
Hari demi hari sudah berlalu, tidak terasa sudah seminggu mereka lewati hari di alam goib. Selama didasar sendang, Riana hanya mengingat kesakitan disela semedi. Penderitaan dan kesakitan yang selalu ia ingat dalam seminggu ini membuat dendam nya semakin membara, kini tidak ada lagi setitik hati nurani dalam dirinya.
Tidak ada lagi kebaikan yang melekat dalam hatinya, kini yang ada hanya dendam, amarah, kebencian, dan kejahatan. Begitupun Nyi Danu, sudah seminggu ia menghabiskan waktu untuk bersemedi guna membantu Riana.
Nyi Danu pun lekas berdiri dan berjalan menuju sendang untuk menyambut Riana, semua para danyang sari, pengawal, makhluk makhluk besar yang ikut menjaga istana, serta warga istana Nyi Danu yang berbagai macam bentuk turut ikut menghadiri.
Tanpa terkecuali, mereka semua ikut memeriahkan acara penobatan sang ratu baru. Beberapa sosok lelaki yang serupa dengan manusia menabuh gendang, ada juga yang memainkan gamelan. Tidak lupa juga, beberapa danyang sari ikut menari.
"Wahai rakyatku, silahkan sambut ratu baru kalian. Ia yang akan menggantikan ku untuk mengurus istana ini, sambut lah." ucap Nyi Danu menggelegar
Berbagai sorak dan tepuk tangan menghiasi area sendang, tiba tiba air disendang meruak ruak seperti air yang mendidih. Disusul dengan gelombang gelombang dan letupan air yang menghasilkan balon balon kecil, tidak lama kemudian muncul seperti pusaran angin.
Hingga muncul sosok wanita yang sangat cantik sempurna, dengan rambut panjang lurus dibiarkan tergerai. Kulit yang lembut selembut sutra, serta kulit putih seputih pualam.
Bibir yang tipis menambah kesan sexy, anehnya Riana muncul tidak menggunakan kain jarik yang ia pakai sewaktu memasuki sendang. Ia muncul dengan menggunakan kemben dan jarik berwarna merah darah, tidak lupa selendang berwarna emas menambah kesan mewah.
Seluruh tubuhnya kini dihiasi berbagai perhiasan yang sangat mewah, serta mahkota yang menghiasai kepala. Ditambah dengan beberapa bunga mawar merah yang diselipkan di pinggiran mahkota, serta ronce melati dikiri kanan sungguh sangat cantik.
"Ini belum selesai nduk, mari kita ke ruangan aula." ucap Nyi Danu
__ADS_1
"Njih ibu." sahut Riana dengan suara yang lembut mendayu
Nyi Danu dan Riana pun berjalan menuju aula, disusul dengan penghuni istana goib. Sesampainya disana, Nyi Danu melukai jari telunjuk nya hingga berdarah. Kemudian, jari itu ia tempelkan didahi Riana.
"Karena kamu sekarang adalah anakku dan akan mewarisi tahtaku, maka dengan ini namamu adalah Nyi Danuwati." ucap Nyi Danu
"Njih, aku terima ibu." sahut Nyi Danuwati alias Riana
"Wahai rakyatku sambutlah ratu baru kalian, Ratu Nyi Danuwati. Maka, dengan ini Nyi Danuwati sudah resmi menjadi penguasa hutan larangan." ucap Nyi Danu
Semua bersorak sorai dan bertepuk tangan, acara pun dimeriahkan kembali. Musik gamelan yang tadi berhenti kini dimainkan kembali, beberapa danyang sari tampak menari dengan lihai berlenggak lenggok.
Ada juga beberapa warga yang sedang menikmati makanan, yaitu ada kepala kerbau yang masih meneteskan darah, ada juga janin bayi serta makanan mengerikan lainnya.
...****************...
Sementara di desa Ketang, telah geger berita bahwa beberapa ternak warga tiba tiba saja mati dalam kepala terpenggal dan tidak tahu kepalanya ada dimana. Usus usus hewan itu tampak berceceran, sungguh mengerikan.
"Kenapa bisa begini yo kang, selama ini tidak pernah desa kita mengalami seperti ini." ucap salah seorang pria paruh baya yang baru saja pulang dari kebun karena diberitahukan bahwa hewan ternak nya mati
__ADS_1
Mbah Bayan yang berada ditempat kejadian terpaku sesaat, tampak jelas wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
"Kejadian berpuluh puluh tahun kini kembali." gumam mbah Bayan pelan namun masih terdengar oleh warga yang berada didekat mbah Bayan
Seketika mereka bergidik, warga yang seumuran mbah Bayan sudah pasti tahu apa yang terjadi dulu. Begitupun paruh baya dan anak muda, mereka sudah diceritakan oleh sesepuh atau orang tua mereka dulu.
"Terus apa yang harus kita lakukan mbah, dulu kakek saya mengatakan bahwa desa ini pernah jadi desa mati. Akankah semua itu terulang kembali?" tanya salah satu pria paruh baya yang lain
"Semoga saja tidak." sahut mbah Bayan lirih
Tidak lama, para petinggi desa sudah datang.
"Bagaimana ini pak, kami semua sudah rugi besar. Padahal, dari ternak ternak itu kami mencari makan sembari menunggu panen." ucap salah satu warga
"Kalian tenang saja bapak bapak ibu ibu, kami para petinggi desa sudah sepakat akan memberikan kalian bantuan seraya menunggu panen. Kami akan memberikan berupa sembako, karena jika uang atau kerbau kami tidak sanggup...
Kalian pasti sudah tahu bahwa desa kita sedang mengalami kesulitan, tolong mengerti yo." sahut pamong desa
"Ora opo opo pak, yang jelas kami tidak akan mati kelaparan." ucap yang lain
__ADS_1
Setelah merundingkan, mereka pun kini membubarkan diri masing masing. Sementara mbah Bayan kembali menuju rumah Riana untuk membantu karena sudah hampir jadi, sepanjang jalan tampak mbah Bayan memikirkan sesuatu.
"Semoga nak Damar dan mbah Sastro sanggup mengatasi masalah ini." gumam nya