
Keesokan paginya, Mahendra bangun lebih awal karena hendak kembali kekota. Para warga yang hendak bepergian jauh, memang diwajibkan bangun awal dan berangkat awal. Karena alat transportasi didesa mereka masih sulit, hanya ada sepeda, kuda, kuda delman.
"Kebiasaan bangun lama." ucap Mahendra kala tidak melihat Ginanjar
"Iku nganti dheweke." gumam nya lagi masih menggerutu
(Terserah dia)
Mahendra kemudian memilih untuk membuatkan sarapan pagi terlebih dahulu, ia mulai memasak seadanya. Hampir sejam ia berkutat di dapur, tapi Ginanjar belum kunjung keluar dari kamarnya.
Kemudian Mahendra memilih untuk mandi, Mahendra tidak merasa curiga sedikitpun karena memang itu kebiasaan Ginanjar bangun lama. Mahendra lekas kembali kekamar untuk mengambil pakaian ganti, setelahnya ia bergegas kesumur belakang rumah.
Namun setelah selesai mandi pun Ginanjar masih belum keluar, Mahendra yang kesal mencoba untuk menghampiri Ginanjar dikamar nya.
"Dia sebenarnya mau ikut opo ora." ucapnya pada diri sendiri seraya berjalan tergesa gesa
Tok tok tok
Setelah berada didepan pintu, Mahendra segera mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan, Mahendra kembali mengetuk pintu.
Tok tok tok
Kali ini ia mengetuk nya dengan sedikit kencang, namun masih belum ada sahutan. Tidak hilang akal, ia mencoba memutar knop pintu.
Krieett
"Tidak dikunci." gumam Mahendra
Namun pintu itu hanya bisa terbuka sedikit, bahkan kepala Mahendra saja belum cukup untuk mengintip kedalam.
"Ini kenapa toh." gumamnya seraya mendorong pintu namun sulit
Tidak menyerah, ia kembali mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Hingga pada akhirnya, pintu itu terbuka lebar walaupun tidak terlalu lebar.
Mahendra lekas menyembulkan kepalanya kedalam, ingin memastikan apa kira kira yang menganjal pintu hingga sulit dibuka.
__ADS_1
Deg
Mahendra terkejut melihat Ginanjar tergeletak didepan pintu kamar, Mahendra lekas masuk dan memeriksa kondisi Ginanjar.
"Hufh masih bernafas ternyata." ucapnya setelah mengecek hidung Ginanjar dan lehernya
Bahkan nafas Ginanjar sangat teratur menandakan ia sedang tidur nyenyak, Mahendra semakin dibuat kesal. Ia sudah berfikir yang tidak tidak, tapi justru Ginanjar hanya tertidur saja bahkan sangat pulas.
"Lagian kenapa juga tidur di sini." Mahendra masih belum puas menggerutu
Setelah menetralkan nafasnya yang naik turun karena marah marah dipagi hari, ia segera membangunkan Ginanjar.
"Bang, bangun sudah pagi." ucap Mahendra seraya menepuk pelan pipi Ginanjar sekali kali ia mengguncang tubuh Ginanjar
"Euughh." Ginanjar menggeliat malas
Kemudian matanya pun terbuka walaupun tidak sepenuhnya dikarenakan masih menahan kantuk.
"Ada apa?" tanya Ginanjar yang malah lupa apa yang sudah menimpa nya
Melihat Mahendra yang hanya melongo, Ginanjar lekas berdiri dan berjalan kearah kasur dan.
Ginanjar kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu, tidak membutuhkan waktu lama dengkuran halus terdengar. Mahendra yang melihat itu hanya mendengus kesal, tidak ingin membuang waktu ia segera memilih untuk sarapan dan bersiap untuk pergi.
'Mungkin dia tidak mau ikut.' batin Mahendra
Setelah bersiap siap, Mahendra mencoba untuk membangunkan Ginanjar namun tidak bisa tepatnya Ginanjar tidak mau bangun.
"Aku pergi yo." ucap Mahendra yang tidak ada balasan sama sekali
Mahendra menatap sendu abangnya, abang sekaligus keluarga satu satunya. Ia tidak memiliki keluarga yang lain, sebab keluarga dari kedua orang tuanya entah kemana.
Ibunya Mahendra hanya sebatang kara sejak kecil dan hidup terlunta lantung sendiri, sedangkan ayah nya memiliki orang tua yang juga sudah meninggal disaat Mahendra masih kecil. Sejak kecil pun, Mahendra memang tidak pernah melihat keluarga dari ayahnya datang mungkin saja memang tidak ada.
Mahendra menahan nafas sejenak dan menghembuskan nafas dalam, ia kemudian melangkah pelan keluar dari rumah. Ia sebenarnya tidak tega meninggalkan Ginanjar sendiri, mengingat mereka tidak punya siapa siapa.
__ADS_1
Namun bertahan disini pun tidak mudah bagi Ginanjar, karena pujaan hatinya pergi entah kemana. Jika ia kembali pun, Mahendra yakin bahwa wanita idaman nya itu akan bersatu dengan kekasih hatinya.
Terlebih Ginanjar bertahan disini bukan untuk sesuatu yang baik, Ginanjar berniat mencelakai wanita pujaan Mahendra. Dan Mahendra berfikir, mungkin dengan ia pergi bisa membuat Ginanjar berfikir ulang dan berubah.
"Sudah selesai?" tanya seseorang tepat didepan pintu
Mahendra terkejut dengan kehadiran suara yang tiba tiba, setelah melihat pemilik suara ia bernafas lega. Yang berdiri diluar adalah Kemal, Kemal memang tipe orang yang mudah membaur.
Tidak hanya Kemal, ada mang Kurdi, dan mbah Sastro. Sementara mbah Bayan tidak ada, mungkin saja ia sedang sibuk. Seperti Pangeran Segoro, mereka pun mengantar Mahendra sampai di gapura desa.
"Ginanjar tidak ikut toh?" tanya Kemal
"Ora." sahut Mahendra
Sementara dua sepuh dibelakang mereka hanya diam menanggapi, hingga langkah mereka berhenti digapura desa.
"Katresnan iku ora salah, mung wektune ora pas. Kowe mung ndedonga, merga yen kowe duwe jodo, kowe bakal ketemu sepira abote kowe ngadoh. Yen sampeyan ora duwe tandhingan, banjur ayo. Ojo putus asa, umurmu isih dawa, mula kejar cita-citamu dhisik." ucap mbah Sastro memberi nasihat
(Cinta tidak salah le, hanya saja waktunya yang tidak tepat. Kamu berdoa saja, karena jika sudah berjodoh maka akan bertemu sekuat apapun kalian menjauh. Jika tidak berjodoh, maka ikhlaskan. Jangan berkecil hati, hidupmu masih panjang maka kejarlah dulu impian mu.)
Mbah Sastro bisa paham, bahkan mbah Sastro bisa melihat jelas dimata Mahendra bahwa ia sangat merindukan sosok Riana alias Nyi Danuwati.
Dua pemuda tampan mencintai wanita yang sama, mbah Sastro tidak bisa berkata apa apa selain memberi wejangan. Karena ia tahu siapa Nyi Danuwati sekarang, Nyi Danuwati yang setengah manusia dan setengah demit seorang ratu kegelapan.
Entah suatu saat Nyi Danuwati mau meninggalkan semua yang ia miliki setelah dendam nya usai dan menikah dengan seorang pria, atau justru tetap memilih menjadi ratu hutan larangan.
Mbah Sastro tidak bisa menebak, sebab itu ia hanya bisa memberi wejangan agar seseorang tidak terlalu berharap lebih kepada Nyi Danuwati. Apalagi mengharapkan cinta, jika memang berjodoh maka akan bertemu.
"Njih mbah, matur nuwun." sahut Mahendra setelah terpaku sejenak seraya menunduk
(Iya mbah, terimakasih.)
Perkataan mbah Sastro benar adanya, dan perkataan itu masuk kedalam tubuh Mahendra dan seolah menusuk hatinya. Bukan brarti ia tersinggung, lebih tepatnya perkataan itu membuat Mahendra sadar dan mengerti.
Ia hanya harus mengikuti arus takdir membawanya akan berlabuh kemana, dan mulai memantapkan hati. Setelah berpamitan, Mahendra segera menaiki kuda delman yang sudah menunggu nya.
__ADS_1
Seiring dengan berjalan nya roda kuda, Mahendra tak henti henti nya menoleh kebelakang. Ada banyak rasa yang bergejolak didalam hatinya, ia hanya bisa berdoa terhadap Ginanjar.
...****************...