Dendam Yang Terbalaskan

Dendam Yang Terbalaskan
Mati


__ADS_3

"Bagaimana ini?" tanya Nardi


"Coba kamu lihat." sahut Wiryo menoleh kearah Nardi


"Lah, kok aku?" sahut Nardi keberatan


Hening, Wiryo tidak menjawab.


"Kita lihat barengan saja." ucap Nardi lagi


"Yowes, hitung sampai tiga."


Nardi hanya mengangguk, kemudian mereka mulai menghitung sampai tiga.


Satu


Dua


Tiga


Bersamaan dengan itu, mereka berdua kompak memutar tubuh mereka menghadap kearah makhluk jadi jadian itu.


Deg


Seketika aroma anyir busuk dan kapur barus terendus kuat dan memaksa masuk kedalam rongga hidung mereka, mereka terbelalak melihat penampakan didepan. Antara takut dan menahan mual, seraut wajah wanita tua yang pucat menyeringai didepan wajah mereka berdua.


Dengan mata yang keseluruhan berwarna putih, seperti tidak ada bola mata. Dari lubang hidung mengalir darah yang berbau busuk disusul dengan hewan hewan menjijikkan seperti belatung menggeliat berjatuhan.


Seringaian itu lama kelamaan menjadi lebar hingga menyentuh telinga, menampilkan deretan gigi yang berwarna hitam bercampur dengan tanah.


"Aku melu." ucap sosok wanita tua itu dengan suara serak khas nya

__ADS_1


(Aku ikut)


"Argh."


Mereka berteriak bersamaan, mereka hendak lari namun baru berbalik badan lagi lagi mereka dikejutkan oleh penampakan lagi.


"Argghh."


Bahkan kaki Nardi seketika kaku tidak bisa digerakkan saking takutnya, tampak pemuda yang diluar kelihatan sangar itu menggigil hebat.


"Mau kemana kang, aku melu hihihihi." ucap sosok itu


Sosok wanita berambut pendek sebahu, dengan wajah pucat serta hidung yang berkapas. Kepalanya yang menunduk membuat rambut pendeknya menutupi wajah, namun ada yang lebih mengerikan.


Diperut sosok itu terlihat berlubang seperti bekas tusukan celurit, bahkan darah berbau busuk masih saja keluar bersamaan dengan hewan menjijikkan pula.


"Aku kesepian kang hiks hiks." ucap sosok demit wanita itu sembari menangis tersedu


"Aku ikut hihihihi." ucapnya lagi yang tiba tiba tertawa


"Kalau begitu, kakang berdua saja yang ikut kita hihihihi."


Wiryo dan Nardi menggeleng cepat, Wiryo melihat kearah Nardi mengisyaratkan untuk lari. Nardi yang mengerti isyaratan itu hanya mengangguk, dalam detik yang sama mereka pun berlari sekencang mungkin.


Mereka berlari kencang tanpa berniat menoleh kebelakang, hingga setelah lelah dan dirasa mereka berlari sudah lama mereka pun memutuskan untuk berhenti. Belum lagi, keringat sebesar biji jagung berjatuhan dari tubuh mereka.


"Sudah sudah, aku capek." ucap Nardi yang masih ngos ngosan dan menetralkan nafas


"Iyo."


Namun setelah sadar, Nardi seketika terkejut dan berteriak kencang hingga membuat Wiryo yang disebelahnya terkejut.

__ADS_1


"Ono opo toh?" tanya Wiryo kesal


(Ada apa toh)


"Bu...bukannya ini masih tempat yang tadi yo." ucap Nardi


Wiryo yang merasa tidak percaya seketika memperhatikan sekitar, dan benar saja ini masih ditempat yang sama. Mereka hanya berlari ditempat, kemudian Wiryo mencoba menoleh kebelakang seketika ia berteriak histeris.


Nardi yang merasa terganggu spontan menoleh kebelakang, seketika juga ia berteriak histeris.


"Hihihihihi."


Yah, sosok hantu wanita yang tidak lain adalah Hayati adik Damar atau Pangeran Segoro yang dibunuh ditengah hutan serta hantu wanita tua yang tidak lain adalah mbah Kasum eyang Riana atau Nyi Danuwati.


Tampak kedua sosok demit itu tertawa puas melihat kebodohan manusia didepannya, setelah selesai menertawakan mereka hantu Hayati menoleh kepada mbah Kasum.


Mbah Kasum hanya mengangguk dan menyeringai, kemudian kedua hantu itu berjalan mendekati Nardi dan Wiryo yang masih ketakutan. Namun, mereka tidak memiliki tenaga untuk lari.


Seolah olah kaki mereka dipaku ditempatnya hingga bergerak saja sulit, mereka melihat kedua hantu itu sudah semakin dekat, lebih dekat, dan.


Wushhhh


Nardi dan Wiryo seketika menyeringai, yah kedua hantu itu memasuki tubuh mereka berdua. Kini Wiryo dan Nardi saling memandang dan mengangguk, tampak Nardi dengan wajah pucat dan tatapan kosong celingukan mencari sesuatu.


Hingga tidak jauh dari mereka terlihat rumah warga, karena memang Nardi dan Wiryo tadi hendak pulang dan sudah sampai di pemukiman. Seketika Nardi berlari kencang menuju samping rumah salah satu warga, disana terlihat beberapa alat kebun.


Nardi yang dirasuki oleh Hayati mengambil dua celurit dan membawanya kearah Wiryo yang masih berdiri mematung ditempat yang sama, kemudian Nardi memberikan satu celurit itu kepada Wiryo.


Wiryo menerima celurit itu, seketika mereka mengangguk anggukan kepala dan tersenyum menyeramkan. Kini mereka berdua seketika bertarung, hingga luka lebam didapatkan oleh Wiryo dan Nardi.


Mereka saling tonjok hingga menyebabkan hidung dan mulut mereka mengeluarkan darah, hingga terakhir hal paling tragis pun terjadi. Tampak mereka berdua saling menikam, hingga dua tusukan didapatkan oleh Wiryo sementara Nardi mendapatkan tiga tusukan.

__ADS_1


Terakhir mereka saling menusuk kan celurit itu ke leher sang lawan masing masing, seketika mereka berdua ambruk jatuh ketanah dengan posisi celurit masih menancap dileher.


Mereka jatuh tidak bernyawa, tidak jauh dari mereka terlihat wanita cantik memakai pakaian ala ratu keraton sedari tadi mengawasi mereka. Hingga pertunjukan terakhir, wanita cantik dengan memakai kemben merah itu pun tersenyum tipis kemudian ia berlalu pergi dan menghilang.


__ADS_2