
Hingga dimalam hari, terlihat Nurdin sudah tampak kelelahan. Dan sialnya, Nurdin berada dijalan yang sangat sepi. Di kiri kanan berjejer pohon pohon yang tumbuh menjulang, akibat berlari tanpa henti dengan kecepatan tinggi Nurdin pun tergeletak ditengah jalan.
Nafasnya tersengal sengal, ia terlihat begitu lemas. Hingga beberapa saat nafasnya kini terlihat pelan, persis seperti orang yang terkena asma.
"Sa..kit." Lirihnya seraya memegang dada.
"Akkkkh."
"To...long."
Namun apa daya, jalan yang dilalui Nurdin sangat sepi. Ditambah lagi jauh dari penduduk, mustahil jika ada yang mendengar.
Tidak ada yang tahu bahwa seorang pria sedang meregang nyawa disana, hingga setelah beberapa saat nafas Nurdin tidak lagi terdengar. Dadanya bahkan berhenti bergerak, Nurdin kini sudah menemui ajalnya.
...----------------...
Burung burung saling berkicau didalam lahan yang dipenuhi dengan pepohonan, matahari pagi pun sudah menyambut aktivitas manusia. Tampak beberapa kendaraan berhenti didekat jasad seorang pria yang tidak lain adalah Nurdin, hingga tidak menunggu lama tempat itu sudah dipenuhi oleh orang orang.
"Siapa dia? Apakah sudah meninggal atau pingsan?"
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Apakah ia dibunuh?"
Berbagai kasak kusuk terdengar, hingga salah seorang dari mereka mendekati jasad Nurdin dan mengecek nadinya. Kemudian ia menggeleng, semakin riuh pula keadaan.
"Kita bawa kerumah sakit saja."
...----------------...
Setelah berada dirumah sakit, mereka pun kini tahu jika Nurdin meninggal karena kelelahan terlebih tidak ada asupan makanan sedikit pun. Mereka memutuskan untuk menyerahkan semua ini kepada pihak rumah sakit.
Karena memang mereka tidak mengenal Nurdin, pihak rumah sakit sendiri memutuskan untuk segera memakamkan jasad Nurdin karena tidak mengetahui keluarga Nurdin.
...****************...
"Tersisa tiga beserta rajanya." Gumam Nyi Danuwati seraya menyeringai.
"Aku akan menuntaskan dendam ku segera." Gumam nya lagi.
Kemudian Nyi Danuwati kembali melakukan ritual seperti biasa, ia duduk bersila dan meletakkan kedua tangan dipaha seraya memejamkan mata.
Sama dengan ritual ritual sebelumnya, Nyi Danuwati mengucapkan mantra dan menyebut nama Yanto dan Karta. Setelahnya ia kembali membuka mata, detik berikutnya Nyi Danuwati tertawa menggelegar.
__ADS_1
...****************...
Kembali ke kota, terlihat sebuah rumah sepetak yang tidak bisa dikatakan kecil ataupun besar. Besarnya rumah itu sama seperti toko toko sepetak yang berjejer di pinggir jalan, entah mengapa semua anak buah Ginanjar melarikan diri ke kota.
"Kok aku tiba tiba ingin ke desa yo?" Ucap salah satu pria berambut gondrong.
"Sama kang, saya juga." Sahut temannya yang bertubuh jangkung.
Mereka adalah Yanto dan Karta, memang sejak dulu mereka selalu bersama jadi tidak heran jika mereka kini tinggal bersama.
"Bagaimana jika kita ke desa? Mumpung masih pagi." Ucap Yanto.
Bagai gayung bersambut Karta pun menyetujui, bagaimana tidak? Pikiran mereka sudah dikendalikan oleh Nyi Danuwati.
"Ayo kang."
Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit mereka kini sudah siap dengan barang barang mereka, mereka tidak tahu jika mereka kini sedang menjemput maut mereka sendiri. Padahal tidak ada yang perlu dilihat di desa mengingat mereka berdua yatim piatu, namun tidak ada yang menyadari.
Mereka berangkat dengan penuh suka cita, namun mereka tidak sadar jika itu adalah kegembiraan terkahir.
...****************...
__ADS_1