
POV Riana
Hari hari telah berlalu, minggu pun sudah berganti. Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat, dan tidak terasa kini sudah malam satu suro. Kini saatnya aku harus menuju sendang wonogiri, tepat ditengah malam nanti aku harus segera sampai dan bersemedi.
"Mbok, aku pamit njih doakan yo mbok." ucapku seraya mencium punggung tangan mbok Sri dengan takzim
"Kamu wes hati hati yo nduk, mbok kok tidak rela yo." sahut mbok Sri merasa khawatir
"Sudah jangan pikirkan yang macam macam mbok, cukup doakan saja njih." sahutku
"Wes, eh tapi kalau nanti Mahen tanya bagaimana?" tanya mbok Sri
"Katakan saja Riana lagi ada urusan mbok." sahutku
Aku dan Mahen sampai sekarang memang masih berhubungan dengan baik, lebih tepatnya ia yang selalu mencari alasan untuk bertemu denganku.
"Yawes, kamu hati hati." ucap mbok Sri memperingati
Setelah berpamitan aku lekas pergi menuju sendang wonogiri, aku ditemani keris milikku. Aku terus berjalan hingga menjauhi pemukiman warga, setelah dirasa cukup aku segera menggunakan kekuatan ku berlari kencang hingga hanya menimbulkan sekelebat bayangan.
Hingga tidak perlu membutuhkan waktu lama, aku sudah sampai di hutan sekitar sendang wonogiri. Sendang wonogiri ini lumayan jauh, karena letaknya tidak berada disekitar desaku, atau desa Ketang maupun desa Sukar.
Aku terus berjalan menyusuri semak semak belukar, mataku awas memperhatikan ke segala penjuru. Karena aku merasakan banyak pasang mata yang mengawasi, seraya aku tetap fokus mencari keberadaan sendang wonogiri.
Ssshhhhhh
Tiba-tiba tengkukku terasa meremang seperti ada seseorang yang meniup, namun aku berusaha untuk tidak memperdulikan itu. Aku memang sengaja untuk tidak memperlihatkan kekuatan ku, karena aku tidak mau mencari masalah ditempat ini.
Aku terus berjalan hingga masuk kehutan lebih dalam lagi, tiba tiba.
Wushhhh
Sekelebat bayangan melintas didepan ku, untuk sejenak aku berdiam diri hingga merasa hening aku kembali melanjutkan perjalanan ku.
__ADS_1
Wushhh
Namun lagi lagi ada yang menganggu ku.
"Keluarlah tunjukan wujud mu." ucapku dengan tatapan awas namun hening
"Keluar." ucapku lagi lantang
Seketika pohon pohon yang tadinya tenang kini bergoyang kesana kemari meskipun tidak ada angin, tidak berselang lama di depan ku menampakkan asap tipis yang semakin lama semakin berubah wujud.
Sosok tubuh yang mirip dengan manusia namun berkepala kerbau, di kepala nya terdapat tanduk yang sangat panjang. Serta mulut yang lebar hingga sampai ke telinga, dan gigi yang runcing kehitaman.
Matanya merah menyala menatap ke arahku, aku terus waspada seraya memperhatikan sosok itu.
"Grrrrhhhh." ucap sosok itu mengeram
"Nyuwun pengapunten, saya hanya mau lewat saja tidak ada maksud lain." ucapku sopan seraya membungkukkan badan
"Tidak, kau telah berani memasuki wilayah ku maka kau akan menjadi santapan makan malam ku hahahahah." sahut sosok itu seraya tertawa menggelegar
"Grrhh aku tidak sabar mencabik cabik tubuhmu cah ayu." ucap sosok yang mirip dengan buto itu dengan suara berat
Seketika sosok yang mirip dengan buto itu melangkah mendekati ku, dengan cepat aku menarik kerisku yang ku selipkan didalam pakaian ku.
Aku memang tidak ingin keris itu masuk kedalam tubuhku lagi, aku ingin terlepas dari semua ilmu hitam ini. Meksi itu tidak lah mudah, ketika sosok itu sudah dekat denganku.
Dengan secepat kilat aku melompat tinggi, aku mengerahkan sebagian kekuatan ku dan menukik tajam dari arah belakang selagi sosok itu belum menyadari.
Wushhhhhh
Bughhh
Aku menghantam bagian belakang sosok yang mirip buto itu, seketika ia terpental. Namun tidak lama, ia segera bangkit lagi dan wujudnya yang semula setinggi denganku kini sudah bertambah besar hampir setengah dari tinggi pohon disini.
__ADS_1
"Grhhhh beraninya kau cah ayu." ucap sosok itu dengan suara berat
Kini aku harus lebih waspada, karena ukuran nya bukan main main. Aku harus tetap tenang agar aku bisa berfikir jernih, aku harus segera mengalahkan sosok itu sebelum tengah malam pas tiba.
Tidak ingin membuang waktu, aku segera berlari kearah sosok itu hingga hampir dekat aku segera melompat lebih tinggi dan mengerahkan semua kekuatan ku. Aku sudah siap menukik tajam, aku memang tidak memakai kerisku.
Wushhhh
Bughhh
Aku melayangkan hantaman dengan sangat kencang, namun sosok itu hanya bergeser sedikit.
"Hahahahaha." tawanya menggelegar
Kemudian dengan cepat ia menarik ku dan melemparnya ke sembarang arah hingga aku terpental dan membentur pohon,
aku menarik nafas dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Riana, kau harus menusuk bagian kepala sosok itu dengan tubuhku." ucap kerisku
Walaupun banyak makhluk tak kasat mata disini, tetap saja hanya aku yang dapat mendengar suara keris ku karena kami sudah terikat.
Aku tidak menjawab, namun aku mengikuti perkataan keris ku segera aku mengambil ancang ancang. Mataku tajam memperhatikan sosok itu, aku mengadah keatas untuk memperhatikan waktu.
Sepertinya waktu sudah hampir tengah malam, aku tidak punya waktu lagi. Segera aku melompat tinggi dan bergulung gulung hingga menimbulkan asap hitam, disaat sosok itu lengah aku segera menukik dengan cepat seraya mengarahkan kerisku tepat dibelakang kepalanya.
"Hiiaahhh."
wushhhh
"Arghhh." ucap sosok itu berteriak
Teriakan nya yang sangat kencang akan membuat orang awam yang mendengar mengeluarkan darah dari telinganya.
__ADS_1
...****************...