
POV Mamad
Di pagi hari, aku sudah bersiap hendak ke rumah juragan Karno untuk bekerja.
"Aku pergi dulu yo bu." ucapku pada istriku
"Iyo, hati hati pak." sahutnya
Lekas aku mengambil sepedaku disamping rumah, dan mengayuh nya dengan kecepatan sedang. Tiba dipertengahan jalan, arah menuju rumah Nanang aku memutuskan untuk kerumah nya dulu.
Aku lekas mengayuh sepeda ku kearah rumah Nanang, setelah sampai lekas aku menghentikan sepeda ku didepan rumah nya. Aku berjalan kearah rumah nya, dan mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Namun tidak ada pergerakan dari dalam, tidak menyerah aku mengetuk kembali.
Tok tok tok
Dan tidak menunggu lama, akhirnya ada pergerakan dari dalam. Terdengar ada yang berjalan, karna lantainya masih terbuat dari bambu.
Kriiittt
Suara pintu berderit, pintu pun terbuka menampilkan raut wajah wanita paruh baya.
"Eh.. Ada apa yo kang Mad?" tanya Surti istri Nanang
"Nanang nya dimana mbak yu?" tanyaku
"Tidak tau kang, dari semalam tidak pulang saya mikirnya malah kalian menginap dirumah juragan Karno."
Aku mengernyitkan alis bingung, pasalnya kami semalam pulang bersama. Kalau Nanang tidak pulang, lalu kemana dia.
"Ada apa toh kang, kok malah bengong." ucap Surti membuyarkan lamunan ku.
__ADS_1
"Ti...tidak ada apaapa kok mbak yu, mungkin saja Nanang memang tidur di rumah juragan Karno." sahutku berbohong
"Kalau begitu saya pamit dulu." timpal ku lagi
"Iyo, hati hati kang."
Aku lekas menaiki sepeda ku, kemudian aku mengayuh sepeda ku dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, aku terus memikirkan kemana pergi nya Nanang.
Setelah melewati sedikit arah rumah Nanang, aku melihat ada beberapa warga didepan. Aku yang memiliki jiwa penasaran tinggi, lekas menghampiri.
Setelah turun dari sepeda, aku menanyai salah satu warga.
"Nuwun sewu kang, ini ada apa toh?" tanyaku langsung pada pria paruh baya yang usianya masih sepantaran denganku
"Itu kang, ada orang meninggal kemungkinan bunuh diri." sahutnya
Aku ternganga mendengar penuturan nya, miris sekali seolah tidak ada jalan lain selain bunuh diri.
Sesampainya didepan, mataku terbelalak melihat Nanang terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan. Darahnya yang masih keluar dan sebagian sudah mengering, kepala nya yang menganga.
"Ini kan Nanang toh." ucap salah satu warga
"Iyo benar." timpal yang lain
"Kamu temannya Nanang kan." ucap ibu itu lagi kepadaku
Aku yang masih tidak menyangka dengan pemandangan di depan ku, tidak bisa bicara aku hanya mengangguk lirih.
"Panggil pamong desa." teriak yang lain
Sontak salah satu diantara warga langsung berlari menuju rumah pamong desa.
"Sebaiknya kita bawa kerumahnya saja dulu." timpal yang lain
__ADS_1
Yang lain pun setuju, lekas aku membantu para warga untuk menggotong tubuh Nanang menggunakan tandu yang sudah disiapkan.
Kamu pun berjalan pelan, menuju rumah Nanang ntah apa yang terjadi nanti. Sementara Surti, hanya tau jika suaminya tidur di rumah juragan Karno.
Setelah sampai, salah satu warga langsung mengetuk pintu rumah Nanang.
Tok tok tok
Kriittt
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya pintu dibuka. Menampilkan wajah Surti yang terkejut, sekaligus kebingungan.
"Ada yo." tanya Surti cemas
Seketika kami menurunkan tandu yang berisi tubuh Nanang di atas nya kebawah, seketika Surti menoleh kebawah ia terpaku beberapa saat.
Setelah memperhatikan baik baik, ia sangat terkejut detik kemudian ia menangis histeris seraya mendekati jasad suaminya.
"Ini kenapa pak." ucap Surti disela tangisannya
Salah satu warga sebagai perwakilan menjelaskan semuanya, seketika Surti semakin histeris detik kemudian ia pingsan.
"Angkat..... Angkat masuk kedalam." ucap pamong desa yang sudah sampai
Setelah Surti tersadar ia pun histeris kembali, namun itu tidak menyurutkan niat kami untuk mengubur Nanang.
...****************...
Setelah melakukan beberapa serangkaian, tepat di sore hari akhirnya Nanang sudah dikubur. Aku masih tidak percaya jika Nanang melakukan bun*h diri, dia bukan lah orang yang seperti itu.
Aku lekas kembali pulang, karna jika ke rumah juragan Karno aku sudah ganti sif
...****************...
__ADS_1