Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Ritual Penobatan Ratu


__ADS_3

Hingga dimalam harinya, Riana menggeliat kala merasakan pundaknya disentuh seseorang. Perlahan ia pun membuka mata, ia melihat sosok wanita yang sangat cantik berada disamping nya.


"Bangunlah nduk, kamu makan dulu." ucap Nyi Danu


"Njih ibu." sahut Riana tanpa membantah sedikitpun


Riana pun menuruni ranjang empuk yang berisi oleh kapas yang sangat lembut, selembut sutra. Mereka pun berjalan menuju ruang makan, disana sudah terlihat para danyang sari menyiapkan makanan yang snagat lezat.


Riana tampak menelan ludah melihat berbagai macam hidangan yang sangat lezat, wajar saja. Sudah hampir empat hari lamanya ia tidak makan, semenjak ia terluka oleh Nyi Warsih ia tidak bisa memasak untuk nya sendiri.


"Duduk lah." ucap Nyi Danu


Segera Riana duduk kala salah satu danyang menarik kursi untuknya, segera para danyang yang lain menyiapkan makanan untuk Riana dan Nyi Danu.


"Makanlah sepuas mu nduk." ucap Nyi Danu


Mereka pun makan dengan lahap didalam keheningan, setelah selesai makan mereka pun bersantai sejenak. Kemudian, Nyi Danu mengajak Riana untuk berlatih kekuatan sembari menunggu tengah malam untuk melakukan penobatan Ratu.


"Nduk, mari berlatih agar kekuatan mu semakin hebat." ucap Nyi Danu


"Baik ibu."


Mereka pun berjalan keluar dari istana, walaupun dimalam hari para pengawal dan makhluk menakutkan itu masih setia ditempat mereka masing masing. Nyi Danu pun pun mulai mengajari Riana dari yang terkecil, mereka tengah berlatih ilmu kanuragan.

__ADS_1


Walaupun Riana sangat lihai dalam bertarung, Nyi Danu masih ingin mengasah kemampuan Riana. Perlahan, mereka pun saling bertarung.


Hiaaahhh


Nyi Danu dan Riana melompat bersamaan, kemudian tampak Nyi Danu melesat ingin menerjang tubuh Riana. Sementara Riana sendiri, ia memilih untuk bergulung gulung dengan secepat kilat hingga bahkan Nyi Danu sekalipun tidak mampu melihat jelas.


"Tidak salah aku memilih mu." gumam Nyi Danu tersenyum melihat gerakan Riana yang sangat lihai


Brakkk


Bughhh


Mereka pun saling menerjang satu sama lain, hingga keduanya terpental. Hanya saja, Riana terpental sangat jauh. Wajar saja, Nyi Danu bukan tandingannya. Bahkan sekelas mbah Sastro sekalipun masih tidak mampu, tampak Riana mengerang kesakitan.


Riana pun bangkit, kemudian mereka kembali berlatih bertarung dengan saling menerjang satu sama lain. Hingga tiba hampir tengah malam, Nyi Danu pun memutuskan untuk berhenti.


"Sudah, kamu harus berendam selama seminggu di sendang." ucap Nyi Danu


"Seminggu." desis Riana


"Itu belum seberapa nduk, dibandingkan dengan ibu dulu butuh bertahun tahun untuk menjadi sekuat ini."


"Apakah sendang nya jauh?"

__ADS_1


"Tidak, sendang itu berada dibelakang istana ini."


Mereka pun kembali masuk, Nyi Danu lekas menyuruh beberapa para danyang mempersiapkan Riana. Sementara beberapa para danyang lagi, Nyi Danu menyuruh untuk menyiapkan bahan bahan untuk berendam nanti.


Lekas para danyang pergi menuju sendang seraya menenteng bahan bahan untuk ritual nanti, salah satu danyang segera menaburkan kembang tujuh rupa sebanyak mungkin. Karena sendang itu lumayan lebar, jika didunia manusia sungai yang sering digunakan untuk mencuci atau mandi.


Setelah air didalam sendang itu sudah tidak terlihat sebab ditutupi oleh taburan kembang tujuh rupa, para danyang lekas menata alat alat ritual. Kemudian, mereka menyalakan kemenyan yang sudah dimasukkan kedalam kendi.


Tidak lama, Riana muncul dengan dituntun oleh beberapa para danyang sari. Riana berjalan dengan anggun, dengan dibalut kain jarik. Rambut panjang nya dibiarkan tergerai dengan sesekali terbang kesana kemari karena tertiup angin malam, dengan satu bunga mawar yang berwarna merah darah melekat ditelinga nya.


"Sebelum berendam, kamu harus melakukan ritual dulu." ucap Nyi Danu yang sudah berada didekat Riana


Riana hanya mengangguk mengiyakan, Nyi Danu meminta beberapa para danyang sari untuk membawa gentong yang berisi air yang sudah dibacakan mantra serta ditaburi kembang tujuh rupa juga.


Kemudian, Nyi Danu menyiram tubuh Riana dengan batok kelapa. Sampai air didalam gentong itu habis, kemudian Nyi Danu mengambil kendi yang berisi kemenyan tadi, lalu asapnya ia arahkan ke wajah Riana seraya membacakan ajian.


"Sudah, sekarang masuklah ke sendang itu dan bersemedi didalamnya." ucap Nyi Danu


Riana mengangguk, dengan dibantu para danyang ia pun berdiri. Pelan, ia melangkahkan kakinya memasuki sendang itu. Dengan tetap merapalkan mantra didalam hati, mantra yang sudah diajarkan oleh Nyi Danu. Begitupun Nyi Danu, ia melihat punggung Riana dengan tetap merapalkan mantra.


Setelah tubuh Riana sudah tidak terlihat, alias sudah masuk sepenuhnya kedalam dasar sendang. Mereka semua pun membubarkan diri, Nyi Danu sendiri memilih untuk bersemedi selama seminggu juga di salah satu ruangan khusus.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2