
Keesokan harinya, pagi hari kembali menyapa. Sinar matahari masih malu malu menampakkan dirinya, suara suara burung yang bertengger diatas dahan pohon tampak terdengar merdu.
Bukan hujan, hanya saja cuaca terlihat sedikit mendung padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08:15 WIB. Namun itu tidak membuat warga bermalas malasan, karena mereka tahu penghasilan mereka hanya dari kebun.
Tampak beberapa warga terlihat memberi hewan ternak mereka makan sebelum pergi ke kebun, ada juga wanita paruh baya yang menyiapkan keperluan untuk berkebun.
Begitu juga dikediaman Pangeran Segoro, tampak mbah Sastro beserta rombongan seperti Kemal, Mahendra, mang Kurdi, dan mbah Bayan sedang duduk santai seraya menikmati kopi yang disuguhkan oleh tuan rumah.
Mereka sengaja datang pagi ini sekalian untuk mengantar Pangeran Segoro yang hendak pergi hari ini, meskipun baik mbah Sastro atau Pangeran Segoro tidak ada yang memberi tahu akan pergi kemana.
Biarlah ini jadi rahasia begitu pikir Pangeran Segoro, karena memberi tahu pun mereka tidak akan paham.
"Emang kamu mau pergi kemana toh Mar?" tanya Kemal penasaran
"Suatu tempat yang kamu tidak perlu tahu." sahut Pangeran Segoro
Sontak saja ucapan Pangeran Segoro membuat Kemal mendelik sinis, kemudian Kemal memutar bola matanya malas.
"Mau berangkat sekarang?" tanya mbah Sastro
"Sepertinya begitu lebih baik mbah, biar cepat sampai." sahut Pangeran Segoro
__ADS_1
"Mbah antar saja yo." ucap mbah Sastro menawarkan diri
"Hmm... Tidak perlu mbah, saya bisa sendiri." sahut Pangeran Segoro menolak halus
"Yowes." ucap mbah Sastro lesu
Setelah mereka menghabiskan kopi masing masing, mereka pun mengantar Pangeran Segoro sampai ke gapura desa saja. Tampak Pangeran Segoro menenteng tas kain jarik yang berisi kebutuhannya seperti makanan dan pakaian meskipun ia tidak membutuhkan nya, namun itu semua disiapkan oleh Kemal.
"Kamu yakin bisa sendiri le?" tanya mbah Sastro sekali lagi kala mereka sudah berhenti digapura desa
"Njih, yakin sekali mbah." sahut Pangeran Segoro
Pangeran Segoro hanya mengangguk dan tersenyum, Mahendra pun mendekati Pangeran Segoro kemudian menepuk pundaknya pelan. Pangeran Segoro pun membalas menepuk pundak Mahendra pelan, tampak wajah Mahendra menyiratkan banyak pikiran.
Salah satunya memikirkan Riana alias Nyi Danuwati yang sampai sekarang belum juga kembali, dan Pangeran Segoro tahu persis akan hal itu.
Pangeran Segoro tampak menghela nafas sejenak, biar bagaimana pun ia tahu cinta tidak pernah tahu kapan akan datang. Cinta tidak salah, hanya waktunya yang tidak tepat.
"Yowes kamu harus hati hati." ucap mbah Bayan membuka suara mencairkan suasana yang sedikit canggung
"Iyo matur suwun njih mbah." sahut Pangeran Segoro
__ADS_1
(Iya terimakasih ya mbah)
"Jaga diri kamu baik baik le." ucap mang Kurdi
Pangeran Segoro kembali mengangguk dan tersenyum.
Setelah berpamitan, Pangeran Segoro lekas pergi meninggalkan rombongan mbah Sastro yang tertinggal di gapura desa. Dari gapura desa harus melewati hutan walaupun jaraknya tidak jauh, baru akan keluar dari desa dan menemukan jalan besar.
Sementara di gapura desa jarang ada delman, hanya hari hari tertentu saja. Setelah Pangeran Segoro berada ditengah hutan, tepatnya bukan hutan yang sama seperti hutan keramat hanya saja jalan yang harus dilalui sebelum menemukan jalan besar memang ditumbuhi pohon jati yang tinggi.
Pangeran Segoro seketika menoleh kiri kanan memastikan tidak ada orang, setelah dirasa aman tentu saja Pangeran Segoro menggunakan kekuatan nya. Namun kali ini bukan melesat cepat yang hanya meninggalkan angin, melainkan sebuah ajian yang tidak semua orang bisa menguasai.
Pangeran Segoro kemudian berkomat kamit membaca ajian tersebut tanpa bersuara, tidak lama muncul sebuah kepulan asap putih yang semakin lama semakin berlubang berukuran manusia dewasa.
Kemudian dari lubang itu terlihat sebuah jalan menuju laut Segara Getih, hanya saja jalan yang ditempuh Pangeran Segoro adalah jalan pintas atau goib yang banyak terlihat makhluk mengerikan.
Pangeran Segoro kemudian masuk kedalam lubang itu dan berjalan terus tanpa memperdulikan pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tajam.
Asap putih itu seketika menghilang seiring Pangeran Segoro masuk, tampak makhluk mahkluk mengerikan disepanjang jalan. Dari hantu yang berkepala buntu, hantu yang berkepala hewan, dan masih banyak lagi jenisnya.
...****************...
__ADS_1