
POV Author
Hari yang cerah menampakkan sinarnya, membuat semua warga memulai aktivitas nya masing masing. Begitu juga dengan Riana, setelah selesai sarapan pagi tadi Nining ibunya Purwo memutuskan untuk kembali ke kota.
Bukan tanpa alasan ia kembali ke kediaman nya yang berada dikota, Nining merasa masih belum ikhlas jika satu atap dengan Riana yang dipercaya telah membuat anaknya meninggal.
Sementara Riana menyadari hal itu, namun ia tidak perduli. Toh, memasuki kembali kediaman juragan Karno adalah salah satu dari bagian rencananya.
Setelah ibunya pergi kembali ke kota, baru setelahnya Purwo berani memerintahkan Riana. Semua para abdi dirumah Purwo diistirahatkan, semua pekerjaan pembantu Riana yang mengerjakan.
Dari bangun subuh kemudian memasak untuk penghuni rumah yang jumlahnya lumayan banyak, karna semua para abdi dan centeng menginap dirumahnya untuk berjaga jaga takut jika semua yang menimpa centeng nya dulu juga berimbas kepada centeng nya yang baru.
Bukan hanya itu saja, Riana juga harus menimba sumur hingga semua gentong penuh. Bahkan, ia juga harus membereskan rumah dari menyapu, mengepel, mengelap perabotan, bahkan ia juga harus menaiki tangga untuk menyapu atap rumah.
Bukan hal mudah bagi Riana, terlebih sedari kecil ia tidak pernah berjibaku dengan itu semua. Mengingat keluarga lurah Pramono adalah orang terkaya di desa Ketang, namun demi semua rencananya Riana mengerjakan itu semua.
Bahkan tak jarang pula, tamparan mendarat di wajah Ariana. Sungguh, Purwo telah melakukan kesalahan jika ingin menyiksa Riana.
Krieett
Bunyi derit pintu dibuka perlahan menampilkan wajah yang tampan, badan yang tegap. Namun, memiliki hati yang jahat.
Purwo berjalan keluar kamar, menoleh sekilas kearah Riana yang kebetulan sedang menyapu disekitar kamar Purwo.
"Harjooo." ucap Purwo berteriak
Seketika Harjo yang mendengar teriakan tuan mereka lekas berlari terbirit birit, ia berlari dari arah luar menghampiri Purwo yang sedang duduk dimeja makan dapur.
__ADS_1
Dengan nafas yang ngos ngosan, Harjo berdiri di hadapan Purwo.
"A..Ada apa tu..tuan?" ucap Harjo bertanya gugup saking takutnya
"Kamu siapkan kuda ku sekarang, kamu dan beberapa anak buat mu juga harus bersiap siap kalian harus menemani aku ke bukit yang berada di desa Ketang." sahut Purwo tanpa menoleh sedikitpun kearah Harjo
Harjo hendak bertanya, namun ia sama sekali tidak memiliki keberanian. Mengingat tuan mereka adalah sosok yang bengis, dan kejam. Alhasil, ia hanya mengikuti perintah saja.
"Baik tuan." ucap Harjo seraya berlalu keluar menyiapkan kudanya
"Aku akan segera tau, ada hubungan apa bapak dengan itu semua." gumam Purwo
Tanpa mereka sadari, bahwa semenjak Harjo masuk dan berbicara dengan Purwo ada yang mendengarkan pembicaraan mereka dibalik dinding yang terbuat dari papan.
"Apa hubungan juragan Karno dengan dukun itu, apa jangan jangan." Riana bergumam sendiri
"Tidak, sewaktu aku menerawang bukan dukun itu yang aku lihat. Bahkan, tempatnya saja berbeda." gumam Riana lagi
Yah, di waktu ia menerawang waktu itu ia menemukan dukun yang sangat sakti sampai membuat Riana terpental dukun itu bernama Ki Ageng.
Sementara yang berada diatas bukit tentu orang yang berbeda, ia bukan Ki Ageng.
"Lalu apa hubungannya dengan semua ini?" gumam Riana bertanya tanya
"Aku harus mencari tau." ucapnya lagi
Setelah Purwo selesai menyantap makanannya ia pun segera bersiap siap, Riana yang melihat itu seketika langsung berpura pura membersihkan rumah.
__ADS_1
Purwo berjalan keluar rumah, setelah ia melihat semuanya sudah beres ia segera naik menunggangi kudanya kearah desa Ketang diikuti oleh beberapa anak buahnya dari belakang.
Semak yang rimbun mereka lalui, jalanan yang lembab dan licin akibat tidak ada cahaya matahari yang masuk dikarenakan pohon pohon yang rimbun menjulang tinggi membuat mereka harus berhati hati.
Suhu udara yang dingin dan gelap karna matahari tidak mampu memasuki hutan ini membuat hawa sekitar menjadi mencekam, seketika bulu kuduk mereka semua berdiri.
Beberapa kali Purwo mengusap lengan dan lehernya akibat merinding, matanya awas menatap keseluruh penjuru arah.
Wushhhhh
Hawa dingin yang tidak biasa menerpa wajah mereka yang membuat mereka dilanda ketakutan.
"Seram sekali." ucap Naryo anak buah Harjo
Seketika semua pasang mata menoleh kearah nya dengan tatapan tajam, Naryo yang melihat itu hanya bisa meringis tiba tiba.
Brusshhhh
Sekelebat bayangan melintas didepan mereka.
"Apa itu?" tanya Purwo
"Jangan jangan itu penunggu hutan ini." ucap Naryo lagi
Yang membuat semua orang memberikan tatapan intimidasi, Naryo memang paling tidak bisa menjaga ucapannya.
"Arghhh." teriak Purwo
__ADS_1
Seketika semua orang mengalihkan pandangan kepada Purwo