
Dipagi harinya, setelah sarapan aku sudah berada dikamar yang remang remang. Karna jika disiang hari sekalipun, akan terasa gelap. Karna kami berada diatas bukit, yang dikelilingi oleh banyak pohon.
Dan semenjak kejadian itu, aku lebih suka kegelapan. Aku sudah duduk bersila di lantai kamar yang terbuat dari bambu, aku mencoba untuk mencari tau siapa dalang dibalik semua yang menimpaku tidak lupa dengan orang yang sudah membakar rumahku.
Setelah lama bekutat, akhirnya aku tau siapa yang membakar rumahku dan dalang nya. Aku akan membalas kalian semua bede*ah, tapi aku tidak bisa menembus orang orang yang sudah melenyapkan keluarga ku dengan teluh.
"Nogososro mengapa aku tidak bisa menembus mereka?" tanyaku
Keris Nogososro memang sudah menyatu denganku didalam tubuhku, tapi aku bisa mendengar nya tanpa mengeluarkan nya.
"Itu karna kau masih memiliki hati Veela." ucapnya
"Tapi mengapa hanya menembus orang yang sudah menyuruh mengirim teluh itu aku tidak bisa Nogo." sahutku kesal
"Itu karna dukun tua itu sudah melindungi nya, sekarang putusan nya ada ditangan mu Veela jangan sampai kekuatan yang diberikan oleh Nyi Warsih sia sia karna hatimu."
"Arghhhh, baiklah untuk sekarang kita biarkan mereka bersenang senang. Sekarang, aku akan fokus menghabisi juragan Karno beserta antek anteknya." ucapku dengan sarat kemarahan
"Setauku kami tidak memiliki musuh, tapi mengapa ada orang lain yang menyebabkan kehancuran keluarga ku sampai seperti ini." gumamku pelan pada diri sendiri
Tidak ingin membuang waktu memikirkan para sia*an itu, aku lekas pergi ke pemukiman warga tepatnya desa Sukar untuk membalaskan dendam ku.
'Baiklah, kita tumpaskan saja apa yang ada' batinku
Sebelum itu, aku harus merubah penampilan ku agar mereka tidak mengenalku. Aku memotong rambut ku sedikit, dan aku memoles bibirku dengan lipstik berwarna hitam yang di beli oleh mbok Sri.
Aku menggulung rambutku menggunakan kayu hingga bergelombang, kemudian aku memakai caping dan selendang.
"Kamu mau kemana nduk?" tanya mbok Sri
"Menumpaskan dendam mbok." sahutku datar
Mbok Sri tampak cemas.
"Jaga rumah mbok, tutup pintu jangan membuka jika aku belum datang." ucapku lagi
"Baik.. baik nduk." sahutnya
Aku lekas berlari hingga menampilkan sekelebat bayangan, tidak membutuhkan waktu lama aku sudah berada di desa Sukar. Aku masih memantau dari kejauhan, tujuan ku adalah antek anteknya setelah itu baru rajanya.
Dua di antara mereka ingin ke warung untuk minum kopi, aku lekas mengikuti dan duduk di kursi belakang. Sebelum itu, aku sudah memesan wedang uwuh agar mereka tidak curiga.
Disini aku masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Dar, kok aku masih kepikiran sampai sekarang ya tentang pembakaran rumah pak lurah Pramono." ucap salah satu lelaki berambut cepak
"Wes, tidak usah dipikirkan toh. Yang ngasih kita makan juragan Karno bukan Pramono, jadi biar saja." ucap pria berambut gondrong
__ADS_1
Aku mengepal kan kedua tangan ku hingga kuku ku melukai tanganku sendiri.
'Nogososro sepertinya kamu akan mendapat dua makanan, apa kamu puas.' batinku
"Sangat puas." ucap keris Nogososro hanya aku yang bisa mendengar.
"Benar juga Darma yang penting duit." ucap pria berambut cepat kepada pria berambut gondrong yang bernama Darma
"Wes toh Zuki." ucap Darma pada temannya yang bernama Zuki
Darma melirik kearah ku, kemudian ia berbisik kepada Zuki namun aku tau apa yang diucapkan.
"Zuki, liat noh ada perempuan cantik, kulitnya putih bersih lumayan lah." ucapnya seraya menyeringai licik
Mereka pun menemui ku, Darma langsung menggerayangi punggung ku dengan tangan nya.
"Hai nona." ucap Darma
'Hmm ini kesempatan ku.' batinku
Aku pun mencoba untuk memancing mereka, dan pergi dari sini kemudian menghabisi nya.
"Ihhh akang, malu tau jangan disini atuh kang." ucapku dengan suara manja namun wajah ku datar tanpa ekspresi
""Jadi dimana dong?" tanya Zuki
"Bagaimana jika kehutan sana." ucapku seraya menunjuk arah hutan
Sesampainya dihutan, mereka lansung memeluk ku namun aku langsung menepis tangan mereka dengan kasar.
"Jangan galak galak atuh neng." ucap Darma
"Terimakasih karna kalian sudah menyerahkan nyawa kalian sendiri, tanpa aku harus kerepotan." ucapku datar
Seketika mereka saling pandang, detik kemudian mereka tertawa.
"Eh.. Kamu pikir kami takut hah, kamu hanya perempuan dan sendiri lagi. Sementara kami laki laki, kami juga pernah menghabisi seseorang." ucap Zuki
"Sudah sekarang kamu layani saja kami." sentak Darma
Tidak ingin membuang waktu, aku lekas melompat tinggi dan menerjang mereka berdua.
Bugh
Bughhh
Dua kali tendangan yang bersarang didada mereka membuat mereka tersungkur, dan mengeluarkan darah dari mulut.
__ADS_1
"Ka..kau dasar perempuan jal*ng." teriak Darma emosi
"Nogososro keluar lah, dan santap makanan mu aku hanya ingin menonton." ucapku
"Dengan senang hati." sahut keris Nogososro
Tidak lama asap keluar menyelimuti tubuhku, detik kemudian keris Nogososro keluar dari tubuhku. Mereka berdua yang menyaksikan itu terkejut dengan mata terbelalak, tanpa ku gerakkan Nogososro sudah melayang terbang kearah mereka.
Seketika mereka ketakutan, dan berusaha berdiri kemudian lari tunggang langgang. Namun, bukan Nogososro namanya jika membiarkan mangsa nya lolos didepan mata.
Dengan melayang dengan kecepatan tinggi, keris itu kemudian menghunuskan dirinya kearah Darma.
Brush
"Argghhh." teriakan Darma memecah kesunyian di siang hari
Seketika darah terciprat dimana mana, detik kemudian ia menghembuskan nafas terakhir nya. Seketika Zuki yang berdiri disamping temannya yang sudah terbujur kaku, seketika ketakutan dan memohon ampun.
"Am...ampun, ampuni saya. Saya, saya tidak akan menganggu kamu lagi." ucapnya
"Kamu tidak akan bisa lari dari kemarahan seorang Veela." ucapku datar tanpa ekspresi
"Maafkan saya." ucapnya memohon
"Katakan, siapa saja yang membakar rumah pak lurah Pramono." sahutku
Seketika ia terdiam, dan keris Nogososro bersiap untuk menghunusnya.
"Ba..baik, semua centeng juragan Karno yang membakar. Kami, kami ada 10 orang." ucapnya
"Sayang sekali, kamu terlambat." ucapku
Seketika wajahnya sudah berubah menjadi pucat pasi.
"Nogo lakukan." titahku
Seketika keris Nogososro bergerak kencang, dan.
Brushh
"Arghhh." teriakan lengkingan kedua kembali menghiasi sepi nya hutan
Seketika ia tergeletak tak berdaya, detik kemudian ia pun menghembuskan nafas terakhir.
"Baiklah Nogo, hari ini segini dulu kita akan menghabisi yang lainnya di lain waktu." ucapku
"Baik." sahutnya
__ADS_1
Kemudian keris Nogososro kembali masuk kedalam tubuhku
...****************...