
POV Author
Bersamaan dengan itu, Riana yang sedang berendam didalam gentong seraya memejamkan matanya seketika membelalak lebar. Ia merasa dadanya yang berdebar kencang, tidak butuh waktu lama berfikir ia segera menyambar pakaian nya.
Kemudian ia segera berlari kedalam kamar tanpa memedulikan panggilan mbok Sri, sesampainya dikamar ia segera menutup pintu dan duduk bersemedi.
Ia mulai memejamkan mata dan berusaha fokus ditengah dadanya yang berdebar kencang, ia bisa menerawang tanpa media. Sebab, ilmu yang ia miliki sudah snagat tinggi.
Ia mulai melihat siluet tubuh wanita paruh baya yang sedang sekarat didalam sungai, ia membuka mata tiba tiba. Terlihat jelas dari raut wajahnya menggambarkan keterkejutan, tanpa pikir panjang ia segera membuka pintu kamar.
Dia berlari ke teras, ia celingak celinguk mencari apakah ada para warga. Setelah memastikan kosong, dengan menggunakan kekuatan nya ia pun melesat cepat hingga menampakkan seperti angin saja.
Hingga tidak butuh waktu lama ia pun sampai, sesampainya dipinggir sungai ia masih melihat setengah tangan yang melambai hingga akhirnya tenggelam.
Tanpa berfikir dua kali ia segera melompat terjun ke sungai yang lumayan dalam itu, ia berenang kedalam mencari keberadaan ibunya Damar.
Dari kejauhan ia melihat siluet tubuh yang sudah sangat lemas, ia segera berenang lebih cepat menghampiri tubuh itu. Setelah dekat segera ia tarik keatas dasar sungai, namun tidak semudah itu karena arus yang sangat tinggi.
'Nogo.' teriak Riana dalam hati
'Ada apa Riana?'
'Bantu aku.'
Bersamaan dengan itu asap hitam membumbung tebal, tidak lama kemudian tiba tiba air sungai meruak ruak seperti air panas yang sudah mendidih.
Dan tiba tiba ditengah menyeruak, air sungai itu berputar putar hingga membuat sebuah lubang.
"Keluarlah lewat lubang itu." ucap sosok keris Nogo
"Terimakasih." sahut Riana
Segera ia menarik tubuh ibunya Damar, cukup mudah ia menarik karena ia bukan Riana yang dulu. Melainkan Riana yang memiliki ilmu hitam yang sangat kuat, menarik tubuh ibunya Damar bagaikan meniup semut baginya.
Hingga tiba tiba dari dalam lubang itu muncul lah dua wanita, Riana terus berenang sembari menarik ibunya Damar. Jika orang awam yang melihat sudah dipastikan akan terkejut, bagaimana tidak.
Air yang menyeruak itu seolah olah mendorong Riana dan ibunya Damar hingga kepinggir, setelah mereka berada dipinggir segera Riana mengangkat ibunya Damar hingga berada di daratan.
Lekas Riana pun menyusul, bersamaan dengan itu pula air yang tadinya menyeruak kini kembali seperti semula.
"Bude bangun." ucapnya seraya menepuk pipi ibunya Damar pelan
__ADS_1
"Bangun bude, apa yang terjadi." ucapnya lagi
Tidak hilang akal, Riana pun menekan nekan dada ibunya Damar namun tidak ada reaksi apapun.
"Bude bangun bude." ucapnya
Ia memeriksa denyut nadi dan nafas wanita paruh baya itu masih bernafas dan denyut nya pun terasa.
"Bude dengar Riana kan, bangun bude." ucapnya lagi
Setelah menunggu lama namun tidak terjadi apapun, terpaksa Riana menggunakan kekuatan nya. Ia segera mengusap kedua tangannya hingga mengeluarkan asap hitam yang bau bangkai bercampur anyir, kemudian ia mengusap keseluruh tubuh ibunya Damar yang masih terbaring.
Setelah itu, ia pun mengangkat tubuh ibunya Damar yang masih tidak sadarkan diri. Ia mendudukkan wanita paruh baya itu, segera Riana menggeser tubuhnya hingga berada dibelakang ibunya Damar dengan masih memegang pundak ibunya Damar agar tidak oleng.
Kemudian ia kembali menggosokkan sebelah tangannya yang satu lagi ke punggung ibunya Damar hingga mengeluarkan asap hitam, setelah dirasa cukup ia menepuk punggung itu sedikit keras.
"Uhuk uhuk." bersamaan dengan itu ibunya Damar terbatuk batuk mengeluarkan banyak air
"Muntah kan semua bude." ucap Riana
Wanita paruh baya itu memuntahkan semua apa yang ada didalam perutnya hingga ia lemas, Riana segera membantu ibunya Damar untuk pindah duduk kesalah satu pohon yang bisa dijadikan sandaran.
"Apa yang terjadi sebenernya bude?" tanya Riana
"Ka..Kamukah itu nduk." ucapnya dengan deraian air mata
"Iya bude, ini aku Riana."
"Ndukk."
Seketika tangisnya pecah mengisi kesunyian sungai yang berada ditengah hutan yang sudah pasti sepi, hingga agak tenang iapun menceritakan apa yang terjadi.
Mulai dari kedatangan Sekar di pagi hari, hingga mengikuti kehutan, serta pembicaraan mereka, hingga terjadi petaka yang menimpa bude Ratna ibunya Damar.
"Kurang ajar Sekar." ucap Riana seraya mengepalkan tangannya kuat hingga urat urat tangan terlihat
Riana memang sudah tidak terkejut, dia memang tidak tahu rencana Sekar. Namun, waktu pertemuan mereka yang tidak menyenangkan itu Riana sudah tahu bahwa ada yang tidak beres.
Ia tidak peduli jika Sekar akan membunuhnya, namun ia sangat marah karena Sekar berani mencelakai seorang wanita yang sudah tua.
"Nduk, kamu harus hati hati." ucap ibunya Damar panik
__ADS_1
"Bude, bude tenang ya. Riana janji akan hati hati, tidak akan ada yang terjadi percaya sama aku." sahut Riana meyakinkan
Sepertinya kejiwaan ibunya Damar sedang diuji, ia seperti depresi berat terkadang tenang, kadang khawatir yang berlebihan, terkadang lagi menangis histeris.
Setelah agak tenang, Riana segera membantu ibunya Damar untuk keluar dari sini. Riana akan membawa ibunya Damar kerumah milik Riana dulu, karena jika Sekar melihat sudah pasti kejadian itu terulang lagi.
...****************...
Sementara di desa Ketang, tepatnya kediaman pria misterius itu. Ia memang sengaja membeli rumah didaerah sana untuk mengawasi Riana, namun sekarang ia kehilangan jejak.
Ditambah lagi, desa Ketang dekat dengan tempat tinggal dukun langganan nya. Meskipun memasuki hutan yang jauh, itu jauh lebih baik daripada ia tinggal di desa lain yang sudah pasti akan semakin jauh.
"Bagaimana, apa kau mendapatkan informasi?" tanya pria misterius itu
"Tidak." sahut seseorang yang ditanya dengan cuek
"Arghh, apa saja kerjamu selama ini."
"Hei, dengar baik baik. Aku tidak pernah terlibat dalam masalah mu, jadi jangan terlalu menekanku. Aku sudah mencari semampuku demi kau bang, tapi aku memang tidak menemukan apa apa. Sementara kau sendiri yang sudah berkonsultasi dengan dukun masih tidak ada titik terang, apalagi aku." sahut seseorang yang ditanya tadi dengan menyentak
Seketika sosok yang dipanggil bang atau pria misterius itu mengusap wajahnya kasar.
"Arghhh sialan." ucapnya berteriak frustasi
Ia kembali menatap adiknya itu.
"Tetap cari dia Mahen, karena keluarga perempuan itu keluarga kita menderita." ucap sosok pria yang selalu memakai jubah hitam itu kepada adiknya yang tidak lain adalah Mahendra Abimana teman Riana sendiri.
"Hmm." sahut Mahen dingin
Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang ada didalam pikiran pemuda tampan yang bernama Mahendra itu, sudah jelas ia menemukan Riana namun dia berbohong. Apakah dia mencintai Riana, entahlah hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Kau boleh pergi, nanti aku kedatangan tamu." ucap abangnya
Tanpa menjawab, Mahen segera pergi dari rumah itu dan menuju ke desa Sumbul tempat tinggal nya.
Sepanjang jalan ia terus bertanya tanya dalam hati, apa yang menyebabkan abangnya itu sangat membenci Riana. Sebab, abangnya hanya mengatakan bahwa kehancuran keluarga mereka disebabkan oleh keluarga Riana.
Namun sekarang kelurga Riana sudah meninggal tidak bersisa, lalu apalagi yang abangnya itu cari.
"Arghhh." Mahen berteriak tanpa sadar menyebabkan beberapa warga yang melintas menatapnya aneh
__ADS_1
Tanpa memedulikan tatapan aneh dari semua orang, ia segera menaiki delman yang disediakan oleh warga yang lain sebagai ganti alat transportasi.