan diri menatap Pangeran Segoro.


Dapat ia lihat penguasa lautan Segoro itu sedang marah besar, tampak jelas dari wajahnya yang memerah menahan amarah serta tatapan nya yang tajam. Tidak lupa juga tangannya yang mengepal erat, saking eratnya bahkan buku tangannya sampai memutih.


"Bukan urusanmu." ucap Nyi Danuwati


"Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan mu menghancurkan desa ini. Aku akan mempertahankan desa ini meski sekalipun aku harus mati, ingat itu." sahut Pangeran Segoro seraya menunjuk wajah Nyi Danuwati


Nyi Danuwati yang memang sudah menyatu dengan kegelapan tentu saja langsung tersinggung dan emosi melihat Pangeran Segoro menunjuk wajahnya, ia pun tidak terima dan langsung menyerang Pangeran Segoro.


"Kurang ajar kau." teriak Nyi Danuwati


Nyi Danuwati seketika turun dan menapak di tanah, sedetik kemudian ia berlari kearah Pangeran Segoro yang juga sudah turun tidak lagi melayang.


Pangeran Segoro yang menyadari pergerakan Nyi Danuwati seketika mengelak, serangan Nyi Danuwati pun melesat membuat ia semakin naik pitam.

__ADS_1


Dalam waktu bersamaan, Pangeran Segoro dengan kedua tangan yang mengepal hingga mengeluarkan asap putih yang sangat tebal membuat pandangan Nyi Danuwati buram.


Kemudian Pangeran Segoro segera melesat tinggi mengarah kearah Nyi Danuwati yang masih berusaha awas meskipun tidak bisa melihat jelas, hingga hampir dekat Pangeran Segoro pun menutup mata. Karena jauh dilubuk hati, ia tidak tega menyerang wanita yang ia cinta.


Bughh


Brakk


Tendangan kuat mengarah tepat didada Nyi Danuwati membuat wanita cantik itu terpental kebelakang hingga membentur pohon jati yang lumayan besar, seketika darah segar berwarna kehitaman mengalir deras dari mulut Nyi Danuwati.


Bukan Nyi Danuwati namanya jika menyerah, ia kemudian segera bangkit seraya menekan dada yang terasa perih.


"Sial." guman Nyi Danuwati


Nyi Danuwati langsung melesat cepat, saking cepatnya orang awam hanya bisa merasakan hawa dingin saja. Begitu juga dengan Pangeran Segoro, ia hanya bisa melihat kabut hitam melesat kearahnya dan.


"Arggh."


Pangeran Segoro terpental jauh, kala Nyi Danuwati menendang bagian perutnya. Beberapa pohon pohon yang tadinya berdiri kokoh kini tumbang akibat serangan Nyi Danuwati, begitu juga Pangeran Segoro beberapa pohon yang ia sentuh dengan punggungnya akibat terpental pun berjatuhan.


Darah segar mengalir deras dari mulut dan hidung Pangeran Segoro, melihat itu Nyi Danuwati kembali hendak menyerang. Namun, sigap Pangeran Segoro menyingkir dan serangan Nyi Danuwati meleset dan membuat satu pohon lagi tumbang.


"Menyerah lah Segoro." ucap Nyi Danuwati yang tadinya memiliki bola mata kecoklatan kini berubah menjadi hitam pekat

__ADS_1


"Tidak akan." sahut Pangeran Segoro tegas


"Walaupun kau mati sekalipun?"


Tanpa menjawab, Pangeran Segoro berdiri setelah terbaring lemah. Dan tanpa sepengetahuan Nyi Danuwati, Pangeran Segoro mengepalkan kedua tangan dengan kuat hingga mengeluarkan asap putih keemasan. Hingga semakin banyak, Pangeran Segoro segera melompat tinggi dan menginjakan kaki dari satu pohon ke pohon yang lain.


Hingga setelah hampir sampai didekat Nyi Danuwati, Pangeran Segoro segera mengerahkan kedua tangannya yang diselimuti asap putih keemasan kearah Nyi Danuwati.


Bugh


Bugh


Dua kali serangan yang dilayangkan oleh Pangeran Segoro tepat dibagian bawah kedua pundak Nyi Danuwati, membuat ia tersungkur cukup jauh. Sangat jauh, bahkan lebih jauh dari Pangeran Segoro.


Ia terpental bebas hingga membentur satu pohon yang sangat besar, namun tetap saja pohon besar itu bergoyang hebat meskipun tidak tumbang.


Kondisi Nyi Danuwati sungguh memperihatinkan, pakaian ala keraton itu sudah bersimbah darah. Darah kehitaman terus saja mengalir deras dari mulut dan hidung, tampak dahi nya juga sobek dan mengeluarkan cairan kental.


Pandangan nya semakin kabur, namun ia masih bisa melihat Pangeran Segoro yang melesat cepat kearahnya. Hingga dari jarak dua meter ia berhenti, dan mengatakan sesuatu kepada Nyi Danuwati.


"Kembalilah dek, lupakan semua kepedihanmu. Mari kita mulai bersama dari nol lagi, aku akan selalu menunggumu. Jangan pernah merasa sendiri ada aku disini, lupakan semua dendam yang membara."


Setelah Pangeran Segoro mengucapkan itu, belum sempat menjawab tampak Nyi Danuwati sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2