
POV Damar
Hari ini seperti biasa aku akan pergi ke kebun pak lurah untuk mengecek hasil panen didesa Sukar, walaupun pemilik nya sudah pergi ke dunia yang lebih indah. Aku akan tetap bekerja di kebun pak lurah Pramono, sesuai yang di amanatkan padaku.
Sudah kurang lebih dua hari Riana dan mbok Sri pergi aku tidak tau kemana, aku sudah berusaha mencari ke sekeliling desa, bahkan di desa sebrang tapi tidak juga ketemu.
Waktu itu ibu bilang bahwa mereka izin kepasar, tapi sampai sekarang tidak ketemu. Aku sudah menanyakan beberapa warga, namun tidak ada yang tau.
Hingga waktu itu, aku menanyakan kesalah satu warga. Namun jawabannya membuat aku terkejut, ia mengaku pernah melihat perempuan yang ciri ciri nya persis dengan Riana dan mbok Sri. Mereka dikejar oleh pria berjubah hitam, dan beberapa pengawal nya.
Namun salah satu warga itu tidak berani mengikuti, karna takut celaka. Kemungkinan besar, Riana dan mbok Sri sudah pergi menyusul keluarga nya ke dunia lain.
Hatiku terasa sesak jika mengingat ucapan warga itu, sampai sekarang aku tidak percaya jika Riana pergi meninggalkan ku. Bukankah, ia sudah berjanji akan bersama ku hingga menua.
Di saat fokus mengayuh sepeda, dari kejauhan aku melihat banyak warga yang keluar masuk hutan. Aku yang penasaran lekas menghampiri, setelah sampai aku turun dari sepeda.
"Nuwun sewu pak bu, ini ada apa ya?" tanyaku
"Itu le, kata warga yang melihat disana ada dua mayat." sahut salah seorang warga
"Dimana pak?" tanyaku penasaran
"Itu didalam hutan." sahutnya
Tidak berselang lama, keluar lah beberapa warga dari dalam hutan serta menggotong dua tandu yang berisi mayat. Kemudian para warga itu meletakkan dua mayat di tanah, kemudian ada salah seorang warga yang berucap.
"Loh iki si Darma sama Zuki kan, ceneteng nya juragan Karno." ucapnya
Seketika semua warga heboh, dengan pikiran masing masing.
"Iyo kamu benar mud, kenapa mereka bisa begini yo?" tanya seorang ibu ibu paruh baya
"Apa mungkin yang melakukan ini juragan Karno ya?" tanya pria yang dipanggil mud tadi
"Tapi karna apa kang?" sahut para warga yang lain
"Yo mana saya tau, mungkin saja mereka berbuat kesalahan." ucap pak Mud
"Tapi mosok iya juragan Karno kejam begitu." ucap warga lagi
"Mungkin saja, wong yang membakar rumah pak lurah Pramono yang di desa sebrang dalangnya juragan Karno." timpal salah satu warga
Deg
Tiba tiba dadaku mencelos, berdetak tidak karuan. Tanpa sadar, aku mengepalkan tanganku dengan kuat.
__ADS_1
Seketika pandangan semua warga beralih ke pria tdi.
"Maksud kamu opo Jamal." tanya pak Mud
Seketika pak Jamal pun gelagapan, dan pergi begitu saja. Aku yang ingin mengikuti nya tidak jadi, karna aku harus ke kebun. Biarlah nanti saja sepulang dari kebun aku menemui nya, aku bisa bertanya pada warga nanti letak rumah pak Jamal
...****************...
Hari sudah mulai sore, dan pekerjaan ku sudah selesai. Aku memutuskan untuk pulang, namun aku harus menemui pak Jamal dulu untuk menanyakan maksud dari perkataan nya tadi.
Setelah sampai di pemukiman warga, saya berniat bertanya ke salah satu warga yang kebetulan lewat dari depanku.
"Permisi pak, saya mau tanya." ucapku langsung ke intinya
"Tanya apa le?" sahutnya kebingungan
"Rumah pak Jamal dimana ya pak?"
"Emang ada urusan apa le, apakah sampean keluarga nya?"
"Eh.. Urusan pekerjaan saja pak." sahutku sungkan
"Oh, nanti kamu lurus saja, kemudian ambil jalur kanan setelah itu tanya saja pada warga disana pasti mereka tau." ucapnya
"Matur suwun pak." ucapku seraya mengangguk
"Permisi pak." ucapku
"Ada apa nak?" tanya nya
"Rumah pak Jamal dimana ya pak?" tanyaku sopan
"Oh Jamal, itu rumah nya." ucap bapak itu seraya menunjuk ke salah satu rumah
"Matur suwun pak." ucapku
Bapak itu hanya mengangguk pelan, aku kemudian mendatangi rumah itu.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu pelan, tidak membutuhkan waktu lama pintu pun dibuka menampilkan seorang wanita paruh baya dengan wajah kebingungan.
"Nyari siapa?" tanya nya
"Eh pak Jamal nya ada bu?" tanyaku balik
__ADS_1
"Ada, sebentar ya." ucapnya
Aku pun menunggu di teras rumahnya, tidak lama kemudian keluar seorang pria paruh baya seketika aku tersenyum menatapnya.
"Kamu siapa ya?" tanya pak Jamal
"Perkenalkan saya Damar pak." ucapku mengenalkan diri
"Mau apa kamu kesini?" tanya nya
Belum sempat aku menjawab, istri pak Jamal keluar dengan membawa nampan yang berisi dua gelas kopi.
"Silahkan diminum le." ucap ibu itu ramah
"Nggeh, terimakasih bu." ucapku
Setelah istri pak Jamal masuk kedalam, aku meneruskan perkataan ku.
"Saya hanya ingin tau apa maksud pak Jamal mengatakan bahwa juragan Karno dalang dibalik kebakaran rumah pak lurah Pramono." ucapku langsung tanpa basa basi
Seketika wajah pak Jamal tampak pias, gelagapan ia hendak masuk dengan sigap aku mencekal tangan nya.
"Katakan pak." desak ku
Ia tampak ketakutan
"Saya tidak akan mengatakan pada siapapun saya hanya ingin tau." ucapku lagi
"Janji." tanya pak Jamal
Aku hanya mengangguk, dan tersenyum pelan.
"Sebenarnya memang juragan Karno yang menyuruh." ucapnya
"Bapak tau dari mana?"
"Salah satu centeng yang bekerja dengannya ada yang berteman baik denganku, setiap hari ia bercerita hingga pada waktu itu ia bercerita telah membakar rumah pak Pramono atas suruhan juragan Karno." ucapnya
Aku mengepalkan tangan ku menahan emosi
"Kira kira siapa nama teman pak Jamal itu?" tanyaku
"Bahar, sudah ya saya mau masuk." ucapnya
Tanpa menunggu jawaban ku ia lekas masuk kedalam rumah nya, aku juga lekas pergi dari tempat ini dikarenakan hari sudah mulai malam.
__ADS_1
...****************...