
POV Author
Masih di malam yang sama, ditengah jalan yang dikelilingi oleh pepohonan dan semak semak belukar. Seorang wanita cantik, dengan tinggi semampai, berkulit putih bersih tengah berjalan seorang diri.
Ia adalah Riana, ia terus berjalan dengan pandangan kosong. Wajahnya yang datar dengan putih pucat, siapapun yang melihat akan menganggap ia adalah setan.
"Nikmati hidupmu Purwo." gumamnya
"Aku akan terus berjalan tanpa menggunakan kekuatan ku, hitung hitung anggap saja ini perayaan untuk kesedihan mu." gumamnya lagi
Ia terus berjalan menyusuri jalan seorang diri, tanpa memedulikan apapun hingga tiba tiba.
Brughhh
"Argh." ucap Riana merintih kala tubuhnya bertabrakan dengan seseorang
Pria dengan tubuh yang kekar dan gagah, memakai kaos lengan pendek dengan sedikit ketat hingga menampakkan lekuk perut yang kotak kotak.
Wajah yang tampan, dengan kulit putih bersih, hidung mancung, bibir merah alami. Setiap wanita yang menatapnya akan tergila gila, namun tidak berlaku dengan Riana yang memiliki hati yang sudah mati.
"Maaf maaf, saya tidak sengaja." ucap sosok pria tampan itu
Lekas ia membantu Riana untuk berdiri, ia mengulurkan tangannya dan disambut oleh Riana.
"Sekali lagi maaf ya." ucap pria itu
"Tidak apa apa kok mas, saya baik baik saja." sahut Riana sopan
"Baiklah, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang sebagai permintaan maaf." ucap sosok pria itu
"Emm... Tidak usah mas, aku bisa sendiri kok." sahut Riana
"Tidak ada penolakan, ayo kuantar."
"Njih terimakasih."
"Emang tempat tinggal kamu dimana?" tanya pria itu sambil berjalan disamping Riana
"Desa Sumbul mas."
"Wahh, kita satu desa dong." ucap pria itu dengan suara renyah
Riana hanya tersenyum menanggapi.
"Oh kita belum kenalan, kenalkan aku Mahendra Abimana." ucap pria itu yang ternyata bernama Mahendra Abimana seraya mengulurkan tangannya
__ADS_1
"Aku Riana, Ariana Kusumani Pramona." sahut Riana seraya menjabat tangan Mahen
Namun sedari tadi wajah Riana menunjukkan kebingungan, pasalnya ia tidak bisa menembus Mahen seperti ada kabir hitam yang menutupinya.
'Siapa dia, mengapa ia ditutupi oleh kabir hitam." batin Riana bertanya tanya
'Nogo apa kau bisa menembusnya?' tanya Riana dalam hati kepada kerisnya
'Tidak bisa, sepertinya seseorang yang menutupi nya sangat sakti.' sahut Keris Nogososro yang hanya Riana yang dapat mendengar
Riana tampak menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan, aksinya itu pun tidak luput dari pengelihatan Mahen yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Kamu kenapa Ri?" tanya Mahen
"Tidak apa apa kok." sahut Riana
Mereka kembali melanjutkan perjalanan berdua ke desa Sumbul, dengan sesekali bercengkrama.
Sementara ditempat lain namun dimalam yang sama, seorang pria tua dengan wajah seram tengah berbaring dikasur bambu miliknya. Sesekali ia akan merintih kesakitan, ia adalah Ki Geni.
Menyesal? Ia sangat menyesal telah berani menyerang seseorang yang bukan tandingan nya, namun nasi sudah menjadi bubur. Setiap hari ia hanya mampu berbaring, bahkan semenjak kejadian itu kekuatan nya semakin melemah.
Tiba tiba terdengar pergerakan dari luar, seperti beberapa orang tengah berjalan mengendap endap. Namun masih bisa terdengar, karena terdengar bunyi gesekan daun kering.
Bunyi gesekan daun kering itu semakin jelas terdengar, seketika wajah Ki Geni pucat pasi.
Brakkkk
Terdengar bunyi dobrakan pintu utama dari luar, dikarenakan gubuk yang ditempati adalah gubuk reot memudahkan seseorang untuk mendobrak pintu. Sekali dobrakan saja, pintu sudah terpental.
"Cari dukun itu." teriak seseorang kepada beberapa orang
Terdengar derap langkah yang kencang hingga menggetarkan gubuk itu, hingga tiba tiba.
Brakkk
Pintu kamar yang ditempati Ki Geni sekarang didobrak oleh seseorang, hingga seseorang itu bisa melihat Ki Geni yang terbaring.
"Ini dia." teriak seseorang yang mendobrak pintu kamar
Seketika mereka semua yang berjumlah lima orang memasuki kamar, tiba tiba salah satu pria berbadan kekar buka suara sepertinya ia adalah pemimpinnya.
"Bawa pria tua itu keluar." ucapnya
Seketika tiga dari anak buahnya mendekati kasur tempat Ki Geni berbaring, dengan paksa mereka menarik tubuh Ki Geni yang wajah nya sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Siii....Siapa kalian hah." ucap Ki Geni memberanikan diri
Pasalnya mereka semua memakai penutup kepala, seketika mereka semua tertawa terbahak bahak mendengar suara Ki Geni. Lekas ketiga anak buahnya tadi membawa paksa tubuh Ki Geni keluar, setelah berada diambang pintu tubuh pria tua itu didorong hingga tersungkur ketanah.
"Hahahahah." mereka tertawa
Kemudian salah satu pria berbadan kekar maju mendekati tubuh pria tua itu, dengan mengacungkan golok miliknya.
"Ternyata kamu sudah sangat lemah, ada untungnya buat kami untuk menghabisimu." ucapnya
"Aa...Apa mau kalian." sahut Ki Geni
"Membunuh mu." ucap pria berbadan kekar itu seraya tersenyum jahat
Belum sempat Ki Geni menjawab, pria itu lekas menusukkan golok miliknya ke perut Ki Geni.
Brushh
"Arghhhhh." teriakan panjang Ki Geni menghiasi kesunyian malam
Kala golok itu telah menancap diperut nya, bahkan darahnya terciprat mengenai wajah pria berbadan kekar itu.
"Cepat masukkan dia ke karung yang kita bawa tadi." ucap pria berbadan kekar itu memerintahkan anak buahnya seraya mencabut kembali goloknya
Seketika anak buahnya mengikuti perintah nya, mereka memasukkan tubuh Ki Geni kedalam karung dan mengikat ujung karung itu.
Kemudian mereka kembali menunggangi kuda dengan membawa karung itu.
Sementara dikediaman Purwo, dimalam yang sama setelah tertidur sesaat ia kembali terbangun kala perutnya berbunyi. Ia lekas bangun dari tidurnya dan berjalan menuju dapur, setelah berada didapur ia gegas menyiapkan makanan yang sudah disiapkan oleh mbok Asih.
Setelah selesai makan, ia kembali duduk dikursi rotan yang berada di ruang tamu. Tidak berselang lama, terdengar derap tapak kuda.
Lekas Purwo berjalan keluar, diluar ia melihat anak buahnya berjalan menghampiri nya dengan menentang sebuah karung.
"Sudah tuan." ucap pria berbadan kekar yang tidak lain adalah Harjo
"Buka karungnya." ucap Purwo
Seketika beberapa anak buahnya membuka karung itu, dan menampakkan tubuh pria tua yang sudah terbujur kaku. Melihat itu, seketika wajah Purwo tersenyum.
"Buang mayatnya, terserah mau diapakan jangan meninggalkan jejak." ucap Purwo
Kemudian ia masuk kembali kekamar meninggalkan anak buahnya, sepeninggal Purwo. Anak buahnya lekas membereskan mayat Ki Geni, mereka membawa mayat itu jauh dari mukiman warga.
...****************...
__ADS_1