
POV Sri
Aku sangat panik dan khawatir, melihat Riana sudah tidak sadarkan diri. Aku menangis, aku sangat sedih melihat penderitaan kelurga ini.
"Nduk.. bangun nduk, kamu harus kuat. Kamu ingat kata eyang toh, kamu harus tetap hisup dan membalaskan dendam kamu." ucapku terisak
Aku mengguncang tubuh nya, namun tidak ada pergerakan. Mau minta tolong juga tidak ada orang, karena tempat ini jauh dari pemukiman warga.
"Nduk, kamu dengar toh. Kamu, kamu harus bangun nduk. Jangan tinggalin mbok sendiri." ucapku lagi
Aku mendekatkan tanganku ke hidungnya, masih bernafas walaupun pelan. Aku mendengarkan jantung nya, masih berdetak tapi lemah. Terakhir, aku mengecek urat nadinya, masih berdenyut.
"Nduk, bangun lah nduk." ucapku seraya menangis sesenggukan
Disaat menangis, aku seperti mendengar suara.
"Dekatkan aku pada lukanya, maka aku akan menyembuhkan nya." ucap sosok itu
Aku bingung, aku memperhatikan sekitar namun kosong.
'Siapa itu." batinku cemas
Aku berdiri hendak menatap keluar, tanpa sadar aku menjatuhkan keris peninggalan mbah Kasum yang selalu aku bawa dibalik bajuku.
Aku menatap keluar kosong, aku berbalik mataku terbelalak melihat keris bergerak sendiri seolah ia hidup. Aku tau memang, dulu mbah Kasum pernah mengatakan bahwa keris itu berisi bukan kosongan.
Keris itu adalah keris sakti, keris itu punya kekuatan yang tinggi. Aku terus menatap, sampai keris itu mengeluarkan kepulan asap. Dibalik asap itu, ada sosok perempuan yang cantik. Dengan kulit putih mulus bersih, hidung mancung, alis dan bulu mata tebal.
Ia memakai kemben berwarna merah menyala, memiliki mahkota di kepala berwarna emas, memakai selendang berwarna emas juga, dan memakai jarik berwarna biru tua kehitaman.
__ADS_1
Ia tersenyum menatapku, sangat cantik. Aku sampai tidak berkedip, hingga perkataan nya mengembalikan kesadaran ku.
"Aku bisa menyembuhkan nya, hanya saja." ucapnya tergantung
"Haa..hanya saja apa nyi?" ucapku cemas
"Ia tidak akan sama lagi, dia bukan Riana. Aura hitam akan terus melekat dalam dirinya, bahkan mungkin saja hatinya pun menghitam tidak ada kebaikan lagi.
Aku berfikir, bukankah itu bagus. Jika begitu, ia bisa membalaskan dendam nya tanpa memikirkan perasaan para bede*ah itu.
Ditambah lagi, aku tidak mungkin membiarkan ia seperti ini terus. Jika aku turun kebawah ke pemukiman warga sekalipun, aku tidak yakin ia bisa bertahan.
"Ba...baik nyi, lakukan saja apa yang terbaik." ucapku
"Baiklah." ucapnya
"Aku akan selalu bersama nya, sampai ia yang menginginkan aku pergi." ucapnya
Kemudian asap hitam itu keluar lebih banyak, hingga aku tidak bisa melihat. Setelah itu, asap hitamnya sedikit berkurang. Lama kelamaan, sudah tidak terlihat asap sedikitpun. Dan, sosok perempuan itu hilang hanya menyisakan keris saja.
Kemudian keris itu bergerak kearah luka Riana diperut, keris itu kemudian terlentang diatas perut Riana seolah ingin meresap lukanya.
Tidak lama, aku melihat luka Riana sudah mulai mengering dan menit kemudian luka nya tertutup. Mataku terbelalak tidak percaya, tapi inilah yang terjadi.
Cukup lama aku menunggu, hingga Riana mengerakkan tubuhnya pelan.
"Nduk, kamu sudah sadar." ucapku bahagia
Riana mulai membuka kelopak matanya pelan, kemudian menutup nya kembali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata nya. Ia membuka mata lagi, dan mengerjap ngerjap.
__ADS_1
"Nduk, akhirnya." ucapku seraya menangis bahagia
"A..aku kenapa mbok?" ucapnya
Akupun menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir tanpa terkecuali.
Ia hanya mengangguk, aku dapat melihat matanya yang gelap. Seolah tidak ada kebaikan disana, hanya ada tatapan kosong yang siap membunuh.
"Aku akan mencari para sia*an itu mbok." ucapnya dengan sorot mata tajam yang siap membelah apa saja
Ia menggeretakkan giginya hingga bergemulutuk, rahang nya yang sudah mengeras.
"Iya nduk, kamu harus cari mereka kamu harus balas mereka." ucapku ikut emosi
Bukan ingin mengompori, tapi siapa yang tidak sakit hati dan emosi melihat kelurga tercerai berai seperti ini. Aku sudah bekerja dengan pak lurah Pramono saat masih muda, hingga aku menikah dan suamiku meninggal aku masih bekerja disana.
Aku tau, pak Pramono tidak punya musuh sampai seperti ini. Mereka sekeluarga sangat baik, ramah terhadap siapapun. Mereka tidak akan berfikir dua kali, untuk menolong orang.
Aku yang menyaksikan semua kejadian yang menimpa mereka, cukup sakit hati dan emosi.
"Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia mbok, aku akan membuat mereka menderita dan mati perlahan." ucapnya penuh penekanan
"Iya nduk." aku mengangguk setuju
"Sudah kamu istirahat dulu saja, biar mbok yang siapkan semua." ucapku ia hanya mengangguk
Untunglah belanjaan tadi kami bawa walaupun dalan keadaan genting, dan gubuk ini cukup lengkap karna pernah menjadi tempat tinggal mbah Kasum. Ada sumur dibelakang, ada dapur juga dan peralatan memasak.
Walaupun gubuk ini tidak besar, aku lekas mengerjakan semua. Aku merapikan pakaian kami terlebih dahulu, kemudian aku kedapur untuk memasak bahan makanan yang kami beli tadi, dan memasak air panas untuk mandi Riana.
__ADS_1